Sinyal buruk

tax graph illustration designSetelah melalui kuartal I-2015, kondisi perekonomian Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebaliknya, ada indikasi kondisi ekonomi mulai mencemaskan. Di satu sis, neraca perdagangan kita memang semakin menggembirakan. Hantu deficit selama setahun terakhir sudah sirna. Neraca dagang selama tiga bulan pertama surplus US$ 2,4 miliar.

Namun, di sisi lain, kinerja pemerintah dalam mengelola anggaran negara mengecewakan. Bagaimana tidak, deficit anggaran tiga bulan pertama 2015 hampir mencapai Rp 100 triliun atau separo dari target deficit tahun ini. Selama kuartal I-2015, pendapatan negara mencapai Rp 273,4 triliun sedang belanja negara mencapai Rp 367,1 triliun. Dus, terjadi deficit anggaran sekitar Rp 93,7 triliun. Padahal, pada periode sama 2014, anggaran masih surplus Rp 2,2 triliun.

Salah satu biang keladi melempemnya pendapatan negara adalah penerimaan pajak yang minim. Realisasi penerimaan pajak sebesar Rp 198,23 triliun atau cuma 15,32% dari target pajak dalam APBN-P 2015. Bandingkan dengan pencapaian pada periode sama tahun lalu, yang sebesar 19,2% dari total target penerimaan pajak tahun 2014.

Penerimaan pajak kuartal I-2015 merupakan yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Kalau sudah begitu, jangan heran kalau pemerintah akan semakin getol memajaki wajib pajak dan objek pajak.

Hal itu tentu bakal kian menambah beban masyarakat dan pengusaha. Ujung-ujungnya, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa terganggu. Pemerintah pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I tidak terlalu bagus. Sebelumnya, pemerintah merevisi turun proyeksi pertumbuhan tahun ini dari 6,3%-6,9% menjadi 6% -6,6%.

Tanda-tanda perlambatan ekonomi bisa dilihat dari sektor otomotif dan semen. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil selama kuartal I-2015 Cuma 282.569 unit atau turun 14% dari periode sama 2014. Tampaknya program infrastruktur yang menjadi focus utama pemerintahan belum mampu menggerakkan berbagai sektor industri.

Kalau melihat sejumlah pencapaian mengecewakan di atas, pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk memacu perekonomian. Berhentilah beretorika atau berharap sentiment positif dari luar negeri. Sekarang, merah-kuning-hijau si rapor perekonomian negara ini ada di tangan pemerintah.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar