Kominfo, Mesin Sensor Porno Rp 211 Miliar Kok Pakai Metode Kuno?

Foto: BBC Magazine

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mulai awal 2018 akan memanfaatkan mesin sensor internet untuk menangkal konten negatif di internet, khususnya pornografi dan hoax. Namun metode yang dipakai dalam sensor ini menuai kritikan dari sejumlah praktisi keamanan internet.

Praktisi keamanan internet Vaksincom Alfons Tanujaya, misalnya. Ia berpendapat bahwa metode yang digunakan mesin sensor Kominfo memiliki banyak keterbatasan. Setidaknya, ada dua hal yang menjadi catatannya.

“Kalau kita lihat, metode yang digunakan web crawling metodenya sama dengan mesin pencarian Google. Seberapa mampu dia mampu meng-crawl sebanyak itu? Sementara web internet itu kan banyak. Dan ini yang dilawan manusia, bukan mesin,” kata Alfons saat berbincang dengan detikINET, Selasa (10/10/2017).
Web crawl adalah program atau script otomatis yang relatif simple, yang dengan metode tertentu melakukan pemindaian atau menyusuri ke semua halaman internet untuk membuat index dari data yang dicarinya.

Alfons melihat metode sensor ini sangat mudah diakali. Dia mencontohkan, ketika penjahat cyber membuat situs porno atau konten hoax, mereka akan melihat cara kerja mesin sensor. Dengan demikian, konten mereka akan tetap bisa diakses.

“Misalnya konten porno saat di-crawl itu terus diblok, dia bisa bikin porno 2, porno 3 dan sebagainya. Dia bisa pakai web forward, pakai URL shortener. Nggak efektif,” sebutnya.

Berani Blokir Facebook dan Google?

Poin kedua yang menjadi perhatiannya adalah, konten negatif yang beredar di internet saat ini sebagian besar bersumber di media sosial. Jadi, memblokir konten negatif di web menjadi kurang tepat sasaran.

“Web itu sekarang bukan interaksi utama. Sekarang orang larinya ke medsos. Taruh konten porno atau hoax di Facebook atau YouTube. Dia bisa gak crawl ke Facebook atau Google? Gak bakal dikasih. Apa berani blokir Facebook dan YouTube?” sebutnya.

Alfons berharap, pemerintah bisa membuat terobosan, atau paling tidak menggunakan teknologi lain yang lebih efektif untuk menangkal konten negatif di internet. Menurutnya, Indonesia bisa belajar dari negara-negara lain yang sukses menerapkan sensor internet.

“China dan Amerika itu bisa jadi contoh, idealnya kita berada tengah-tengah antara keduanya. Nggak terlalu seperti China tapi nggak sebebas Amerika,” kata Alfons.

Dia juga berpendapat, dana ratusan miliaran untuk sebuah sistem sensor yang masih mengadopsi metode lama dinilainya kemahalan.

“Harusnya kerjaannya dibalik jangan metode blacklist. Akan repot kalau ngikutin web-web yang baru, lalu diblokir. Lagipula blacklist itu metode 15 tahun lalu. Jadi rasanya keluar duit ratusan miliar untuk itu kemahalan,” papar Alfons.

Menurutnya, akan lebih efektif jika pemerintah menggunakan metode whitelistseperti China. Caranya, dengan memblokir dulu semua web, baru kemudian membuat daftar web mana saja yang boleh dibuka.

“Lebih simpel dan efektif. Karena arahnya sekarang semua ke sana, antivirus pun sekarang begitu. Kalau ada duit ratusan miliar masa gak bisa bikin kaya gitu. Malah kalau bikin terobosan kaya gitu whitelist kita nanti bisa dicontoh,” tutupnya.

Sumber : detik.com

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Artikel

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: