Jakarta. Prospek harga batubara kian suram. Pemicunya, sejumlah negara telah mengurangi penggunaan bahan bakar fosil ini. Maklum, bahan bakar ini dinilai tidak ramah lingkungan.
Mengutip Bloomberg, senin (6/7), harga batubara kontrak pengiriman agustus 2015 di ice futures Europe turun 0,42% menjadi US$ 58,70 per metrik ton. Koreksi harga sudah berlangsung empat hari berturut-turut, dengan penurunan mencapai 1,54%. Dibandingkan dengan akhir tahun lalu, harga batubara saat ini sudah turun sekitar 2,34%.
Research and analyst fortis asia futures deddy yusuf siregar menyebutkan bahwa tiongkok sedang giat memangkas penggunaan batubara. Targetnya, pada akhir tahun ini porsi penggunaan batubara sebagai sumber energi turun menjadi 62%, dari porsi saat ini sebesar 64%. Ini merupakan level terendah dalam 15 tahun terakhir.
Analis pefindo Guntur tri hariyanto menambahkan, pemerintah China mendesak pengurangan penggunaan batubara sebagai sumber energi untuk mengurangi emisi gas. Sebab, data international energy agency (IEA) menyebutkan, bahan bakar ini menyumbang sekitar 44% emisi gas karbon yang mencemari lingkungan di China.
Selain itu, india juga terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor batubara. Salah satu caranya, membuka program ekspansi solar di lima kota dengan biaya sekitar US$ 300 juta.
Perdana menteri india Narendra Modi mendorong penggunaan hingga 100 gigawatt untuk tenaga solar pada tahun 2022 mendatang. Jumat itu naik 4,1 gigawatt dibandingkan saat ini.
Bahkan, Australia dan Amerika Serikat juga melakukan aksi meminimalisir penggunaan batubara. “Sudah tidak ada lagi pembangkit listrik batubara yang baru dibangun, dan diperkirakan kontribusi batubara bagi pembangkit listrik di as hanya tinggal 13% pada tahun 2030,” papar Guntur, selasa (7/7).
Harga batubara semakin terdesak seiring tumbangnya harga minyak mentah di pasar global dan penguatan nilai tukar dollar AS. Sekadar gambaran, selasa (7/7) pukul 14.20 WIB, indeks dollar AS naik 0,15% menjadi 96,44.
Masih sulit bangkit
Tidak heran, spekulasi bakal melonjaknya permintaan batubara akibat gelombang panas di eropa, gagal mengangkat harga batubara.
Asal tahu saja, saat ini, gelombang panas menerpa Jerman, Prancis, Austria, dan Swiss. Suhu udara diperkirakan mencapai 25 derajat celcius sampai 29 derajat celcius atau di atas rata-rata musim, yaitu sekitar 6 derajat celcius hingga 7 derajat celcius. Kondisi tersebut diperkirakan bisa mendongkrak permintaan bahan bakar batubara untuk pendingin ruangan. “Tapi, sentimen tersebut tak mampu mengangkat harga, sebab sentimen fundamental permintaan global yang merosot,” jelas Guntur.
Upaya sejumlah negara menyesuaikan diri dengan isu lingkungan jelas akan menggerus permintaan batubara di pasar global. Itu sebabnya menurut penilaian Guntur, prospek harga batubara semakin lemah.
Deddy sependapat bahwa harga batubara sulit bangkit. Sebab, tidak ada faktor fundamental yang bisa mengangkat harga batubara.
Tak hanya di luar negeri, Indonesia pun berniat mengganti penggunaan batubara dengan pelet kayu (wood pellet). Dengan jumlah kalori yang hampir serupa dengan batubara, pelet kayu lebih ramah lingkungan, sehingga menjadi pilihan yang potensial.
Ia menduga, hingga penghujung tahun ini, harga batubara masih cenderung turun ke kisaran US$ 54 hingga US$ 56 per metrik ton.
Secara teknikal, kata Deddy, saat ini, harga batubara masih konsolidasi. Harga bergerak di atas moving average (MA) 50 dan 100. Indikator ini masih positif. Lalu, moving average convergence divergence (MACD) juga masih di garis positif 0,69.
Indikator relative strength index (RSI) berada di level 54. Namun, stochastic sudah berada di level 17.
Prediksi Deddy, sepekan ini, batubara akan bergerak di kisaran antara US$ 57,80 hingga US$ 59 per metrik ton. “Hari ini, harganya bisa turun ke kisaran US$ 58,10 sampai US$ 58,95 per metrik ton,” ujarnya.
Sementara, Guntur menebak, hingga akhir pekan nanti, harga komoditas energy ini bisa menuju level support US$ 57 per metrik ton, dengan resistence di level US$ 58 per metrik ton.
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar