Memaknai Lampu Kuning Industri Waralaba

indexTabloid KONTAN (27 Juli – 2 Agustus 2015), mengulas “lampu kuning” industri waralaba dengan indikasi melemahnya pertumbuhan waralaba yang sempat mencapai 300% pada 1998-2003 dan kini tinggal 10%. Itu pun didominasi waralaba asing. Waralaba lokal megap-megap.

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap lemahnya waralaba lokal kita adalah maraknya praktik bootstrap franchising. Istilah bootstrap mengacu pada teknik yang digunakan pebisnis untuk memanfaatkan sumber daya terbatas yang dimiliki dan menggunakan sumber daya pihak lain, jika memungkinkan. Sumber daya itu diperoleh dengan meminta, meminjam atau leasing, dan apapun yang dibutuhkan untuk memulai usaha.

Bootstrapping dipandang sebagai model untuk memulai bisnis tanpa uang, atau paling tidak dengan uang tidak dapat disediakan oleh pebisnis sendiri (Allen, 2012). Praktik bootstrap sangat rawan dengan pelanggaran etika yang dapat merusak kredibilitas pebisnis.

Dalam bisniis waralaba yang benar, pewaralaba mestinya telah menyiapkan sistem bisnis yang mapan dan telah teruji kehandalannya. Hal ini sesuai dengan kriteria waralaba yang dipersyaratkan, yaitu setelah memiliki sistem bisnis yang terbukti menguntungkan.

Pada praktiknya, banyak pewaralaba menggunakan franchise fee yang dibayarkan oleh terwaralaba sebagai modal usaha, terutama untuk modal ekspansi. Mereka sebetulnya belum siap karena belum meiliki sistem operasi, pelatihan, dan aspek lain yang telah teruji untuk menjalankan bsinis waralaba. Pada saat itu, justru mereka sedang “mencari-cari” format yang tepat untuk menjalankan bsinisnya atau bisnis waralaba yang masih under construction.

Tidak sedikit pula yang meniadakan royalty fee sebagai iming-iming untuk menarik calon terwaralaba. Padahal, pendapatan dari royalty fee seharusnya digunakan untuk membiayai kegiatan operasional waralaba seperti memberikan pelatihan berkelanjutan kepada terwaralaba dan dukungan quality control ke seluruh gerai.

Pewaralaba bertumpu pada franchise fee untuk memperkuat modal atau margin keuntungan dari suplai bahan baku, perlengkapan, dan peralatan usaha. Bisnis waralaba tak ubahnya transaksi antara agen dan penjual, padahal relationship yang kuat menjadi modal utama untuk kesuksesan.

Memang. Praktik bootstrap franchising tidak selalu harus berakhir dengan kegagalan. Namun fakta menunjukkan bahwa tanpa disertai perbaikan pengelolaan manajeman waralaba, hanya sedikit warabala model seperti ini yang bertahan. Terwaralaba malah banyak yang merasa dibohongi dan kapok berinvetasi di bisnis waralaba.

 

 

1Kualitas Pertumbuhan

Sebelum lampu kuning menjadi merah, pelaku bsinis waralaba hendaknya memahami secara utuh model bisnis waralaba. Pertama model bisnis waralaba lebih sesuai diterapkan pada bisnis yang telah mapan. Mapan dalam arti tidak kekurangan sumber daya yang berkualitas, memiliki sumber daya finansial yang cukup, memiliki sistem bisnis yang telah teruji, dan pasti telah terbukti menghasilkan lantaran reputasi mereknya yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Bsinis waralaba tidak sesuai untuk usaha yang baru rintis dan mereknya juga masih dalam tahap pembangunan untuk dikenal.

Kedua, bisnis waralaba sejatinya merupakan resep pewaralaba untuk “menularkan” sukses kepada terwaralaba. Karena itu, pewaralaba harus sukses terlebih dahulu, bukan malah sedang merintis sukses. Atau pewaralaba tidak terjebak dalam pemikiran bahwa waralaba adalah jalan pintas membuat pebisnis cepat “kaya”.

Ketiga, model bisnis waralaba hanya salah satu dari sejumlah model bisnis yang dapat diaplikasikan pebisnis untuk mendorong pertumbuhan usaha. Tak selalu waralaba menjadi opsi utama untuk membuat bisnis tumbuh cepat. Perlu perhitungan cermat untuk membandingkan di antara sekian alternatif yang tersedia.

Bagi pebisnis yang telah “kejebur” sebagai boostrap franchisor, tentunya tidak ada pilihan lain kecuali segera membenahi manajemen waralaba yang dijalankan. Bila langkah-langkah perbaikan belum cukup untuk membenahi segala permasalahan yang timbul, rehat sejenak dari bisnis waralaba, sambil menyiapkan model bisnis yang lebih bagus, tentu tiada salahnya. Mengejar kuantitas pertumbuhan memang penting, tetapi pertumbuhan berkualitas menentukan keberlanjutan bisnis waralaba jangka panjang.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar