Selain Kalah Devisa, Kita Kalah Penerimaan Pajak

toyota-mobilMeski dinilai agak terlambat, pemerintah mulai turun tangan melindungi pasar dalam negeri dari serbuan barang impor. Satu jurus yang diambil pemerintah akhir bulan lalu adalah menaikkan bea impor terhadap sejumlah produk barang konsumsi hingga 50%.

Memang, ada efek yang bisa dicapai dengan kenaikan bea impor. Salah satunya adalah meningkatkan penerimaan negara. Namun pemerintah menyebut tujuan utama kenaikan bea impor. Salah satunya adalah meningkatkan penerimaan negara. Namun pemerintah menyebut tujuan utama kenaikan bea impor kali ini bukan mengerek pendapatan bea, melainkan memperkuat industri di dalam negeri.

Layaknya setiap kebijakan, niat memperkuat industri dalam negeri juga punya efek sampingan. Nah, salah satu yang terkena dampak dari kenaikan bea impor adalah para importir kendaraan bermotor. Melihat harga mobil impor yang melejit setelah bea impor naik, para pebisnis otomotif pun pesimistis target kenaikan investasi di sektor otomotif bisa tercapai. Untuk mengetahui apa dampak aturan ini bagi industri otomotif, wartawan Tabloid Kontan Surtan Siahaan mewawancarai Muhammad Al Abdullah, Chief Executive Officer (CEO) PT Garansindo Inter Global, agen pemegang merek mobil Jeep, Chrysler, dan Fiat, dua pekan lalu. Berikut nukilan wawancaranya:

KONTAN : Bagaimana Anda melihat PMK Nomor 132 Tahun 2015?

MUHAMMAD : Ide PMK Nomor 132 secara keseluruhan bagus sekali. Seharusnya peraturan ini diterbitkan lebih cepat karena peraturan ini kabarnya sudah digodok sejak tahun lalu. Maksudnya, ide yang ada dalam aturan itu memang harus dilakukan demi menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN juga melihat perekonomian kita yang melambat.

Tetapi yang membuat kami bingung, kok aturan ini juga diberlakukan ke otomotif. Saya melihat ini ketidaktelitian pemerintah. Siapa yang tidak teliti saya tidak tahu. Saya coba menelusuri, tetapi saya tidak bisa menyebut nama. Hanya memang koordinasi beberapa pejabat tidak terlalu solid.

KONTAN : Koordinasi yang lemah ini di antara kementerian apa? Bisa dicontohkan?

MUHAMMAD : Ya seperti antara pejabat di Kementerian Keuangan (Kemkeu), Kementerian Perindustrian (Kemperin), dan Kementerian Perdagangan (Kemdag). Contoh soal pakaian bekas yang akhirnya dikoreksi dengan alasan timing. Kemkeu merilis PMK Nomor 132 Tahun 2015 yang menaikkan bea impor pakaian bebas. Artinya, PMK ini hanya ideologinya yang bagus, tetapi lampirannya tidak teliti.

KONTAN : Mengapa anda kaget aturan ini juga berlaku untuk otomotif?

MUHAMMAD : Saya pernah bicara secara gamblang. Saya tanya apa tujuan pemerintah mengenakan kenaikan bea untuk otomotif? Kalau yang lain kita boleh setuju. Toh, tidak ada yang protes juga. Mengapa? Karena aturan ini akan merangsang industri lokal untuk membuat es krim, kopi, kondom. Benar karena memang sudah ada pasokan dalam negerinya. Artinya, kalau produsen dalam negeri tidak dilindungi, mereka akan mati. Aturan ini memang bertujuan untuk merangsang industri dalam negeri yang sudah ada untuk berkembang. Contohnya kalau menginginkan es krim, orang yang punya uang bisa membeli produk impor yang mahal. Nah, mereka yang tidak punya uang, ya beli saja produk lokal. Ada substitusi.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil bilang, PMK ini untuk barang konsumtif dan yang memiliki substitusi di dalam negeri. Nah, untuk otomotif tidak ada sama sekali substitusinya. Saya punya data, sekitar 95% mobil impor, dari total 150.000 lebih, diimpor melalui mekanisme AFTA. Sisanya, atau 5%, diimpor dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Jumlahnya tidak sampai 10.000. Ini yang saya bilang tidak teliti. Kalau mobil yang diimpor dari AFTA porsinya kecil, ya kebijakan ini tepat. Sekarang, mobil completely knock down (CKD) tidak kena, completely built up (CBU) kena, tetapi CBU yang diimpor dari AFTA tidak kena. Padahal, mobil yang diimpor dari AFTA 95%. Pertanyaannya, apakah keputusan ini sudah melalui simulasi sebelum dirumuskan? Kalau mau mengecilkan keran impor, mengapa memilih impor yang porsinya hanya 5%?

Anggap pemerintah menyatakan PMK ini berhasil menghemat devisa. Pertanyaan saya, impor dari AFTA yang porsinya 95% itu tetap saja impor dari luar negeri yang menyedot devisa. Datanya, impor dari Thailand dalam waktu lima bulan saja mencapai US$ 760 juta. Artinya, pelaku bisnis tetap akan mengimpor. Apa yang akan saya lakukan sekarang adalah mencari akal bagaimana prinsipal saya segera membuat pabrik di negara yang masuk dalam free trade agreement (FTA) dengan Indonesia.

8KONTAN : Mengapa anda sebagai agen pemegang merek tidak mendorong prinsipal membuat pabrik di sini?

MUHAMMAD : Saya sudah hampir tiga tahunan berjuang membujuk prinsipal saya, Fiat Chrysler, untuk memilih Indonesia sebagai basis produksi. Tetapi mereka menagih kepastian regulasi. Kita sekarang melihat Thailand. Kendati di sana berulang kali ada kudeta, namun regulasi bisnisnya tidak berubah-ubah. Makanya investor tetap merasa lebih tenang di sana. Chaos seperti apa pun, regulasinya steady. Saya kutip pernyataan Pak Jongkie Sugiarto, yang merupakan agen Hyundai. Mereka bisa menikmati Korean Free Trade. Prinsipalnya, Hyundai, mikir mengapa repot-repot mau investasi, kalau bea impor dari Korea tetap nol persen. Ini jelas kontradikftif. Sekarang beri saya penjelasan di mana positifnya lampiran PMK untuk otomotif? Pasar untuk CBU non-FTA turun targetnya 20%. Padahal, sebelum ini, pasar kita sudah turun 25%. Anggap saja, PMK ini menyasar CBU dari Amerika dan Eropa dengan kenaikan bea masuk sebesar 50%. Pasar yang tinggal 10.000 unit, akan turun lagi 20%, atau 2.000 unit. Tapi pasar mobil impor dari FTA otomatis akan naik. Berarti? Devisanya tetap saja lari. Prinsipal saya mungkin tahun depan pindah ke China.

Penggunaan devisa yang tidak berkurang, malah bisa jadi lebih banyak, akan membuat neraca perdagangan Indonesia lebih jatuh. Lalu, prinsipal yang tidak punya pabrik di sini, seperti Hyundai menilai perubahan regulasi seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan bea impor yang mendadak; akan berpikir untuk apa mereka investasi? Mereka akan mencari negara lain yang lebih stabil aturannya.

KONTAN : Lalu bagaimana kabar perjuangan anda megajak prinsipal masuk?

MUHAMMAD : Yang bikin saya paling sedih adalah hilangnya kesempatan meyakinkan prinsipal untuk berinvestasi. Contoh konkrit adalah keputusan GM menutup pabrik. Untung mana antara membuka pabrik di sini yang skala ekonominya tidak tercapai, dengan mengimpor dari negara yang memiliki FTA? Ini bukti betapa kontradiktifnya PMK ini. Jelas kita kehilangan investasi, lapangan pekerjaan.

Dirjen Pajak yang sedang pusing mencapai target pajak, akan tambah pusing lagi. Di satu sisi, penerimaan dari bea impor turun, di sisi lain devisa lari ke luar negeri untuk membayar impor dari negara-negara FTA, seperti Thailand, Jepang. Ini tekor dua kali namanya. Kalah devisa, kalah penerimaan impor. Dalam jangka panjang, efeknya adalah kehilangan kesempatan membujuk prinsipal berinvestasi ke sini.

KONTAN : Bisa tidak memanfaatkan FTA ini untuk memperbesar laju ekspor? Bukankah produk dari sini juga mendapat tarif 0%?

MUHAMMAD : Ini yang kita sayangkan. Mengapa tidak membuat peraturan yang memperkuat daya saing produksi dalam negeri yang berorientasi ekspor. Kalau pemerintah lebih teliti, di pasar dunia, segmen paling besar adalah sedan dan mobil 4×4. Gaikindo sudah berapa kali melobi pemerintah untuk menurunkan PPnBM mobil sedan. Mengapa? Karena prinsipal yang sudah punya pabrik di sini tetap tidak mau memproduksi sedan di sini. Ambil contoh Toyota Corolla dan Camry, semuanya diimpor dari Thailand. Nissan juga demikian. Mereka tidak mau memproduksi sedan di sini karena penjualan sedan tidak tinggi, gara-gara PPnBM sedan tinggi. Jadi bagaimana mau menaikkan ekspor, apabila fondasinya tidak disiapkan.

KONTAN : Anda sempat menyebut PMK ini bertentangan dengan aturan pemerintah yang lain. Contohnya apa?

MUHAMMAD : Dalam situasi sekarang, pasar otomotif hancur. Bank ikut pusing karena kredit konsumsi turun. Institusi lain berusaha membantu, karena bagaimanapun salah satu indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah penjualan otomotif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah melonggarkan ketentuan loan to value (LTV) untuk mendorong penjualan. Tapi ini muncul PMK yang semangatnya kontradiktif. Ini terkesan kebijakan yang panik dan tanpa koordinasi.

1KONTAN : Asosiasi pebisnis tidak pernah mendengar rencana perubahan bea masuk?

MUHAMMAD : Kemperin menyebut pernah ada konsultasi dengan pelaku usaha. Tapi saya tanya ke Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), tidak ada itu.

KONTAN : Anda berniat melakukan upaya hukum?

MUHAMMAD : Anda lihat yang teriak-teriak Cuma saya doang. Yang lain hanya ngeluh. Teman-teman yang lain sudah patah arang. Percuma. Pemerintah sudah tahu kebijakan ini salah, tetapi mereka tidak mau mengakuinya.

KONTAN : Menurut Anda, pemerintah seharusnya melakukan koreksi?

MUHAMMAD : Jika pemerintah mau bersikap kesatria. Kalau memang banyak kerugian dari aturan ini, akui saja dan revisi. Publik akan menghargai. Kalau hasil simulasinya bagus, ya, kami amin saja. Tetapi tolong melihat secara global, jangan sepotong-sepotong.

KONTAN : Apa strategi Anda untuk mengamankan penjualan setelah bea impor naik?

MUHAMMAD : Kita bisa lihat semua menjerit di semester I. Angka penjualan kemarin bisa mencapai 500.000 unit karena banyak model baru. Tapi jika jujur, semua babak belur. Untuk kami, yang penting saat ini adalah bagaimana caranya tetap jualan hingga bisa survive.

Untuk langkah ke depan, saya sudah bicara dengan prinsipal saya kemarin. Kami berusaha agar produksi Jeep dan Fiat setir kanan dari China dipercepat. Jadi kami akan memanfaatkan FTA untuk kelangsungan bisnis Fiat Chrysler di Indonesia. Sekarang mereka punya basis produksi di China dan India. Padahal, sudah dua tahun ini prinsipal saya mondar-mandir ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kami juga berusaha menjaga loyalitas konsumen agar penjualan tetap terjadi. Ya kami harus mengorbankan marjin.

KONTAN : Menurut anda, dari PMK yang terkesan kontradiktif ini, apa ada pebisnis otomotif yang diuntungkan?

MUHAMMAD : Yang memegang mayoritas pasar memang senang dengan aturan ini. Tapi saya tidak punya bukti, tidak punya apa-apa. Ambil contoh Ford dan Mazda sudah memetik benefit, untuk apa lagi mereka harus repot-repot berinvestasi di sini? Tidak ada insentif berinvestasi di sini, tidak seperti di negara lain. Jadi, siapa yang mendapat maslahat, kecuali pemain-pemain besar yang bisa mendapat untung tanpa berinvestasi, seperti Mazda, GM, dan Ford.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: