Isyarat Harga Bahan Pangan Dunia Naik

Negara anggota WTO sepakat menghapus subsidi ekspor produk pertanian

JAKARTA. Negara anggota organisasi perdagangan dunia (WTO) sepakat menghapus subsidi ekspor untuk produk pertanian. Kesepakatan ini dicapai dalam konferensi tingkat menteri ke-10 di Nairobi, Kenya, pekan lalu.

Menurut penjelasan resmi WTO, negara-negara maju berkomitmen menghapus subsidi langsung bagi ekspor produk pertanian. Bagi negara berkembang, ketentuan ini berlaku mulai tahun 2018. Ini kemajuan yang besar dan bisa mengurangi distorsi perdagangan, “ ujar Thomas Trikasih Lembong, Menteri Perdagangan Indonesia, Senin (21/12).

Selama ini, subsidi ekspor produk pertanian oleh negara maju selama ini kerap memicu persaingan tidak sehat dalam perdagangan komoditas global. Alhasil, pertanian negara berkembang sulit bersaing dengan negara maju.

Bagi Indonesia, keputusan ini bisa mengakibatkan harga produk pertanian impor dari negara maju jauh lebih mahal dari saat ini. Sebab produk pertanian dan negara asal tak lagi disubsidi. Padahal Indonesia masih mengimpor sebagian besar produk pertanian seperti jagung, gandum, dan kedelai.

Jagung misalnya. Sebagian besar kebutuhan jagung di Indonesia, terutama untuk bahan baku pakan ternak, masih impor. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Utomo memperkirakan, keputusan WTO pekan lalu akan berimbas pada kenaikan harga jual produk pakan ternak.

Produk pakan ternak Indonesia saat ini menggunakan 83% jagung dan kedelai impor. “Itu diimpor dari negara maju,” ujar Desianto. Menurut Desianto, 30% jagung impor dari Amerika Serikat. Sisanya Brasil, Argentina, India, dan Ukraina.

Adhi Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmi) melihat, Kebijakan WTO ini berdampak pada kenaikan harga makanan berbahan baku impor, misalnya berbasis gandum. “Pasti berpengaruh, tapi tidak bisa diambil rata-rata kenaikannya. Sebab kebijakan setiap negara berbeda,”kata Adhi.

Berbeda dengan jagung dan gandum, importer kedelai melihat keputusan WTO ini tidak akan mengerek harga kedelai di pasar global. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Yus’an, selama ini Indonesia mengimpor kedelai dari Amkerika Serikat yang memiliki skala produksi besar.

Dengan skala produksi yang besar dan teknologi canggih, para petani kedelai di AS bisa menjual produknya dengan harga kompetitif. Alhasil, jika subsidi ekspor dicabut, dampaknya tidak signifikan bagi petani kedelai Amerika. “Saya kira harga kedelai tidak bergejolak,” ujar Yus’an.

Sisi Positif

Secara umum, Juan P Adoe, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Pangan Strategis menilai, petani negara maju tak akan serta merta mengerek harga jual produknya kendati tak lagi menikmati subsidi ekspor. Mereka tetap melihat trend an perkembangan pasar. “Sebab harga ditentukan mekanisme pasar, “katanya.

Taruh kata harga pangan impor jadi mahal gara-gara keputusan WT. Sisi positifnya, pengguna pangan impor bisa melirik produk pangan lokal sebagai subsitusi pangan impor. Alhasil, kata Edy Putra Irawady, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Menko Perekonomian, pekerjaan rumah pemerintah adalah memperbaiki daya saing produk pertanian, utamanya di pasar global.

Toh, masih ada persoalan lain yang tak kalah pelik. Rupanya tidak semua jenis bahan pangan bisa diproduksi di dalam negeri, lo.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: