JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu mengeluarkan peringatan super serius! Pertumbuhan Ekonomi yang mulai tampak membaik di akhir 2015 nyatanya semu.
Ini tercermin dari belanja masyarakat yang turut menjadi pendorong ekonomi di 2015. Dengan kenaikan upah yang mini tahun lalu, “Masyarakat menarik dana dari tabungannya untuk mendorong ekonomi,” tandas Juda Agung, Direktur Eksekutif BI. Utamanya, mereka yang punya simpanan di bawah Rp 2 Miliar.
Sinyal ini jelas bukan sinyal yang baik lantaran pertumbuhan ekonomi dari konsumsi nyata harus menguras simpanan masyrakat. Makanya, BI minta agar pemerintah serius mendorong konsumsi masyarakat, utamanya dari golongan menengah. Selain mendorong belanja pemerintah, investasi swasta juga harus digeber. Upaya jangka pendek yang bisa dilakukan, salah satunya dengan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada, M Fahmy Radni menyebut, gas industri serta harga gas rumah tangga harus dipangkas.
Dengan harga minyak proyeksi US$ 25 per barel serta harga minyak Mean of Platts Singapore(MOPS), harga solar mestinya turun menjadi Rp 4.000 seliter, dar saat ini Rp 5.650 seliter.
Dengan harga solar MOPS saat ini Rp 3.500 per liter, ditambah biaya distribusi serta margin Pertamina dan SPBU Rp 1.500 per liter, harga keekonomian solar Rp 5.000 per liter. Adapun solar subsidir menjadi Rp 4.000 per liter.
“Harga premium tak jauh beda. Potensi turun bisa menajdi Rp 5.500 per liter,” kata Fahmy. Adapun tarif listrik bisa turun Rp 100 hingga Rp 150 per kilowatt hours (kwh).
Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, tarif listrik akan mengikuti penurunan harga minyak dunia. “Kalau BBM dan inflasi turun, tarif listrik juga turun,” katanya, Minggu (24/1). Sayang Sofyan enggan memastikan penurunan tariff PLN.
Dengan dalih masih menghitung indicator penuruanan: yakni ICP, kurs dollar AS, dan inflasi, kebijakan tarif listrik akan dilakukan untuk 12 golongan. “Tunggu pengumuman 1 Februari saja,” ujar Manajer Senior Public Relations PLN Agung Murdifi.
Lantas bagaimana dengan harga BBM? Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian Koodinator Ekonomi Montty Giriana. Montty mengatakan, penurunan harga minyak dunia harus diikuti penurunan harga premium dan solar. “Jika harga minyak dunia turun, mau tak mau, kami juga akan turunkan harga BBM lagi,” kata Montty, ke KONTAN, (22/1).
Masalahnya, pemerintah baru mengevaluasi harga BBM pada bulan Maret, dorongan ekonomi, lewat konsumsi masyarakat akan berefek minim, di tengah tekanan ekonomi global.
Ekonom Core Indonesia Mohammad Faisal bilang, penurunan harga energy berpotensi mengangkat pertumbuhan ekonomi. Jadi “Pemerintah harus bisa memanfaatkan momentum saat ini, “ ujar dia.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar