Masa Puncak Jatuh Tempo Utang

Nilai utang jatuh tempo tahun ini Rp 321 triliun, cermati dampaknya.

JAKARTA. Waspadalah! Tahun ini Indonesia sedang berada di puncak gunung utang jatuh tempo.

Menurut data yang dikompilasi KONTAN, per 17 Februari 2016, total nilai surat utang(obligasi) yang jatuh tempo tahun ini mencapai sekitar Rp 320,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari surat utang negara (SUN) yang wajib dilunasi sekitar Rp 268,06 triliun, sementara obligasi korporasi yang jatuh tempo setahun ke depan mencapai senilai 522,83 triliun.

Tahun depan, nilai jatuh tempo obligasi korporasi sekitar Rp 63,94 triliun. SUN jatuh tempo senilai Rp 88,2 triliun.

Toh, Analis infovesta Utama Beben Feri Wibowo menilai situasi saat ini masih wajar. Kendati utang jatuh tempo mencapai puncak, peluang gagal bayar terbilang minim.

Menurut Doddy Arifanto, Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), utang pemerintah masih aman. Saat ini rasio utang terhadap produk domestic bruto (PDB) Indonesia sekitar 27,3%. “Utang korporasi juga tak ada penurunan rating yang drastis,” kata Doddy kepada KONTAN, kemarin.

Yang patut diwaspadai, rebutan dana bakal panas. Tahun ini kemungkinan akan banjir penerbitan obligasi di dalam negeri untuk melunasi utang jatuh tempo itu.

Potensi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia dan BI rate makin mendorong korporasi merilis obligasi, bahkan berpeluang melebihi nilai utang jatuh tempo.

Kalkulasi analis Capital Asset Management Desmon Silitonga, penerbitan surat berharga negara (SBN) bakal melebihi target tahun ini, yaitu Rp 542,57 triliun (gross). Sekitar 46% atau Rp 249 triliun berupa SUN domestic.

Apalagi, proyek pembangunan infrastruktur pemerintah membutuhkan dana besar. “Jika pendapatan pajak tidak sesuai harapan, besar potensi pemerintah menambah sumber pendanaan dari Surat Berharga Negara (SBN),” tuturnya.

Analis Sucorivest Central Gani Ariawan memprediksi, penerbitan obligasi korporasi anyar bakal mencapai Rp 60 triliun- Rp 65 triliun tahun ini. Tahun depan diproyeksi lebih tinggi 10%-20% dari realisasi penerbitan tahun ini.

Ariawan menilai, selain kebutuhan refinancing, penerbitan obligasi menjadi sumber pendanaan menarik bagi perusahaan yang berniat ekspansi. Ada tren penurunan yield surat utang sejak awal tahun ini seiring penurunan BI rate. “Apalagi, masih ada ruang BI rate turun lagi. Biaya penerbitan obligasi bisa lebih rendah,” kata Ariawan.

Banjir emisi obliges membawa konsekuensi serius. Emiten obligasi, termasuk pemerintah, bisa saja berlomba menawarkan bunga tinggi demi menarik kreditur. Utang obligasi pun makin mahal.

Saat banyak pilihan seperti ini, kreditur jual mahal dan hanya memilih obligasi yang memberikan imbal hasil tinggi. Situasi dilematis yang harus diwaspadai.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar