Menakar dampak rupiah terhadap ekspor produk manufaktur
JAJARTA. Posisi rupiah yang masih berada di atas level Rp 13.000 mestinya berpeluang meraih berkah bagi pelaku usaha yang banyak berorientasi ekspor. Sebab logikanya, pendapatan penjualan ekspor dalam dollar Amerika Serikat (AS) bakal lebih tebal ketika ditukar dalam rupiah di dalam negeri.
Namun, tak selamanya teori itu berlaku. Sejumlah perusahaan yang banyak mengekspor produk manufaktur mengaku, pundi-pundi pendapatan mereka tak lantas ikut terkerek lantaran dollar AS sedang menggiurkan.
General Manager Corporate & Marcomm PT Goodyear Indonesia, Wicaksono Soebroto mengatakan, perusahaannnya tak mendapatkan keuntungan saat nilai tukar dollar AS sedang mahal terhadap rupiah. Padahal, Goodyear menjual 70% produk ban ke pasar mancanegara.
Sampai dengan kuartal – III 2015, total pendapatan Goodyear Indonesia tercatat US$ 111,3 juta. Itu berarti, 70% ekspor mereka setara dengan US$ 77,91 juta.
Demikian pula dengan produsen tekstil PT Pan Brothers Tbk. Meskipun perusahaan itu menjual 99% produk tekstil ke pasar Amerika Serikat, kawasan Eropa, Asia dan Afrika mereka tak meraih cuan.
Alasan Pan Brothers tak merasakan dampak positif karena perusahaan itu juga membeli bahan baku tekstil dalam dollar AS. Menilik laporan keuangan per 30 September 2015, pos persediaan awal bahan baku dan bahan pembantu tercatat mencapai US$ 199,53 juta.
Pos pengeluaran bahan baku itu setara dengan 72,81% terhadap total beban pokok penjualan yang sebesar US$ 316,26 juta.
Selain pengeluaran bahan baku, tak selamanya Pan Brothers membayar pengeluaran dalam dollar AS. Corporate Secretary PT Pan Brothers Tbk Iswan Deni bilang, perusahaannya membayar kebutuhan listrik, telepon dan gaji dalam rupiah.
Lebih dari itu, manajemen Pan Brothers berpendapat, kondisi rupiah yang masih berada di level Rp 13.000 tak berpengaruh banyak pada aktivitas bisnis mereka.
“Perkiraan kami, sebelum rupiah berada di level Rp 12.500 per dollar, masih tidak terlalu berdampak bagi bisnis kami,” kata Iswar kepada KONTAN, Rabu (17/2).
Lebih penting stabil
Senada seirama, pelaku industri plastik juga melihat kondisi rupiah saat ini nyaris tak memberikan gejolak apapun. Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik (Inaplas) Budi Susanto Sadiman bilang, posisi rupiah saat ini tidak mempengaruhi kinerja ekspor maupun impor di bidang industri plastik.
Yang pasti, Inaplas melihat konsisi rupiah masih stabil biarpun permintaan plastik dari sejumlah negara tujuan ekspor tengah menyusut. “Kondisi masih menguntungkan, permasalahan kami hanya pada volume yang menurun,” kata Budi.
Di sisi lain, meskipun banyak mengekspor, bukan berarti para pelaku usaha tak ingin mengail cuan lebih banyak di pasar domestik. Tujuan mereka agar lebih bisa fleksibel memanfaatkan kondisi nilai tukar rupiah.
Goodyear Indonesia misalnya, ingin pula memanfaatkan potensi tatkala rupiah menguat. “Ya kami berharap saja kondisi penguatan rupiah terus berlanjut supaya bisa strategi awal kami mendorong pasar domestik,” kata General Manager Corporate & Marcomm PT Goodyear Indonesia Wicaksono Soebroto kepada KONTAN, Rabu (17/2).
Mengintip data Bloomberg, rupiah bertengger di level Rp 13.503 pada Kamis (18/2) kemarin pukul 18.30 WIB. Level rupiah tersebut tercatat menguat tipis 2,07% dalam periode year to date alias sejak akhir tahun yang lalu. Pada 31 Desember 2015, rupiah tercatat Rp 13.788.
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar