Ekonomi Lesu, BI Memangkas Proyeksi Kredit

JAKARTA. Kondisi ekonomi yang belum pulih dan harga komoditas melempem masih menghambat pertumbuhan kredit. Dus, Bank Indonesia (BI), memangkas proyeksi pertumbuhan kredit di kisaran 11% hingga 14%.

Sebelumnya, BI memprediksikan pertumbuhan kredit industry perbankan akan tumbuh berkisar 12%-14%. Hitungan BI, kredit berpotesi tumbuh di atas 10% pada semester II 2016.

Sejumlah faktor yang juga memengaruhi permintaan kredit yakni perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS). “Di semester II, kalau ada realisasi anggaran negara (APBN) dan kebijakan tax amnesty terwujud, tentu ada likuiditas yang lebih besar di perbankan,” jelas Gubernur BI Agus Martowardjo, pekan kemarin.

Kendati bank sentral mulai pesimitis, para banker tetap optimis memacu kredit. Bankir masih enggan merevisi target pertumbuhan kredit tahun ini.

Direktur Bisnis dan korporasi PT Bank Negara Indonsia Tbk (BNI) Henry Sidharta menyatakan, BNI masih menargetkan pertumbuhan kredit double digit atau dalam kisaran 13-15%. Tahun lalu, kredit BNI mencapai Rp 326,1 triliun.

Bankir optimis

Kucuran kredit BNI masih didominasi kredit korporasi yang berkontribusi 50% dari total kredit. Tahun ini, emiten berkode saham BBNI ini masih melirik sektor komoditas, terutama batubara. “Karena ada kebutuhan suplai proyek listrik 35.000 mega watt” ujar Herry.

Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja menilai, efek negatif pasar komoditas yang masih loyo, terbatas di Kalimantan dan Sumatera. Sebaliknya permintaan komoditas di pulau Jawa masih tumbuh.

Tahun ini, OCBC NISP membidik target pertumbuhan kredit 15% dari penyaluran kredit tahun 2015 sebesar Rp 85,9 triliun. “Sektor consumer goods, infrastruktur dan ritel tumbuh Tapi risiko kredit bermasalah (NPL) mungkin memburuk,” ujaar Parwati

Direktur Keuangan PT Bank rakyat Indonesia Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo mengatakan, BRI masih yakin bisa memacu pertumbuhan kredit pada kisaran 13% hingga 15% di sepanjang tahun ini.

BRI mengandalkan kucuran kredit usaha rakyat (KUR) dan penurunan suku bunga kredit usaha kecil dan menengah  (UKM) menjadi 9,75% mulai 1 Mei 2016 “Dengan memangkas suku bunga kredit UKM dan penyaluran KUR, BRI tetap optimistis pertumbuhan kredit 13-15%,” ujar Haru.

Seperti halnya BNI dan OCBC NISP, BRI juga mengaku masih mencari potensi menarik dari sektor komoditas. Meski begitu, tahun ini BRI selektif memberikan kredit komoditas.

Mengacu data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan umum melesu sejak akhit tahun (year to date). Penurunan kredit paling dalam dialami oleh bank umum kegiatan usaha atau BUKU 3 yang susut 13,73%.

 

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: