Jalur Khusus Nasionalisasi Tambang

tambangPeran asing dalam penguasaan sumber daya alam selalu menimbulkan sorotan. Di berbagai negara, asing yang terlanjur masuk pun terus ditendang. Ada pula yang ingin mendapat porsi lebih dalam pengelolaan dan pendapatan usaha tambang. Di mana posisi Indonesia?

Presiden Venezuela Hugo Chavez menjadi sosok kontroversial sejak memerintah negeri di kawasan Amerika Latin itu. Sebelum wafat pada Maret 2013, Chaves membuat terobosan penting terkait perlindungan sumberdaya alam di negerinya. Ikon anti imperialisme dari Amerika Latin itu menggulirkan program nasionalisasi seluruh aset sumber daya alam Venezuela. Ia dengan gagah berani berhadapan dengan perusahaan migas dan tambang dunia, membuat para pemimpin negara kapitalis murka.

Langkah Hugo Chavez menasionalisasi seluruh sumber daya alamnya, termasuk tambang emas, dikecam berbagai pihak. Sebanyak 20 perusahaan dari berbagai negara melayangkan arbitrase ke ICSID, International Center for the Settlement of Investment Disputes, lembaga arbitrase yang berafiliasi dengan Bank Dunia, berpusat di Washington. Mereka gerah terhadap kelakuan negara di Amerika Latin tersebut. Perusahaan tambang patungan Rusia dan Kanada, Rusoro, merupakan salah satu dari 20 perusahaan tersebut. CEO Rusoro, Andre Papov, menilai langkah Venezuela itu memicu kerugian bagi bisnis dan pemegang saham.

Rusoro juga menilai, langkah nasionalisasi tambang emas di Provinsi Bolivar itu melanggar perjanjian yang sudah dilakukan sebelumnya antara Kanada dan Venezuela. Perusahaan tersebut juga menambahkan bahwa arbitrase ini merupakan satu-satunya jalan setelah pembicaraan dengan pemerintah Venezuela menemui jalan buntu. Perusahaan lain yang juga ikut melayangkan arbitrase antara lain raksasa migas AS, ExxonMobil dan ConocoPhillips.

Pada Agustus 2012, Chavez mengeluarkan aturan mengenai kepemilikan domestik di tambang emas minimal 55%, sisanya boleh dipegang asing. Chavez beralasan, aturan ini diterbitkan dalam rangka kemandirian ekonomi nasional Venezuela. Ia menegaskan, aturan ini akan menghilangkan ‘mafia’ yang selama ini menguasai perdagangan sumber daya alam Venezuela. Selain itu, perusahaan asing yang menambang emas di Venezuela harus menyerahkan royalti 13% dari total produksi.

Venezuela masuk daftar pemilik simpanan emas batangan terbanyak urutan 15 di dunia dengan jumlah 367,6 ton per Februari 2015 berdasarkan World Gold Council datanya merujuk dari publikasi Dana Moneter Internasional (IMF). Sebagai bandingan, Indonesia di urutan 40 dengan simpanan sebanyak 78,1 ton.

Akibat gaya kepemimpinan Chavez yang menasionalisasi migas dan tambang di Venezuela, negara tersebut akhirnya ‘dikucilkan ’ dari perdagangan dunia, yang dikuasai negara-negara Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Rusia. Meski tak berhasil mengubah peta penguasa migas dan tambang dunia, nasionalisasi sumber daya alam ala Venezuela itu menjadi ‘aliran baru’ untuk melawan tren hegemoni perusahaan-perusahaan multinasional di sektor tambang dan energi.

Menurut kamus bahasa versi Merriam Webster, nasionalisasi adalah tindakan pemerintah nasional atau negara untuk mengambil aset pribadi atau industri menjadi kepemilikan publik. Lebih gamblangnya, nasionalisasi adalah ketika bangsa memutuskan untuk membeli atau mendapatkan kontrol lebih, untuk menghindari kepemilikan satu atau lebih perusahaan bermodal besar.

Setiap pemerintah memiliki pilihan bagi industri atau aset untuk dinasionalisasi. Namun yang paling populer dalam sejarah nasionalisasi adalah sektor sumber daya alam, perbankan, energi, transportasi, tanah dan industri pertanian. Nasionalisasi juga bisa berarti pengambilan aset yang dimiliki oleh badan swasta (perusahaan/korporasi) yang dimiliki oleh tingkat yang lebih rendah dari struktur pemerintahan nasional, seperti pemerintah provinsi atau pemerintah kota.

Selain Venezuela, ada Bolivia, Inggris, Chile dan Zambia. Masing-masing negara itu menggulirkan nasionalisasi berbasis komoditi.

tambang1Bolivia : Gas Alam

Bolivia memiliki beberapa kisah pahit terkait nasionalisasi sumber daya alam. Awalnya, pada tahun 1937, negara ini menasionalisasi industri hidrokarbon; pada 1950-an pada industri timah; dan pada 1969 di sektor komoditi hidrokarbon. Meskipun akhirnya berdarah-darah, toh Evo Morales, presiden Bolivia sejak 2006 hingga kini, melanjutkan nasionalisasi untuk memenuhi janji yang dibuat selama kampanye pemilu, yakni di sektor industri gas alam.

Morales menggulirkan nasionalisasi gas alam dari perusahaan swasta dengan menggunakan aksi militer, di mulai pada 1 Mei 2005. Ia kemudian menawarkan perusahaan swasta asing selama enam bulan untuk menegosiasi ulang kontrak mereka dengan negara.

Beberapa perusahaan migas raksasa langsung berteriak. Mereka didukung negara masing-masing. Petrobras dan Brazilian, keduanya Brasil, paling terkena dampak. Dua perusahaan itu merupakan penanaman modal terbesar di Bolivia, mengontrol 14% industri gas alam negara itu. Total Perancis, BG Group Plc Inggris, dan Respol YPF Spanyol menjadi bagian dari 53 perusahaan yang dinasionalisasi. Nasionalisasi ala Boivia ini tanpa pengambilalihan atau penyitaan industri. Pemerintah hanya berusaha meningkatkan pangsa pendapatan dua ladang gas terbesar, dari 50% menjadi 82%, dan hanya 60% pada bidang kecil yang tersisa.

Dengan pola bagi hasil, nasionalisasi gas alam Bolivia itu membuat pendapatan negara dari minyak melonjak signifikan, dari US$ 320 juta menjadi US$ 720 juta per tahun. Harga gas ekspor menanjak, dan Bolivia menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan untuk sementara waktu. Morales pun akhirnya terpilih kembali untuk masa jabatan kedua pada 2009. Tahun lalu, ia bahkan terpilih untuk periode ketiga, 2014-2017.

Inggris : Batu Bara

Nasionalisasi tambang di Inggris terjadi Ketua Partai Buruh, Clement Richard Atlee, menjadi perdana menteri negeri kerajaan itu, pada 1945-1951. Pemerintah Inggris membentuk Dewan Batu Bara Nasional (NCB), yang kemudian disebut sebagai British Coal Company. Perusahaan inilah yang mengambilalih saham perusahaan asing. Pemerintah Inggris menghabiskan dana hingga £ 338 juta. Jika dikonversi saat ini mencapai £ 11.500 juta.

Nasionalisasi ala Inggris itu memiliki beberapa keuntungan bagi para penambang lokal. Mereka mendapat jaminan kesehatan, liburan, dan standar keamanan yang membaik. Tapi gaji penambang tidak meningkat seperti yang dijanjikan selama kampanye nasionalisasi. Pada dekade 1970-an, terjadi pergolakan pekerja, sehingga pada era 1980-an NCB akhirnya menutup beberapa tambang, membuat banyak pekerjaan tambang yang hilang.

Kerusuhan yang dipicu oleh para pekerja tambang berlanjut. Pada 1984-1985 terjadi pemogokan massal. Akhirnya industri batu bara Inggris diprivatisasi. Pemerintah Inggris kembali menjalin kerjasama dengan perusahaan besar seperti RJB Mining, yang melahirkan Inggris Coal Plc. Sebuah keputusan yang dianggap terlambat. Saat itu tinggal 15 tambang yang masih beroperasi. Pekerjaan serta industri tambang telah jauh menyusut.

Chili : Tembaga

Pembentukan ‘The Chileanisation Of Copper’ pada 1950 menjadi tonggak awal nasionalisasi industri tembaga di Chili. Saham milik perusahaan asing dinasionalisasi. Aksi merebut tiga tambang terbesar di negara itu banyak disebut sebagai ‘La Gran Mineria’ besutan Presiden Carlos Ibanez del Campo, yang menjabat pada saat itu. Proses nasionasilasi itu diselesaikan oleh Presiden Salvador Allende yang memerintah Chili pada 1971.

Pemerintah Chili menolak memberikan kompensasi, sehingga pemilik Chuquicamata, El Salvador dan tambang El Teniente, tiga tambang terbesar pada saat itu, meradang. “Pelanggaran ini serius untuk praktek internasional, yang dapat menyebabkan kerusakan tidak hanya untuk Chili, tetapi untuk semua negara-negara berkembang lainnya,” demikian ultimatum pemerintah Amerika Serikat ketika itu.

Tak pelak, hubungan Chili dan Amerika pun menjadi retak. Meskipun Presiden Richard Nixon yang memerintah AS saat itu membantah terlibat, CIA dituding turut intervensi dalam melemahkan pemerintahan Presiden Allende. Mata uang lokal melemah, harga-harga naik. Diduga ada operasi moneter yang sangat rahasia, bertujuan menggulingkan Allende.

Chili terganggu dengan pemogokan umum besar-besaran. Kaum perempuan memprotes kenaikan harga bahan bakar dan kekurangan makanan. Setelah Allende tumbang, pemerintahan berikutnya memilih pro kepada Amerika, melakukan privatisasi industri tembaga, dan menggulirkan kebijakan menarik investor asing masuk ke negara tersebut.

batubara-1Zambia : Tembaga dan Mineral lainnya

Tanggal 10 Agustus 1969 merupakan hari bersejarah bagi Zambia. Hari itu merupakan tonggak dalam kisah pencarian suatu negara untuk kedaulatan ekonomi, yang ingin lepas dari ketergantungannya pada lembaga donor internasional (IMF). Presiden Kenneth Kaunda dan pemerintahnya menyatakan nasionalisasi terhadap industri tembaga.

Tindakan itu dituding mengarah pada pembangunan negara sosialis. Pada saat itu, hasil tambang tembaga menyumbang separuh pendapatan negara. Nasionalisasi tersebut membuat pemerintah Zambia mampu meneken harga pangan dan bahan pokok lainnya.

Tapi kebijakan sosialis ala Zambia tidak dapat meningkatkan perekonomian. Ketika tahun 1970-an harga tembaga runtuh, ekonomi Zambia ikut terkapar. Menyusul peristiwa ini, pemerintah Zambia harus meminjam uang dari IMF dalam usaha untuk menurunkan harga sembako. Giliran IMP pun menekan pemerintah Zambia untuk mempertimbangkan kembali struktur ekonomi dengan meninggalkan kebijakan ekonomi sosialis.

Pada 1980-an Zambia menjadi salah satu negara pengutang terbesar di dunia. Situasi tersebut memaksa Presiden Kaunda memprivatisasi sebagian industri tambangnya karena tekanan dari dalam. Kaunda lalu menyerahkan ‘kursinya’ ke Frederick Chiluba pada 1991. Pemerintah Chiluba adalah pendukung reformasi liberal dan mulai melakukan privatisasi sektor utama perekonomian, termasuk sektor tambang. Pada 2010, pertambangan tembaga kembali menjadi penyumbang terbesar devisa negara Zambia.

Meneropong peristiwa yang menyebabkan keputusan untuk menasionalisasi sumber daya alam, dua alasan berbeda muncul sebagai percikan. Pertama, sebuah bangsa yang ingin mencapai bagian yang lebih tinggi dari pendapatan industri, atau presentase pajak yang lebih besar menuntut perusahaan dinasionalisasi. Hal ini berujung pada perbaikan mata pencaharian warga negaranya, sekaligus mempertahankan atau mengangkat kedaulatan negara. Bolivia bisa menjadi contoh dari hal tersebut.

Kedua, berawal dari keprihatinan menyelamatkan industri dari privatisasi yang gagal. Bahaya dari perusahaan swasta mengambil sejumlah besar keuntungan dari negara dan tidak melakukan upaya untuk mempertahankan industri milik negara. Hasilnya, sebuah penurunan dalam pekerjaan, kualitas pekerjaan, kondisi kerja yang aman, pengembangan keterampilan lokal, dan jatuhnya indsutri secara keseluruhan. Nasionalisasi batu bara Inggris bisa menjadi contoh.

Indonesia memilih jalan tengah. Perusahaan asing, boleh memiliki saham pertambangan, namun tidak dibolehkan menguasai mayoritas saham setelah jangka waktu tertentu. Inilah yang kemudian menjadi tarik menarik dalam isu nasionalisasi tambang di Indonesia. Amanat Undang-Undang Minerba pun sudah jelas, bahwa perusahaan tambang asing harus melepas saham mayoritasnya agar dikuasai oleh pihak Indonesia, setelah kurun waktu tertentu.

Cara halus nasionalisasi tambang itu belakangan menuai polemik. Perusahaan asing di tambang batubara maupun mineral sepertinya enggan melepas sahamnya, sehingga renegosiasi cenderung berjalan alot. Kisah PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara bisa menjadi contoh kasus.

Terakhir adalah kasus PT Berau Coal, sebuah tambang di pedalaman Kalimantan Timur, tapi sahamnya dikuasai perusahaan yang berpusat di London. Kasus Berau Coal ini kemudian menjadi tarik-menarik kepentingan antara pekerja lokal dan ekspatriat yang ‘dititipkan’ oleh pemegang saham mayoritas berbendera Inggris.

 

Sumber: Majalah Tambang

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: