Bursa saham di Tanah Air bak kehabisan bahan bakar. Setelah mencoba bangkit dari keterpurukan pada akhir April lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu kehabisan tenaga untuk melanjutkan pendakian. Ibarat pesawat yang kehabisan bahan bakar, IHSG kembali terjerembab.
Selama tiga hari berturut-turut pada pekan lalu, IHSG berada di zona merah. Pada penutupan perdagangan Kamis (6/4) lalu, IHSG anjlok di level 5.095,8. Ini merupakan level terendah IHSG sejak awal Mei lalu. Kecuali sektor perdagangan, kinerja semua sektor di bursa saham pada hari itu berada di zona merah.
Sektor perkebunan tercatat turun paling dalam sebesar 1,79% diikuti sektor barang konsumsi yang tercatat minus 1,34%. Namun, jika dihitung selama sepekan, sektor aneka industri mengalami penurunan paling dalam sebesar 5,35% diikuti sektor keuangan yang terpangkas 4,8%.
Jika dirunut ke belakang, analis Bahana Securities Muhammad Wafi, mengatakan, tren penurunan IHSG dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan alias BI rate pada pertengahan Mei lalu di level 7,5%. Padahal, baik pemerintah maupun pelaku pasar sebetulnya menginginkan bank sentral menurunkan suku bunga acuan untuk menggerakkan roda perekonomian.
Kini, pelaku pasar menilai, BI sudah kehilangan momentum untuk memangkas BI rate. Sebab, inflasi pada masa puasa dan Lebaran biasanya tinggi sehingga tidak mungkin BI memangkas BI rate. Setelah Lebaran, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, akan mengerek suku bunga acuan. “Jadi, BI tidak punya momentum lagi untuk memangkas bunga acuan,” tukas Wafi.
Sebaliknya, investor justru khawatir BI bakal mengerek suku bunga acuan. Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo, bilang, beberapa negara seperti Brasil sudah mengerek suku bunga acuan untuk mengantisipasi kenaikan bunga The Fed. Jadi, bukan tidak mungkin, BI akan mengerek BI rate. Itu sebabnya, “Saham sektor perbankan terkena imbas dari kecemasan tersebut,” ujar Satrio.
Kondisi ekonomi makro yang belum sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Laju inflasi, contohnya, masih terbilang tinggi. Mei lalu, laju inflasi mencapai 0,5%. Kepala Riset BNI Securities Norico Garman, memperkirakan, laju inflasi tinggi masih akan berlanjut pada bulan Juni dan Juli karena masa puasa dan Lebaran. Selain data inflasi, IHSG juga tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Alhasil, Norico bilang, investor asing masih berhati-hati dalam berinvestasi di bursa saham Indonesia.
Faktor lain yang menekan IHSG adalah kekhawatiran investor terhadap realisasi program ekonomi pemerintah. Wafi mengatakan, realisasi penerimaan pajak yang minim membikin pelaku pasar tidak yakin berbagai proyek ambisius pemerintah bakal tercapai. Tekanan juga muncul dari ekspektasi adanya pemangkasan target pertumbuhan kredit perbankan.
Selain faktor internal yang kurang bagus, Wafi mengatakan, sentimen global mendorong investor asing keluar dari pasar. Selain spekulasi kenaikan suku bunga The Fed, pemulihan ekonomi negeri Uwak Sam membuat investor membawa kembali duitnya ke AS.
Pekan ini, Wafi mengatakan, tidak banyak sentimen dari dalam negeri yang mampu menggerakkan IHSG. Selain data cadangan devisa yang diumumkan akhir pekan lalu, pelaku pasar masih akan menanti keputusan BI rate pada pekan depan.
Menjelang masa puasa dan Lebaran, Satrio berharap, kinerja emiten di sektor barang konsumsi dan sektor ritel bisa meningkat. Itu sebabnya, saham sektor barang konsumsi dan sektor ritel pada pekan ini menarik untuk dicermati. Maklum, paad bulan Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat biasanya mengerek belanja konsumsi. “Wajar jika saham kedua sektor ini diburu investor,” imbuhnya.
Adapun Wafi menduga, saham sektor perbankan pada pekan ini berpeluang untuk rebound. Sebab, saham-saham perbankan sudah turun cukup dalam dan mencapai batas bawah. Saham sektor infrastruktur juga berpeluang naik. Pemicunya, data realisasi proyek infrastruktur mulai membaik. Selain itu, siklus saham di sektor infrastruktur mulai membaik. Selain itu, siklus saham di sektor infrastruktur memang mulai naik pada semester kedua karena emiten mulai merealisasikan proyeknya.
Norico mengamini, saham sektor barang konsumsi dan perbankan menarik untuk dikoleksi. Saham-saham yang bisa menjadi pilihan adalah UNVR, BBRI, BBNI, BBCA, BMRI, JSMR, PTPP, WSKT dan WIKA.
Pekan ini, IHSG masih akan tertekan lantaran belum ada sentimen positif untuk menggerakkan bursa. Wafi menebak, IHSG berada di rentang 5.000-5.200. Sementara Norico menduga IHSG akan berada di level 5.050-5.100. Satrio memperkirakan, support IHSG pekan ini berada di rentang 4.975-5.000 dengan resistance di kisaran 5.150-5.250.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak

Tinggalkan komentar