Ogah Bangun Pabrik? Sorry Dilarang Masuk!

4Pada 16 Juni lalu, Kementerian Perindustrian (Kemperin) kedatangan rombongan utusan raksasa ponsel asal Amerika Serikat (AS), yakni Apple Inc. Pada pertemuan itu, Patrick, perwakilan Apple Singapura yang bertanggung jawab untuk Asia Pasifik dan Australia, melayangkan protes terhadap kebijakan Indonesia yang mewajibkan ssemua importir ponsel membangun pabrik ponsel di Tanah Air, paling telat awal 2016.

Reaksi Apple yang langsung mendatangi petinggi Kemperin memang cukup beralasan. Sebab, Apple kini berhadapan dengan Peraturan Menteri Perdagangan No 82 tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler. Dalam aturan ini, pelaku ponsel global seperti Apple wajib merakit ponsel di Indonesia setelah mengimpor ponselnya selama tiga tahun.

Izin impor ponsel Apple terancam dicabut oleh Kementerian Perdagangan (Kemdag) karena Apple belum ada rencana membangun pabrik di Indonesia. Jika aturan tersebut efektif, tidak ada lagi impor ponsel merek Apple ke Indonesia. “Harus sudah membangun pabrik paling telat Januari atau Februari 2016,” tandas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemdag Partogi Pangaribuan.

Sikap tegas pemerintah ini sebagai antisipasi untuk mengurangi angka impor ponsel yang selalu menanjak. Selain itu, pemerintah ingin menjadikan Indonesia tidak semata dipandang sebagai negara konsumen tapi juga sebagai basis produksi ponsel.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemperin Gusti Putu Surjawirawan mengatakan, pertemuan dengan Apple baru sebatas membuka komunikasi dan belum membahas rencana investasi di Indonesia. “Belum ada komitmen investasi apa-apa,” ujar Putu.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu pasar besar bagi Apple. Mengacu data Kemperin, impor ponsel produksi Apple pada 2014 sebanyak 321.000 unit atau setara 0,58% dari total impor ponsel Indonesia sebanyak 54,74 juta unit. Apple menduduki peringkat ke-15 dalam hal volume impor terbanyak ke Indonesia.

Dari sisi nilai, impor ponsel Apple selama 2014 tercatat US$ 137,87 juta atau setara 5% dari total nilai impor ponsel 2014 senilai US$ 3,15 miliar. Apple menduduki peringkat kelima nilai impor ponsel oleh Indonesia.

5Antisipasi

Berbeda dengan sikap Apple, beberapa produsen ponsel sudah mengantisipasi aturan tersebut. Salah satunya, importir Oppo yang sudah berinvestasi senilai US$ 30 juta untuk pembangunan pabrik perakitan ponsel seluas 27.000 m2 di Tangerang, Banten. Kapasitas produksi pabrik ini sebanyak 500.000 unit per bulan dan siap beroperasi usai lebaran nanti.

Aryo Meidianto, Media Relations PT Indonesia Oppo Electronics, menyatakan, sebelumnya ada pengunduran dari rencana awal pabrik yang seharusnya beroperasi penuh pada April 2015. “Sekarang sudah tahap ujicoba produksi smartphone Oppo type Joy Plus yang terbaru. Untuk seri lain, menyusul diproduksi termasuk yang seri 4G,” paparnya.

Jika pabrik ini beroperasi penuh, Oppo menargetkan produksi sebanyak 500.000 unit smartphone per bulan. Aryo menambahkan, sebetulnya pabrik tersebut sudah topping off sejak Desember 2014.

Kini, sudah ada sekitar 100 karyawan pabrik. Usai lebaran, jumlah karyawan akan ditambah lagi.”Jika pabrik sudah beroperasi penuh, butuh karyawan 2.000 orang,” imbuh Aryo.

Tak ketinggalan, produsen ponsel lokal merek Polytron yang sudah mengoperasikan pabrik handphone di Kudus, Jawa Tengah, sejak Januari 2014. Adapun kapasitas produksi pabrik itu saat ini mencapai 200.000 unit per bulan. Bahkan, per Juli nanti, kapasitasnya akan digenjot hingga mencapai 300.000 ponsel per bulan. “Dari kapasitas produksi 300.000 unit ponsel, 30% untuk produksi feature phone dan 70% smartphone,” beber Santo Kadarusman, Public Relations and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi, pemegang merek Polytron.

Produk ponsel cerdas Polytron dibagi tiga seri, yakni Wizard, Roket, dan Zap. Nah, seri Zap 4G LTE ini sedang booming di masyarakat. Alhasil, bila permintaan seri tersebut terus meningkat, PT Hartono Istana siap memperbesar kapasitas produksinya.

Terkait nominal investasi, Santo enggan membeberkannya. Alasannya, karena pabrik di Kudus sudah ada sebelumnya. “Lahannya luas banget, tapi nilai investasi tak bisa saya sebut,” kilahnya.

Komitmen membangun pabrik ponsel juga diutarakan Hasan Aula, Vice President Director PT Erajaya Swasembada Tbk, yang menjadi vendor ponsel merek Axioo. Saat ini sudah berdiri perusahaan joint venture, yakni PT Axioo Internasional Indonesia, yang fokus di manufaktur lokal. Pabrik yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur, ini, direncanakan mulai digarap pada Juli nanti. Rencananya, kapasitas produksi pabrik mencapai 100.000 unit smartphone per bulan.

Banjir ponsel

Erajaya akan menjadi pemegang saham mayoritas pabrik tersebut, yakni dengan porsi 51%. Perusahaan baru ini dirancang langsung oleh Axioo sehingga biaya investasi yang dikeluarkan Erajaya terbilang kecil, yakni hanya Rp 5,1 miliar. “Nilai tersebut belum termasuk pembangunan pabriknya. Tapi kami tidak bisa sebut berapa nilainya,” jelas Hasan.

Pemerintah punya alasan kuat terus menuntut importir ponsel segera medirikan pabrik di tanah air. Salah satunya adalah banjir ponsel murah, terutama asal Tiongkok, yang laris manis bak jualan kacang goring. “Banyak yang beli ponsel merek-merek China karena harga murah dan mirip dengan ponsel aslinya yang mahal,” aku Putri, pelayan toko Media Seluler, Jembatan Niaga II Lantai 3, Blok KJ, Mangga Dua Square, Jakarta Pusat.

Dari sisi harga, ponsel produk Tiongkok ini masih dibanderol dengan harga rata-rata Rp 150.000 sampai Rp 550.000 per unit, atau masih di bawah sejutaan rupiah. Banjir pasokan ponsel murah ini akibat perang harga di tingkat produsen.

Misalnya, merek Evercross hanya dilego Rp 150.000, TiPhone T28 dual sim dibanderol seharga Rp 160.000, atau Cross C5 yang hanya Rp 261.500-an. “Kalau yang lebih bagus seperti Advan Vandroid dijual Rp 650.000,” sebut Putri.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, lonjakan nilai impor mesin dan peralatan listrik, terutama ponsel, sepanjang Januari-April 2015, yang mencapai US$ 2,3 miliar. Padahal, pada periode sama tahun lalu, impor jenis barang tersebut hanya US$ 2,19 miliar. “Artinya, ada kenaikan 7,31%,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi.

Umumnya, impor ponsel paling banyak didatngkan dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan Korea Selatan. Telepon nirkabel dari negara itu relatif murah bahkan terkesan tidak masuk akal. “Saya juga punya Samsung buatan China, harganya hanya Rp 3 jutaan. Padahal harga aslinya Rp 6 jutaan,” jelas Sasmita.

BPS memprediksi, permintaan terhadap ponsel murah tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, masih banyak anggota masyarakat yang belum memiliki alat komunikasi canggih tersebut.

Bagi konsumen, banjir ponsel jelas menguntungkan lantaran bisa beli ponsel murah-meriah dengan fasilitas tak kalah menarik dari merek mahal. Cuma, bunting bagi negara. Impor yang bengkak bisa memperlebar defisit neraca berjalan.

Dengan kebijakan ini, Kempering menargetkan, nilai impor ponsel turun sebesar 7% mejadi Rp 74 triliun pada tahun ini, dibanding impor ponsel pada 2014 sebesar Rp 80 triliun saat sejumlah pabrik ponsel mulai beroperasi. Volume impor ponsel diperkirakan turun menjadi 50 juta unit dari 54 juta unit.

Di samping meneken volume impor, Ketua Asosiasi Pengusaha dan Importir Telepon Genggam (Aspiteg) Ali Cendrawa menjelaskan, pembukaan pabrik rakitan ponsel bisa menyerap tenaga kerja baru. Misalkan, satu assembling line (jalur perakitan) saja membutuhkan 20-25 orang pekerja.

Penyerapan tenaga kerja itu baru berasal dari pasang-memasang casing, stiker, dan kardus. Jika ada empat line, tentu membutuhkan pekerja 100 orang. “Kalau ada lapangan kerja baru, kan, perekonomian yang lain juga bergerak,” harap Ali.

Semoga segera terealisasi, ya, pengoperasian pabrik-pabrik ponsel di dalam negeri ini.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: