Rupiah Terkapar, Inflasi Berkibar

25JAKARTA. Bank Indonesia (BI) nampaknya mulai kesulitan menjinakkan inflasi yang belakangan terus mendaki. Apalagi, di tengah pelemahan rupiah seperti sekarang ini.

Lesu darahnya mata uang Garuda ini membuat harga impor bahan bakar minyak atau BBM mendaki. Dengan kebijakan pemerintah melepas subsidi, dan membiarkan harga BBM naik atau turun sesuai harga pasar bisa berefek memacu laju inflasi.

Impor yang mahal serta penggunaan BBM yang terus naik memacu inflasi. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menghitung, setiap pelemahan rupiah 1% berdampak ke kenaikan inflasi sebesar 0,13%. “Tahun lalu, efek inflasi hanya 0,07%,” ujar Mirza.

Dengan hiitungan itu, rupiah yang sejak awal tahun ini sudah melemah hingga 6,65% terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menyebabkan tambahan inflasi yang cukup besar yakni sebanyak 0,86%.

Sejak awal pergantian pemerintahan dari rezim Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo (Jokowi), tercatat sudah lima kali pemerintahan Jokowi mengeluarkan kebijakan mengenai harga BBM.

Kenaikan harga BBM akibat pelemahan rupiah dan perubahan harga minyak dunia, terakhir terjadi pada 28 Maret 2015. Saat itu, pemerintah mengerek naik harga BBM Rp 500 per liter. Harga jenis premium yang semula Rp 6.800 menjadi Rp 7.300 per liter.

Pemerintah berdalih, harga BBM bersubsidi yang fluktuatif ini merupakan konsekuensi dari dihapuskan subsidi BBM. Artinya, ketika harga minyak dunia naik, otomatis harga BBM akan naik.

Tentu saja, BI tetap menyokong kebijakan pemerintah melepas subsidi BBM. Tak ada jalan lain, agar tugas bank sentral sebagai penjaga inflasi terkendali, BI harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kami akan terus menjaga rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam, dengan selain berada di pasar,” tegas Gubernur BI Agus Martowardjojo. Rupiah yang saat ini anteng di atas Rp 13.000, kata Agus merupakan cermin dari fundamental ekonomi Indonesia.

Namun, jika rupiah masih terus loyo, kata Mirza, bukan mustahil, harga minyak akan kembali naik usai Lebaran nanti. Jika itu terjadi, inflasi tahun ini akan mendaki.

Saat ini, kata Mirza, BI terus memantau efek depresiasi rupiah terhadap inflasi di bulan Juli. Hasil pantauan BI selama minggu pertama Juli, inflasi secara bulanan mencapai 0,46% dan inflasi tahunan akan turun di bawah 7%.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianigsih melihat, komponen inflasi dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) yang terpengaruh rupiah sebesar 30%. Walhasil, efek pelemahan rupiah terhadap inflasi memang cukup besar.

Hitungan Lana, jika harga BBM usai Lebaran naik dari Rp 7.400 per liter menjadi Rp 8.800 per liter dengan asumsi kurs Rp 13.000 dan Indonesian Crude Price (ICP) US$ 70 per barel, inflasi hingga akhir tahun akan menjadi 5,2%.

Tapi, “Jika tak ada kenaikan BBM, inflasi masih di bawah 5%,” kata Lana.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: