JAKARTA, Prospek harga tembaga hingga akhir tahun ini masih suram. Komoditas metal ini masih akan berhadapan dengan tekanan ekonomi global, terutama dari China dan Eropa.
Mengutip Bloomberg, Senin (13/7) pukul 13.10 WIB, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange merosot 1,43% ke level US$ 5.510 per metrik ton dibanding harga penutupan di akhir pekan lalu. Dalam sepekan, harga tergerus 1,43%.
Ibrahim, Direktur PT Komoditi Ekuilibrium Berjangka, menuturkan, harga tembaga kian menurun pasca rontoknya bursa saham China akibat krisis utang Yunani. Maklum, sebanyak 60% obligasi Yunani dikuasai oleh China. “Dampaknya juga ke harga komoditas termasuk harga tembaga,” ujar Ibrahim.
Perlambatan ekonomi China bakal tergambar pada Rabu (15/7). China akan merilis data ekspor dan impor dan produk domestik bruto (PDB). Prediksi pelaku pasar, PDB China di kuartal II-2015 hanya di 6,9%, sementara di kuartal sebelumnya mencapai 7%.
IMF juga memangkas laju pertumbuhan ekonomi global dari 3,5% menjadi 3,3%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi AS yang awalnya 3,1% direvisi menjadi 2,5%. Lalu pertumbuhan ekonomi China tetap berada di 6,8%.
Pasar juga masih menunggu perkembangan masa depan Yunani dan Eropa. Permasalahan Eropa dan China sebagai konsumen utama tembaga akan sangat berdampak terhadap pergerakan harga.
Pasar juga bakal mencermati pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang membahas perekonomian AS dan kenaikan suku bunga. Penguatan dollar AS perlu diwaspadai karena masih menjadi sentimen negatif utama bagi harga komoditas.
Untuk jangka panjang, Ibrahim menduga harga tembaga bakal tetap jatuh. “Sampai dengan akhir tahun ini, prediksi saya, harga tembaga di sekitar US$ 5.000 per metrik ton,” kata Ibrahim.
Secara teknikal, indikator moving average (MA) dan Bollinger band bergerak 20% di atas bollinger bawah yang mengindikasikan harga tembaga masih akan turun. Indikator Stochastic berada di 60% yang menandakan adanya penurunan, meskipun tidak terlalu besar.
Sementara indikator moving average convergence divergence (MACD) dan relative strength index (RSI) berada di 60% negatif. “Hampir semua indikator teknikal menunjukkan kemungkinan harga tembaga akan kembali menurun,” kata Ibrahim.
Ibrahim memprediksi harga tembaga pada Selasa (14/7) ini akan bergerak di kisaran US$ 5.410-US$ 5.520 per metrik ton. Untuk sepekan, harga tembaga akan terpuruk lagi di US$ 5.400-US$ 5.510 per metrik ton.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar