Rupiah Terkapar, Harga Barang Berkibar

8

JAKARTA. Bersiaplah merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Para peritel siap mengerek harga jual barang lantaran para pemasok sudah mengerek harga produk yang mengandung bahan baku impor. Ini lantaran mata uang garuda sudah menyentuh batas psikologis Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS).

Wiwiek Yusuf, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama menjelaskan, peritel biasanya mengerek harga barang, mulai dari proses stok. Biasanya, jangka waktu stok barang impor atau berbahan baku impor sekitar tiga bulan. Setelah stok habis, para pemasok kembali berbelanja dengan harga yang baru.

Masalahnya: saat berbelanja barang bertepatan dengan kurs rupiah yang  melemah. Alhasil,  maka pengeluaran biaya (cost) akan membengkak. Ujungnya mau tidak mau harga barang harus naik. “Kenaikan harga barang maksimal 5%,” kata Wiwiek, kepada KONTAN, (24/8).

Jenis barang bersiap berganti harga lebih mahal adalah barang impor atau barang yang mengandung baku impor. Misalnya susu, detergen, biskuit, sampo, dan sabun. Sedangkan, barang yang memiliki kestabilan harga lantaran berbahan baku lokal adalah  beras, gula, dan minyak.

Teresa Wibowo, General Manager of Marketing & Communication PT Kawan Lama Sejahtera menambahkan, pihaknya juga  segera menaikkan harga jual barang untuk produk furnitur di gerai Ace Hardware, gerai milik anak usaha Kawan Lama, PT Ace Hardware Tbk (ACES).

Langkah ini untuk antisipasi kenaikan biaya impor dan persaingan harga dari kompetitor. Namun, Teresa  juga memastikan, kenaikan harga produk di gerai Ace Hardware tidak akan mengekor prosentase depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang sudah merosot 11,8%. “Kenaikan harga barang hanya sedikit, demi menyesuaikan daya beli konsumen,” ujar dia.

ACES tidak berani mengerek harga produk terlalu besar karena berharap bisa memperbesar penjualan volume penjualan barang. Dengan begitu, pertumbuhan pendapatan bisa mengimbangi beban perusahaan.

Kelas atas masih kuat

Pasalnya, bila gejolak rupiah tidak segera diantisipasi dengan baik, untuk jangka panjang bisa menggerus perolehan laba perusahaan ritel.Apalagi,  saat ini, porsi barang impor di Ace Hardware masih 80% terhadap total barang.

Namun, tak hanya itu saja.Demi menyeimbangkan beban dan pendapatan, pengelola gerai seperti Ace Hardwere ini juga terus berupaya mengurangi produk impor untuk memangkas biaya.  Misalnya dengan mulai menjajakan produk furnitur lokal di gerai-gerainya. “Kami mulai memasukan barang lokal ke pasar,” tambah Teresa.

Bagi pengelola gerai ritel dengan target menengah atas mengklaim, pelemahan rupiah terhadap dollar AS,  belum terlalu mempengaruhi peritel yang menyasar pasar atas.

Nugraha Setiadharman, Direktur Utama PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) menyebut konsumen Ranch Market serta Farmers Market belum terpengaruh kenaikan harga.

Meski begitu, mereka kini berhati-hati untuk ekspansi bisnis. Supra Boga juga akan melakukan efisiensi dan strategi promosi kreatif supaya bisa menjaga pertumbuhan bisnis tetap bisa positif.

Nugroho mengakui, beberapa gerai masih mampu mencatat pertumbuhan penjualan dua digit di tengah pelambatan ekonomi. “Karena segmen  pasar yang kami garap masih cukup resilience terhadap situasi, jadi pelambatan bisnis belum terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Tutum Rahanta, Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRI) menjelaskan, keputusan peritel untuk menaikan harga jual bukan  semata untuk mengambil keuntungan. Ia mengklaim langkah ini dilakukan untuk menyehatkan kinerja peritel dari pengeluaran biaya akibat efek pelemahan rupiah.

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar