Stok Pangan Masih Rawan

146236_620

Jakarta. Ketidakpastian masih menggelayuti stok pangan nasional hingga akhir tahun mendatang. Meski sudah banyak solusi dan kebijakan yang telah dilakukan pemerintah selama ini, namun stok pangan nasional masih dianggap sangat rawan.

Tengok saja pada stok beras di pasaran. Meskipun pasokan masih lancar, tren harga beras mulai naik dalam sepekan terakhir.

Winarno Tohir, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan menyatakan, pada bulan Agustus dan September ini, diperkirakan masih ada panen padi yang tersisa sekitar 2 juta ton sebelum menyambut musim tanam pada Oktober nanti. “Hanya saja, saat ini stok beras di tingkat petani sulit diprediksi. Pasokan masih lancar tapi harga naik karena petani mulai menggarap beras premium,” ujarnya kepada KONTAN, Senin (24/8).

Winarno mengatakan, untuk menjamin stok beras hingga pengujung tahun, bulog harus memiliki beras 2,5 juta ton hingga akhir tahun. Namun, hingga Agustus ini, bulog baru menyerap 1,8 juta ton atau defisit 700.000 ton sebelum memastikan diri tak perlu impor pada akhir tahun.

Winarno mengaku pesimistis dalam sebulan bulog dapat memenuhi target tersebut. Sebab, jumlah panen yang tinggal sedikit dan fakta bahwa tahun ini kemarau panjang akan menghantui lahan pertanian produktif.

Ditambah lagi, saat ini, petani lebih melirik pasar beras premium yang berada di luar jangkauan bulog selama ini. “Rawan atau tidaknya stok beras nasional tergantung pada kinerja bulog dalam sebulan ke depan,” ujarnya.

Bukan hanya beras yang rawan, stok jagung juga cukup rentan. Menurut sudirman, Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) selaku penyerap jagung terbesar di tanah air kebutuhan jagung untuk pakan ternak selama ini rata-rata 800.000 ton per bulan. Itu artinya, butuh jagung sebanyak 3,2 juta ton dari September – Desember 2015.

Dari jumlah kebutuhan tersebut, sekitar 40% harus diimpor dari luar negeri karena produksi jagung nasional belum bisa mencukupi kebutuhan pelaku industri pakan ternak yang meningkat 8%-15% per tahun.

Tak berbeda jauh, komoditas tanaman pangan lain yang cukup rentan adalah keledai. Yus’an, Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) mengatakan, rata-rata kebutuhan kedelai nasional mencapai 160.000 ton per bulan. Sementara itu, produksi kedelai lokal sekitar 800.000 ton per tahun yang berasal dari berbagai daerah.

Dari kondisi ini, tak bisa dihindari bahwa Indonesia butuh impor kedelai sekitar 1,2 juta ton setiap tahun. Meskipun tak semua pasar kedelai didominasi kedelai impor, tapi faktanya, pengguna kedelai terbesar, yakni perajin tahu tempe, lebih memilih kedelai impor karena kualitasnya lebih bagus. “Kenaikan permintaan kedelai ini bisa dipicu oleh kenaikan harga produk lain. Misalnya harga daging naik, kemudian konsumen berpindah ke tahu dan tempe,” ujar Yus’an.

Komoditas lain yang cukup rentan hingga akhir tahun ini adalah bawang merah dan cabai. Harga dua komoditas hortikultura itu belakangan ini sangat mudah berubah di pasaran.

Petani malah gigit jari

Sunarto Atmo Taryo,, Ketua Dewan Bawang Merah memproyeksikan produksi bawang merah tahun ini bisa mencapai 1 juta ton. Jumlah ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional sebanyak 970.000 ton.

Menurut Sunarto, hasil panen bawang merah kali ini berpeluang meningkat. Apalagi sejak Bank Indonesia (BI) turun tangan mengendalikan inflasi akibat kenaikan harga pangan. BI misalnya, mensponsori sentra budidaya bawang merah di sejumlah daerah. “Saat ini, petani bawang merah sedang menyambut panen raya,” jelas Sunarto.

Memasuki panen raya, harga bawang merah justru ambrol. Jika sebelumnya panen harga bisa menyentuh Rp 40.000 per kilogram (kg), saat ini harga bawang merah merosot menjadi Rp 13.000 per kg. ini merugikan petani.

Dadi Sudiyana, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) menyebut meskipun komoditas cabai sangat sensitif di pasar, tapi stok cabai aman sehingga tak perlu impor. Tahun ini, diprediksi produksi cabai rawit dan cabai besar di atas 1 juta ton akan mencukupi kebutuhan. Apalagi selama ini industri mengonsumsi cabai bubuk untuk kebutuhan mereka.

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: