Perusahaan Logistik Mulai PHK Ribuan Karyawan

logistik_2JAKARTA. Kabar tak menggembirakan menyelimuti industri logistik dan forwarder. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) melansir data, sekitar 2%-3% dari total karyawan yang bekerja di sektor industri ini telah mengalami pemutusan hubungan kerja alias PHK karyawan.

ALFI mencatat, jumlah pekerja industri logistik dan forwarder mestinya sebanyak 175.000-225.000 karyawan. Dus, jumlah 2%-3% PHK setara dengan 3.500-6.750 karyawan. Ketua Umum ALFI Yukki Nugrahawan menyebut, PHK berlangsung sejak Mei 2015.

Perusahaan logistik dan forwarder melakukan PHK karena tak kuasa melawan tekanan perlambatan ekonomi. Sebab, perlambatan ekonomi membikin klien bisnis mereka mengerem aktivitas pengiriman barang. “Tentu saja ini berefek besar ke industri logistik,” ujar Yukki kepada wartawan, di sela-sela acara dialog investasi yang diadakan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Senin (28/9).

Saat ini jumlah anggota ALFI mencapai 3.812 perusahaan. Namun, sekitar 15% diantaranya tak lagi melakukan aktivitas bisnis apapun. Kondisi itu tak cuma terjadi pada perusahaan kecil tapi juga perusahaan besar.

Dus, nilai transaksi industri logistik dan forwarder juga turun 30% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terbesar pada sektor pengangkutan darat, yakni mencapai 50%.

Dihubungi secara terpisah, dua perusahaan logistik PT Globalindo Dua Satu Ekspress dan PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mengklaim, tak melakukan PHK karyawan. Keduanya malah kompak bilang, jumlah karyawan mereka tahun ini bertambah.

JNE misalnya, hingga kini masih mempekerjakan 13.000 karyawan organik. Kalau digabung dengan jumlah karyawan di agen, totalnya 40.000-45.000 karyawan.

Agen tersebut bergabung dengan JNE melalui skema kemitraan. “Pertumbuhan mitra agen kami sekitar 15%-20% per tahun,” ungkap Muhammad Feriadi, Presiden Direktur PT Jalur Nugraha Ekakurir kepada KONTAN, Senin (28/9).

Menaikkan tarif

Meski begitu, para pelaku industri logistik tak menampik tekanan berat bagi bisnis mereka pada tahun ini. Selain lesu ekonomi, JNE mengaku biaya angkut kiriman yang mereka tanggung cukup besar. Perlu diketahui, biaya angkut kiriman menyumbang 20%-30% terhadap total biaya produksi JNE.

Eko Suprihantoro, Regional Manager PT Globalindo Dua Satu Ekspress sepakat. Dia menambahkan, soal kendala infrastruktur tanah air seperti jalan dan transportasi, yang tak mendukung. “Yang paling menyedot biaya besar adalah bisnis logistik ke luar Pulau Jawa,” ungkap dia.

Agar bisnis tetap berjalan, Globalindo Dua Satu pemilik jasa pengiriman barang 21Express, pun berencana menaikkan tarif pengiriman barang ke semua tujuan mulai November atau Desember 2015. Informasi saja, kenaikan tarif pengiriman barang itu akan menjadi kali kedua yang dilakukan perusahaan itu.

Sebelumnya pada Agustus 2015, Globalindo Dua Satu sudah menaikkan tarif pengiriman barang. Namun, kenaikan tarif hanya terjadi untuk wilayah pengiriman Jakarta saja. Alasan mereka, Jakarta adalah tujuan pengiriman barang terbanyak hingga lebih dari 50% dari total daerah tujuan pengiriman barang.

Para pelaku usaha berharap, pemerintah mengambil tindakan nyata atas kondisi yang mereka hadapi. ALFI menilai aneka paket kebijakan pemerintah, baru akan dirasakan dalam jangka panjang. “Namun kami memerlukan aturan dengan implementasi yang cepat dan tepat,” harap Yukki.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: