Pengendalian Impor Picu Harga Naik

29ImporJAKARTA. Kebijakan pengendalian impor komoditas pertanian yang diterapkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sejak awal tahun 2015 ikut menyeret kenaikan harga pangan di dalam negeri.

Pengamat Pertanian Khudori menilai, pengendalian impor pangan ala pemerintahan Jokowi harus ditebus rakyat dengan lonjakan harga pangan nasional. Akibatnya, daya beli masyarakat merosot tajam.

Karena itu Khudori mendesak agar Kemtan menghitung dampak yang harus dibayar rakyat akibat kebijakan pengendalian impor komoditas pangan. Apalagi, kata dia, ke depan ada potensi terjadinya gejolak harga pangan dunia.

Gejolak ini bisa mempengaruhi persediaan stok pangan Indonesia. Jika stok pangan Indonesia tak bisa menutupi kebutuhannya, harga pangan di dalam negeri berpeluang melejit tinggi. “Kalau harga relatif tidak terkendali, ada indikasi pasokan tidak seimbang dengan permintaan,” kata Khudori, Senin (28/9).

Djarot Kusmayakti, Direktur Utama Perum Bulog mengakui, menjelang akhir tahun ini, perusahaannya kesulitan menyerap beras untuk rakyat. Pasalnya, rata-rata harga beras sudah di atas Harga Pokok Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 7,260 per kilogram (kg).

Djarot khawatir, stok beras untuk rakyat sampai akhir tahun ini menyentuh titik terendah di level 50.000 ton-100.000 ton dari stok saat ini 1,1 juta ton dan 600.000 ton beras premium atau komersial.

Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian membenarkan, di sepanjang tahun ini, harga beras telah naik hingga 10% dibandingkan tahun lalu. Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemtan mencatat, pada 2014, impor beras sebanyak 815.300 ton. Tapi, sampai September 2015, belum ada impor beras yang masuk.

berasMenghemat devisa

Sejak awal tahun ini, menurut Amran, pemerintah telah menempuh kebijakan pengendalian impor beras medium dan premium berbasis pada stok dalam negeri. “Kita hanya impor sesuai kebutuhan, bukan keinginan,” ujarnya.

Toh, Amran berdalih, kenaikan harga pangan, terutama beras, dipicu sejumlah faktor. Antara lain, kenaikan biaya produksi yang mencapai 15%-20%. Selain itu pemerintah juga telah mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kebijakan itu, kata Amran, menyebabkan biaya transportasi naik dan inflasi masih berada di kisaran 5%. Itu sebabnya, Amran membantah kenaikan harga beras sampai 10% di tahun ini lantaran pasokan langka di dalam negeri akibat pengendalian impor.

Sebaliknya, Amran mengklaim, sejak Januari hingga Juli 2015, devisa negara yang bisa dihemat dari kebijakan pengendalian impor komoditas pangan mencapai US$ 4,03 miliar atau setara Rp 56 triliun dengan kurs Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat.

Amran menambahkan, pengendalian impor pangan tidak hanya terbatas pada beras dan jagung, namun juga beberapa komoditas yang dikonsumsi langsung masyarakat, yaitu cabai, bawang merah, gula, sapi, dan lainnya, dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan dalam negeri. Impor hanya untuk keperluan industri dan bibit. Misalnya, pengecualian impor beras diberlakukan untuk beras khusus, seperti beras konsumsi penderita diabetes.

Tapi, Khudori mengingatkan, pemerintah jangan mengklaim berhasil menghemat devisa dari pengendalian impor pangan ini. Sebab, kebijakan ini baru terlihat pada semester I-2015. Sementara di semester dua, bisa saja impor melonjak untuk menekan efek kenaikan harga pangan.

Berdasarkan angka ramalan (Aram) I Badan Pusat Statistik 2015, produksi padi nasional mencapai 75,7 juta ton GKG atau setara 42 juta ton beras. Kebutuhan beras konsumsi nasional per tahun sekitar 30 juta ton, di luar stok.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: