Pelaku Usaha Siap, Infrastruktur Gagap

Masih ingat murka Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pelabuhan pada pertengahan tahun lalu. Iya, Presiden marah besar gara-gara target waktu tunggu bongkar muat alias dwelling time di pelabuhan tidak tercapai. Alhasil, Jokowi mengancam bakal mencopot menteri atau direktur jenderal terkait kalau dwelling time masih tidak berubah juga, tetap membutuhkan tempo sampai 5,5 hari.

Presiden memang pantas murka. Sebab, daya saing kita menjadi jauh di bawah negara-negara anggota ASEAN lain, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Indeks Kinerja Logistik alias Logistics Performance Index 2014 keluaran Bank Dunia menempatkan Indonesia di bawah keempat negara itu. Apalagi, saat Jokowi marah-marah, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata.

Tapi, setelah Satuan Tugas (Satgas) Dweling Time terbentuk dan bekerja, pemerintah mengkalim, per Oktober 2015 waktu tunggu bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi 4,51 hari. Pencapaian ini juga melewati target dwelling time 4,71 hari. Waktu yang lebih cepat ini, Agung Kuswandono, Ketua Satgas Dwelling Time, mengatakan, juga berkat penyederhanaan proses perizinan.

Pemangkasan dweliing time jelas menjadi kabar baik bagi sector logistic kita dalam menghadapi MEA yang sudah bergulir selama dua pekan. Tambah lagi, menurut Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), potensi bisnis logistic di negeri ini tahun lalu mencapai US$33,34 miliar. Itu belum termasuk kegiatan logistic yang tersembunyi. Sebab, banyak perusahaan yang mendistribusikan produknya sendiri. Jika kegiatan logistic tersembunyi masuk hitungan, maka potensi logistic kita sangat fantastis US$ 347,74 miliar.

Itu sebabnya, pelaku usaha logistic menyatakan siap bertempur, setidaknya untuk memenangkan pasar dalam negeri yang begitu besar. Dari jumlah penduduk saja, populasi negara kita mencapai 40% dari total penghuni wilayah Asia Tenggara yang sebanyak 615 juta jiwa. Praktis, barang yang beredar di Indonesia jauh lebih banyak ketimbang negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Infrastruktur buruk

Walau pelaku usaha sudah berbenah dan siap berperang, dukungan infrastruktur tetap menjadi modal utama kekuatan bisnis logistic mereka. Cuma masalahnya, kapasitas jalan, pelabuhan, dan bandara kita sudah sangat jauh tertinggal dari kepadatan lalu lintas moda transportasi, manusia, dan barang yang harus mereka layani. Akibatnya, banyak jalan yang rusak. Efek lainnya, muncul kemampetan atawa bottlenecking di pelabuhan.

Infrastruktur dengan kapasitas rendah yang membuat kemampetan ikut menyumbang biaya logistic domestic tinggi. Dalam Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Logistik sampai 5% per tahun. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Survei Bank Dunia, tahun 2014 biaya logistic di Indonesia mencapai 24% dari produk domestic bruto (PDB)

Yukki menjelaskan, biaya logistic tinggi bukan saja menggergoti daya saing produk ekspor kita, tapi mengakibatkan ekonomi biaya tinggi pada perdagangan dalam negeri. Contoh, harga barang di Papua jauh lebih mahal lantaran terbebani biaya logistic yang tinggi. Pelaku usaha tentu berharap biaya logistic bisa turun. “Penurunan biaya bukan berarti lebih murah, tapi biaya lebih efektif , efesien,” ujarnya.

Gara-gara infrastruktur yang buruk, Kyatmaja mengungkapkan, 65% waktu pengiriman barang habis hanya buat menunggu, entah menunggu di jalan gara-gara macet atau menunggu giliran bongkar muat di pelabuhan. “Jadi, produktivitasnya hanya 35%.” Ungkap dia.

Sebagai gambaran, Kyatmaja bilang, buntut infrastruktur yang buruk, dalam setahun setiap truk di Indonesia rata-rata hanya mampu melaju total sejauh 50.000 kilometer (km). Bandingkan dengan Thailand , tiap truk bisa berjalan sepanjang 120.000 km setahun.

Hediyanto W. Husaini Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, membenarkan, infrastruktur Indonesia masih di bawah Thailand, juga Malaysia dan Singapura. “Kita masih harus bersaing dengan mereka,” kata Hediyanto ke KONTAN.

Untuk itu, hingga tahun 2019 mendatang, pemerintah berencana membangun 2.650 km jalan nasional baru dan 1.000 km jalan tol anyar. Sedang target tahun 2016 untuk jalan nasional sepanjang 988,3 km dan jalan bebas hambatan 207 km.

Bukan hanya infrastruktur darat, pemerintah juga berencana menyediakan kapal penyeberangan lalu lintas perintis sebanyak 50 unit, meningkatkan kapasitas 24 pelabuhan utama pendukung tol laut, membangun 120 dermaga sungai dan danau, membangun 15 bandara baru, serta mengembangkan sembilan bandara kargo. Tak ketinggalan membangun 4.471 km jalur kereta api baru. Cuma, “Dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur logistic, pemerintah harus membuat skala prioritas, dengan memperhitungkan karakteristik masing-masing daerah yang tentu berbeda,” ujar Yukki.

Butuh kebijakan

Kyatmaja kepingin tol Trans Jawa dan Trans Sumatera segera terwujud. Pasalnya, kehadiran tol Cikopo-Palimanan (Cipali) saja bisa menghemat empat jam perjalanan.Tapi, “Bukan hanya memperbanyak akses jalan, pemerintah juga harus membuat kebijakan yang mendukung industri logistic tumbuh,” pinta dia. Yukki menambahkan, lebih dari 90% pengiriman logistic di Indonesia melalui jalur darat.

Cuma, menurut Kyatmaja, pelaksaan di lapangan kadang tidak sejalan dengan kebijakan awal pembangunan jalan juga untuk jalur logistic. Misalnya, akhir tahun lalu pemerintah melarang truk beroperasi. Padahal, tujuan awal membangun infrastruktur juga untuk membuat proses pengiriman logistic menjadi efesien dan kompetitif. Belum lagi, ada wacana pelarangan truk melintas di jalan tol pada jam-jam tertentu. Ini akan membikin daya saing sektor logistic kita semakin buruk. Padahal, di Negara lain pengiriman logistic bias dilakukan 24 jam dalam 7 hari.

Oleh karena itu, Yukki mengingatkan, dalam teori perang, selain persenjataan, taktik, dan strategi, factor lain yang menentukan ialah logistic. Nah, kalau MEA memang dipandang sebagai perang, kegagalan mengelola logistic bisa menjadi bencana bagi Negara.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Masyarakat Ekonomi ASEAN

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: