Bea Masuk Alkohol Turun Belum Tentu Bisnis Mekar

Distributor minuman alkohol tidak akan ekspansi meski tariff bea masuk minuman alkohol turun

JAKARTA. Rencana pemerintah menurunkan tariff bea masuk minuman beralkohol mendapat respons positif pebisnis minuman ini. Meski demikian, beleid ini belum tentu bisa menumbuhkan bisnis minuman tersebut.

Pemerintah saat ini belum menentukan besaran penurunan bea masuk tersebut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Importir dan Distributor Minuman Impor (APIDMI) Agoes Silaban menyebut, saat ini tariff bea masuk minuman beralkohol sekitar 300%. Ini adalah tariff bea masuk yang tertinggi di Asia Tenggara.

Bandingkan dengan tariff serupa di Singapura, Malaysia atau Thailand yang cuma 50% saja. “Ini memberi cukup ruang bagi oknum untuk impor minuman alkohol illegal,” katanya kepada KONTAN, Jumat (29/1).

Memang salah satu tujuan beleid tersebut adalah untuk mengurangi minuman alkohol illegal yang kian marak belakangan ini.

Tumbuh tidak banyak

Direktur Operasional PT Sarinah Handriani T.Setyowati mengakui, tariff bea masuk minuman alkohol yang selangit membebani biaya operasional perusahaannya. Ia menghitung, tariff bea masuk berkontribusi antara 50% sampai 80% dari total biaya operasional perusahaannya.

Kalaupun nanti tariff bea masuk produk ini turun, bukan berarti perusahaan pelat merah ini bakal memperbanyak impor produk ini. Soalnya, ada pembatasan kuota impor minuman beralkohol yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. “Kami juga melihat permintaan distributor karena tergantung dari permintaan konsumen,” katanya kepada KONTAN.

Tak heran bila Sarinah cuma berani mematok pertumbuhan impor sekitar 10% dari tahun lalu. Handriani pun tidak memerinci jumlah impor minuman ini.

Sejatinya, target ini tergolong lumayan ketimbang tahun lalu. Saat itu, impor minuman beralkohol Sarinah turun 20%. Lagi-lagi, ia juga tidak memerinci besarannya. Yang jelas, hal ini disebabkan adanya beberapa aturan yang menghambat peredaran minuman beralkohol. Salah satunya adalah Permendag di atas. Selain itu, faktor fluktuasi kurs rupiah yang membuat harga produk minuman ini menjadi kian mahal.

Catatan saja, sebagai importir minuman beralkohol, Sarinah mendistribusikan produk ini ke pebisnis hotel, restoran dan kafe, terutama di sekitar Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Bali.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: