Gejolak Harga Pangan Masih Mengancam Inflasi

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengkhawatirkan tekanan inflasi akibat gejolak harga bahan makanan. Rantai logistik yang panjang dan perbedaan harga pangan yang tinggi antar wilayah Indonesia, membuat potensi lonjakan harga pangan masih terjadi.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, pemerintah dan BI perlu melakukan upaya ekstra untuk mencapai target inflasi 4% tahun ini. Sebab salah satu pemicu utama tingginya inflasi adalah gejolak harga pangan.

Tahun lalu, pantauan BI, inflasi akbat volatilitas pangan sekitar 4,2%-4,3%. Inflasi yang tinggi terutama terjadi di wilayah Indonesia timur. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan harga yang tinggi antar wilayah di kawasan itu. “Faktor logistik penting di daerah. Kami akan menyoroti pada masalah logistik pangan,” kata Juda, Selasa (9/1).

Rantai logistik yang panjang pernah dikeluhkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut BPS,saat ini distribusi perdagangan beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras dari produsen ke konsumen akhir melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan usaha perdagangan.

Jalur distribusi perdagangan terpanjang adalah untuk komoditas cabai merah, bawang merah, dan jagung pipilan di Jawa Tengah. Sedangkan alur distribusi perdagangan terpanjang beras dan daging ayam ras ada di DKI Jakarta.

Rantai perdagangan yang panjang membuat margin perdagangan dan pengangkutan menjadi lebih besar. Dengan margin yang besar, biaya yang harus dibayar oleh konsumen terhadap suatu bahan pangan menjadi lebih mahal.

Juda bilang, untuk menekan gejolah harga pangan, selain memperbaiki logistic atau distribusi, perbaikan produksi juga diperlukan. Sebab gangguan iklim seperti El Nino dan La Nina mengancam ketersediaan bahan makanan.

Februari bisa deflasi

Inflasi di Januari 2015 terbilang cukup tinggi sebesar 0,51%. Menurut BPS, penyokong utama inflasi Januari adalah lonjakan harga pangan. Kenaikan harga pangan menopang 220 basis poin atau setara 53,1% terhadap inflasi Januari 2016.

Namun tekanan inflasi sepertinya tidak akan terjadi pada Februari 2016. Hasil pemantauan harga yang dilakukan BI pada pekan pertama Februari 2016 menunjukkan deflasi 0,14%. “Ini kabar baiknya,” kata Juda. Menurutnya deflasi terjadi karena gejolak harga pangan sudah mereda.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, sejumlah harga pangan turun. Harga daging ayam yang memiliki andil inflasi terbesar Januari 2016, turun dari Rp 33.340 per kilogram (kg) pada 1 Februari 2016 menjadi Rp 33.140 per kg pada 5 Februari 2016.

Harga bawang merah juga turun dari Rp 31.920 per kg per 1 Februari 2016 menjadi Rp 31.330 per kg pada 5 Februari 2016. Harga telur jug aturun dari Rp 25.520 per kg menjadi Rp 24.970 per kg.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, penurunan harga pangan pada pekan pertama Februari 2016 disebabkan kebijakan impor pemerintah dan penurunan harga BBM. Namun begitu, tetap ada potensi kenaikan harga pangan yang mengancam pada bulan ini. “Ada potensi deflasi sekaligus juga inflasi,” katanya. Untuk itu perlu koordinasi pemerintah pusat dan daerah untuk memperbaiki distribusi pangan.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: