Utang Luar Negeri Capai Rp 4.194,45 Triliun

JAKARTA. Utang luar negeri Indonesia kembali menumpuk. Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri per akhir Desember 2015 mencapai US$ 310,7 miliar atau setara Rp 4.194,45 triliun. Angka itu naik 5,77% dibandingkan dengan posisi per Desember 2014.

Salah satu komponen utang luar negeri yang naik adalah utang jangka panjang yang meningkat 8,6%. Sedang utang jangka pendek menurun 9,6%. Nah, berdasarkan kelompok peminjam, posisi pinjaman pemerintah pada akhir tahun lalu meningkat menjadi US$ 167,71 miliar dari posisi akhir 2014, US$ 129,73 miliar. Sedang nilai utang luar negeri swasta turun menjadi US$ 143,01 miliar, dari sebelumnya US$ 164,03 miliar.

Utang dari sektor industry yang mengalami kontraksi terbesar adalah utang ke sektor pertambangan dan bangunan. Sektor yang mencatat kenaikan utang luar negeri yaitu pertanian, listrik, gas, dan air bersih serta sektor pengolahan. Utang luar negeri ke sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan juga naik signifikan menjadi US$ 153,63 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, rasio ULN terhadap produk domestic bruto (PDB) pada akhir 2015 membesar ke 36,06% dari sebelumnya 33% pada akhir 2014 lalu.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede bilang peningkatan utang luar negeri terjadi karena pemerintah berusaha menutupi deficit anggaran yang cukup besar. Seperti diketahui, tahun 2015 defisit anggaran melebar ke posisi 2,56% dari PDB. Padahal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 targetnya hanya 1,9% dari PDB.

Tahun lalu, pemerintah menerbitkan sejumlah utang sebagai pembiayaan awal untuk proyek-proyek di permulaan tahun 2016. Apalagi, pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur.

Hal berbeda terjadi pada swasta yang cenderung mengerem pembiayaan karena pelambatan ekonomi serta fluktuasi rupiah. “Kewajiban hedging korporasi dalam melakukan pinjaman, “kata Josua.

Dia menambahkan, jika rasio utang terhadap PDB tahun ini meningkat, sebenarnya masih aman. Asalkan, utang tersebut dioptimalkan untuk sektor produktif.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menilai, penurunan utang luar negeri jangka pendek dan meningkatya utang luar negeri jangka panjang normal di tengah melemahnya kondisi ekonomi dan risiko pelemahan rupiah. Menurut Lana, pemerintah juga harus berhati-hati dengan rasio utang luar negeri terhadap PDB yang selalu meningkat. Peningkatan tahun ini lanjut dia, telah melebihi batas aman sebesar 33%. “Kuncinya, PDB harus ditingkatkan karena tidak mungkin mengurangi utang, “kata dia.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: