
Efek penurunan harga BBM ke inflasi kecil.
Kebijakan pemerintah Joko Widodo (Jokowi) menjual bensin premium dan solar mengikuti tren harga keekonomian membuahkan rekor baru. Baru setahun lebih memerintah, sudah tujuh kali pemerintah mengubah harga bahan bakar minyak (BBM). Sekedar pembanding, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam periode lima tahun kedua cuma dua kali mengotak-atik harga BBM.
Pemerintah Jokowi pertama kali menaikkan harga premium dan solar masing-masing Rp 2.000 per liter pada 18 November 2014. Perubahan harga BBM terbaru saja diumumkan 30 Maret 2016 kemarin. Harga dua jenis bahan bakar itu disunat masing-masing Rp 500 per liter, berlaku per 1 April 2016. Setelah ditambah retribusi daerah Rp 100 per liter, harga premium di pom bensin menjadi Rp 6.550 per liter dan harga solar Rp 5.250 per liter.
Satu hal yang tidak biasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Sudirman Said juga mengumumkan bahwa harga terbaru BBM ini akan berlaku selama enam bulan ke depan. Artinya, penetapan berikutnya dilakukan September 2016. Sebelum ini perubahan harga premium, solar, dan minyak tanah ditinjau saban tiga bulan sekali.
Penetapan masa berlaku yang lebih panjang ini didasari argument menarik. Kalau ditinjau tiga bulan sekali, periode berikutnya akan jatuh pada awal Juli 2016. Saat itu masyarakat sedang menjalankan puasa dan bersiap menyambut hari raya Idul Fitri, 6 Juli 2016.
Jika pada saat itu harga BBM naik, maka efeknya terhadap perubahan harga barang dan jasa akan berlipat-lipat. Maklum, tanpa kenaikan BBM pun, setiap menjelang Lebaran harga barang dan jasa memang cenderung melonjak. Inflasi bisa benar-benar menakutkan.
Skenario buruk harga BBM Indonesia kudu naik dalam beberapa bulan ke depan memang bukan hal yang mengada-ada. Saat ini harga minyak dunia mulai bergerak berbalik arah, naik lagi. Tengok saja pergerakan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontak pengiriman 16 Mei 2016. Setelah mencapai titik terendah di US$ 30,76 per barel pada 11 Februari 2016, harga menanjak lagi ke level US$ 38,37 per 31 Maret 2016.
Neraca produksi dan konsumsi BBM Indonesia yang tidak seimbang mestinya juga menjadikan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebagai faktor dominan dalam meramu kebijakan harga BBM.
Rata-rata produksi minyak hanya sekitar 800.000 barel per hari. Setelah dikurangi jatah untuk kontraktor, terutama non-Pertamina, kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, bagian pemerintah tinggal 55%-60%. Porsi itu setara dengan 400.000 barel – 500.000 barel per hari. “Konsumsi BBM antara 1,4 juta barel per hari hingga 1,6 juta barel per hari. Dalam beberapa tahun terakhir, impor minyak mentah Indonesia hampir US$ 45 miliar,” ujar Komaidi.
Efek penurunan harga BBM kurang nendang
Penurunan harga oleh pemerintah ini sedikit banyak sejalan dengan usulan PT Pertamina. Sehari sebelum keputusan pemerintah keluar, Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran Pertamina, mengusulkan, penurunan harga premium dan solar per 1 April cukup Rp 200 per liter-Rp 400 per liter.
Dengann tariff sebesar itu, Pertamina memperkirakan selama April – Juni Pertamina bisa mengumpulkan keuntungan. “Jadi ketika nanti harga minyak dunia naik lagi, harga BBM enggak usah ikut naik. Sudah ketutup. Jadi ketika lebaran dan puasa masyarakat tidak ditambahi beban lagi,” katanya.
Mungkin karena sasaran penurunan ini lebih ke masa depan, sebagian pakar menganggap penurunan kali ini kurang ampuh mendongkrak daya beli masyarakat yang telanjur terpuruk. Para pedagang dan pengusaha punya segudang alasan untuk tak segera ikut memangkas harga jual barang.
Kecenderungan seperti ini sebenarnya sudah terbaca sejak lama. Menurut ekonom Bank BCA David Sumual, umumnya di negara-negara lain perubahan harga BBM 10%, baik naik maupun turun, akan berdampak ke inflasi antara 0,2%-0,3%.
Yang terjadi di Indonesia lain hikayat. Setiap 10% kenaikan BBM memang akan mendorong inflasi 2%-3% lebih tinggi. Namun penurunan dalam rasio yang sama hanya menekan inflasi sebesar 0,1%.
Rupanya para pengusaha dan pedagang lebih reaktif terhadap kenaikan harga BBM ketimbang penurunan. “Kalau harga BBM naik, harga barang-barang cepat sekali menyesuaikan. Tapi kalau pas turun relatif lambat,” ujar David.
Meski begitu dia cukup yakin bahwa dalam jangka pendek penurunan harga BBM bisa menambah potensi terjadinya deflasi. Sebab, dalam waktu yang bersamaan, beberapa daerah lumbung padi Indonesia sedang panen raya. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan juga berjanji akan memangkas tariff angkutan umum hingga 3%.
Nah, kini, sejauh mana dampak penurunan BBM sampai akhir tahun nanti? Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati memperkirakan inflasi tutup tahun 2016 nanti akan di bawah asumsi pemerintah 4,7%. Daya beli masyarakat memang masih lembek menjadi penyebabnya.
Kondisi seperti itu serupa dengan yang terjadi pada akhir tahun lalu. “Secara umum inflasi rendah, tetapi kenaikan harga bahan makanan tinggi. Penghasilan masyarakat tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan lainnya,” tegas Enny.
Penurunan harga premium dan solar kali ini memang menjadi kabar yang menyejukkan bagi banyak orang. Sayang, tak banyak efek berantai yang bisa diharapkan dari penurunan harga BBM kali ini bagi ekonomi secara menyeluruh. Meski begitu, bolehlah ini dianggap sebagai obat kecewa lantaran kita belum menikmati dampak rendahnya harga minyak dunia berbulan-bulan lalu.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar