
Tak bisa dipungkiri, pelemahan ekonomi nasional merembet kemana-mana dan perdagangan menjadi salah satu sektor yang terkena imbas paling besar. Nyatanya, hampir semua pelaku usaha di ITC mengeluhkan penurunan omzet, sedangkan biaya operasional, gaji, dan sewa saban tahun naik.
Meski begitu, pengelola ITC mencermati tren penurunan tingkat kunjungan masih wajar dan terjadi hampir di seluruh pusat perbelanjaan ketika kondisi ekonomi sedang lesu. “Sepi relative, ya, mungkin ada beberapa tenant yang produknya tidak laku karena kurang mengikuti tren,” dalih HC & GA Manager ITC Depok Katarina Dwi.
Meski hanya hitungan kasar, Katarina mengakui terjadi penurunan jumlah pengunjung berdasarkan data parki kendaraan. “Rata-rata per bulan sebanyak 36.000 kendaraan parkir atau turun 10% dari tahun lalu,” ujarnya. Katarina menambahkan, data parkir tidak bisa dipakai sebagai rujukan untuk menilai jumlah pengunjung turun. Sebab, banyak juga pembeli yang datang menggunakan angkutan umum maupun kereta.
Di samping itu, dari data tingkat okupansi sewa toko dan konter, justru terjadi kenaikan meski tipis. Saat ini,okupansi mencapai 96%-97% atau naik 1% dari tahun lalu yang berada di angka 95%-96% dari total 1.900 unit kios dan konter. Sebanyak 10% masih dimiliki langsung pihak pengelola dan disewakan kepada tenant. “Jadi secara umum kami melihat perdagangan di ITC Depok masih relative stabil,” ucap Katarina.
Senada, Sinta Kristanti Putri, Customer Relations, Lease, Promotion Head PT Jakarta Sinar Intertrade, pengelola ITC Mangga Dua, mengatakan bisnis di ITC Mangga Dua masih stabil lantaran produk yang ditawarkan dan segmen pasarnya ritel, yang lebih tahan banting ketimbang pasar grosir. “Tingkat okupansi sampai 95% dari 3.700 unit toko yang ada di ITC Mangga Dua,” paparnya.
Terkait kondisi pusar perbelanjaan ITC Group yang mulai melempem, Division Head ITC Group Christine Natasha Tanjungn enggan menanggapi lebih lanjut. Ia juga enggan membuka data-data terkait penurunan jumlah pengunjung dan pendapatan dari asset manajemen gedung yang disewakan. “Semua bisnis sudah pada tahu dan bukan sesuatu yang baru soal penurunan bisnis ini,” kilahnya.
Sebelumnya kepada media, Christine mengakui penurunan penjualan di pusat-pusat perbelanjaan, termasuk ITC Group, bisa mencapai 20%. Tapi angka tersebut relative lebih baik jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan lain yang pola penjualan utamanya mengandalkan system grosir 30%-40%.
Untuk merespons hal tersebut, ITC Group menggelar pekan belanja berhadiah 1 Oktober hingga 31 Desember 2015. Gelaran yang dinamai ITC Shopping Festival (ISF) itu melibatkan 13 pusat perdagangan yang tersebar tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga Surabaya. Rencananya, ITC Shopping Festival ini akan digelar akhir tahun nanti dan akan dijadikan agenda rutin tahunan.
Pengelola menyiapkan tiga program utama untuk menggaet minat baik pengunjung maupun pemilik toko, yakni Belanja Untung, Dagang Untung, dan Super Sale. Pada ITC Shopping Festival 2015, pengundian pemenang belanja untung dilakukan di Atrium Mangga Dua Mall pada 30 Januari lalu. Kupon yang terkumpul sebanyak 3 juta lebih dari 11 pusat belanja dalam ITC Group. “Antusiasme masyarakat terhadap ISF cukup tinggi terlihat dari banyaknya kupon yang masuk,” klaim Sinta. Benarkan sukses mengangkat lagi pamor ITC?
Sumber: Tabloid Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar