Nilai Cukai Plastik Daur Ulang Bakal Lebih Rendah

JAKARTA. Pemerintah mengaku akan segera meminta persetujuan pengenaan cukai baru untuk botol plastik ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dengan ekstensifikasi cukai ini diharapkan penerimaan negara bisa naik.

Kepala Kepabeanan dan Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Nasruddin Joko Suryono bilang, usulan cukai baru ini rencananya akan diajukan dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Negara Perubahan (RAPBNP) tahun 2016. Dasar hukum cukai botol plastic kemasan minuman akan berbentuk Peraturan Pemerintah (PP).

Dia menambahkan, nantinya pemerintah akan menggunakan sistem insentif dan disinsentif dalam penarikan cukai ini. Dengan begitu maka botol minuman plastic yang bisa didaur ulang, nilai cukai yang dikenakan lebih rendah.

Mengenai tarifnya, hingga kini pemerintah belum memutuskan. Apalagi ada kemungkinan cukai untuk produk botol minuman, tidak akan menggunakan sistem tariff melainkan dengan memangkas nilai tertentu dari setiap produksi botol minuman.

Nasruddin tidak menjelaskan lebih detail mengenai mekanisme penarikan cukai yang dimaksud. Hanya saja dia bilang potensi penarikan cukai plastic botol minuman di bawah Rp 10 triliun. Penambahan penerimaan cukai itu diharapkan mampu menambah pendapatan negara.

Nilai cukai yang akan dikenakan untuk botol plastic minuman juga akan mempertimbangkan kemampuan dunia usaha. “Nilainya belum ditetapkan,” ujarnya, Selasa (12/4). Diharapkan sistem ini bisa mengendalikan penggunaan plastic, yang dianggap merusak lingkungan.

Apalagi menurut Nasruddin, permintaan botol plastic terus naik rata-rata sekitar 7% per tahun. Jika pada tahun 2015 mencapai 3 juta ton, pada tahun 2016 konsumsi plastic diperkirakan mencapai 3,2 juta ton. “Pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi tahun lalu,” katanya. Tren itu diperkirakan akan terus meningkat jika tidak dikendalikan.

Pengenaan cukai botol plastic ini hanya langkah awal. Dalam tahap berikutnya, pemerintah juga akan mengkaji menerapkan cukai untuk semua produk kemasan plastic.

Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman khawatir cukai baru ini akan membuat produk makanan minuman semakin mahal. Tanpa ada kenaikan daya beli, maka industry akan terancam. “Industri makanan dan minuman menyerap tenaga kerja cukup banyak,” katanya.

Kebijakan ini juga akan mendorong inflasi dan bertolak belakang dengan keinginan pemerintah menekan inflasi di bawah 4%. Adhi meminta pemerintah berpikir ulang.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: