Pro Kontra Revisi TKDN

Vendor ponsel yang telah membangun pabrik keberatan software masuk dalam TKDN ponsel 4G

JAKARTA. Rencana pemerintah memasukkan opsi software dalam beleid takaran kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produksi ponsel 4G menuai pro dan kontra. Sebagian vendor ponsel 4G yang keberatan, namun ada yang mendukung revisi beleid ini.

Salah satu perusahaan yang keberatan adalah PT Indonesia Oppo Electronics yang telah membangun pabrik perakitan di Tangerang. “Kami sudah investasi US$ 30 juta, kami merasa aturan itu tidak adil,” kata Aryo Meidianto, Media Relations Indonesia Oppo Electronics kepada KONTAN, Rabu (15/6).

Aryo menilai, skema yang memasukkan software sebagai bagian TKDN membuat persaingan pasar menjadi tidak adil. Sebab, biaya investasi manufaktur hardware lebih mahal ketimbang software. “Kami lihat pemerintah condong melindungi perusahaan tertentu saja,” keluh Aryo.

Aryo menyatakan, kondisi semakin runyam jika produsen ponsel diwajibkan bekerjasama dengan 17 manufaktur komponen di Indonesia. “Impor komponen lebih murah karena skala produksinya ekonomis dengan kapasitas produksi jutaan,” kata dia.

Asal tahu saja, Kementerian Perindustrian menetapkan dua skema penerapan 30% TKDN untuk produksi ponsel 4G mulai Januari 2017. Skema pertama, 30% TKDN seluruhnya atau 100% berupa hardware. Skema kedua : 30% TKDN berupa 100% software.

Asal tahu saja, Oppo memiliki kapasitas pabrik 500.000 unit per bulan. Saat ini produksi mencapai 240.000 per bulan dan ditargetkan mencapai 300.000 per bulan.

Berbeda dengan vendor ponsel asal China lainnya, yakni Huawei yang tak mempermasalahkan aturan 30% TKDN. “Kami ikut aturan pemerintah, selama kami masih bisa memasukkan produk tak masalah,” kata Zhao Zhiwei, GTM Director PT Huawei Tech Investment kepada KONTAN, Rabu (15/6).

Zhao menjelaskan, Huawei sempat berpikir mengambil skema TKDN berupa kandungan software saja. “Nanti kami akan cari cara agar semakin banyak produk kami yang masuk ke Indonesia. The more, the better,” jelasnya.

Huawei saat ini merakit ponsel 4G di pabrik PT Panggung Electric Citrabuana di Sidoarjo dengan kapasitas produksi 500.000 unit – 600.000 unit per bulan. Huawei memastikan memenuhi syarat 20% takaran kandungan TKDN sampai 2016.

Berdampak ke investasi

Sementara itu, PT Samsung Electronics Indonesia memutuskan menahan diri melanjutkan investasi karena skema aturan TKDN tersebut. “Investasi tahap pertama sudah dilakukan. Tahap kedua kamu pending karena belum clear aturan TKDN-nya,” kata Lee Kang Hyun, Vice President PT Samsung Electronics Indonesia, Rabu (15/6).

Eko Nilam, Ketua Asosiasi Importir Seluler Indonesia (AISI) menilai, skema aturan TKDN dari pemerintah berdampak besar bagi vendor kecil. Pendapat Eko terbukti setelah perusahaan ponsel asal China, OnePlus menarik diri dari bisnis ponsel di Indonesia sejak awal Juni lalu.

Adapun produsen ponsel China lainnya seperti Lenovo dan Xiaomi memilih ikut aturan pemerintah. “Lenovo ikut skema 30% TKDN lewat 100% hardware tapi tetap mengkaji pilihan 100% software,” kata Adrie R Suhadi, Country Manager Lenovo Indonesia kepada KONTAN, Selasa (14/6).

Lenovo sejak tahun 2015 merakit ponselnya di pabrik PT Tri Dharma Kencana di Serang. Adapun Xiaomi belum memilih skema 30% TKDN yang akan mereka terapkan. “Kami belum berencana bikin pabrik di Indonesia atau memilih skema software,” kata Roshina Erawati, Social Media Manager Xiaomi.

Roshina memastikan, Xiaomi tak akan menghentikan penjualan ponsel di Indonesia. Itu artinya, Xiaomi nantinya mesti mengikuti aturan penjualan ponsel di Indonesia.

Sumber: Harian Kontan 17 Juni 2016

Penulis: Pamela Sarnia

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: