Brexit dan Ketidakpastian Global

One of the biggest market shock of all the time. Begitulah salah satu komentar dari fund manager di Inggris setelah kemenangan menenangkan kelompok Brexit dalam referendum tanggal 23 Juni 2016 di Inggris. Keputusan rakyat Inggris yang memilih keluar dari Uni Eropa (UE) benar-benar sangat mengejutkan investor. Pasalnya sebelum dilakukan referendum, jajak pendapat justru menyebutkan kelompok pro UE unggul tipis dari kelompok Brexit. Anehnya, sebelumya para pakar dan analis sudah mewanti-wanti rakyat Inggris akan efek negatif terhadap perekonomian Inggris, namun yang terjadi ternyata berkebalikan dengan perkiraan.

Tiga hari sebelum referendum, investor kawakan George Soros memperingatkan bahwa Brexit dapat memicu “Black Friday”, yakni saat Indeks Dow Jones terjun bebas lebih dari 20% pada Oktober 1987. Soros juga memperingatkan bahwa Brexit akan mengakibatkan amblasnya mata uang Poundsterling dan mendorong Inggris ke jurang resesi. Mimpi buruk itu akhirnya benar-benar terjadi. Poundsterling terjun bebas lebih dari 8% daam sehari dan menyentuh level 31 tahun terakhir. Bursa-bursa dunia sontak berguguran.

Keluarnya Inggris jelas memperlemah Uni Eropa. Sebelum Brexit, gabungan PDB Jerman Inggris, Prancis, dan Italia mencapai 65% PDB Uni Eropa atau nomor tiga dunia setelah PDB Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Keluarnya Inggris bukan saja menambah ketidakpastian ekonomi, namun juga dari sisi geopolotok. Uni Eropa tentu khawatir langkah Inggris ini akan ditiru negara Eropa lainnya sehingga kekuatan Uni Eropa sebagai penyeimbang diantara AS dan Tiongkok dipertanyakan.

Saat Uni Eropa sedang dilanda ketidakpastian ekonomi dan geopoliti, AS dan Tiongkok sebagai lokomotif ekonomi dunia juga memiliki masalahnya masing-masing. Di AS, investor masih menunggu janji ban sentral mengenai kapan persisinya suku bunga The Fed akan dinaikkan dan berapa besaran kenaikan tersebut. Maklum, dalam rapat FOMC akhir tahun lalu, The Fed sudah memberikan sinyal bahwa siku bunga akan naik bertahap di tahun 2016. Sebelum Brexit, survey menunjukkan bahwa suku bunga The Fed diperkirakan akan naik menjadi 0,875% di akhir tahun 2016, 1,625% di akhir tahun 2017 dan 2,375% di akhir tahun 2018. Nah, dengan perubahan konstalasi di Eropa, sangat mungkin rencana The Fed mengerek bunga akan tertunda atau bahkan tidak direalisasikan. Pasalnya, Uni Eropa adalah mitra utama AS dalam ekonomi.

Efek Brexit memperlemah mata uang poundsterling dan euro sehingga impor barang dan jasa dari AS akan lebih mahal. Jika ditambah dengan kenaikan suku bunga The Fed, Dollar AS akan kian perkasa dan ekspor AS ke Eropa dapat terhambat. Alhasil, Brexit akan menimbulkan dilema bagi The Fed karena sudah menyatakan akan menaikkan suku bunga jike ekonomi AS benar-benar pulih. Namun di sisi lain, perekonomian gloal, terutama di Eropa, akan lebih buruk dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Kekhawatiran utang Tiongkok

Lain di Uni Eropa dan AS, lain pula di Tiongkok. Bagi Uni Eropa, masalahnya adalah dampak dari Brexit. Sementara bagi AS, masalahnya adalah data ekonomi yang belum pasti tingkat pemulihan ekonominya. Namun sikap pemerintah AS sudah jelas yakni akan menaikkan suku bunga jika data ekonomi sudah pasti membaik.

Sementara itu apa yang terjadi di Tiongkok justru sebaliknya. Data-data ekonomi Tiongkok sudah jelas menunjukkan penurunan. Nah, yang belum jelas adalah reaksi atau sikap dari pemerintah Tiongkok terhadap penurunan data ekonomi tersebut. Investor tentu belum lupa dengan kejutan devaluasi Tuan tahun lali yang memicu colatilitas bukan saja pada pergerakan mata uang, namun juga pada asset berisiko seperti saham.

Selain perlambatan, Tiongkok juga dihadapkan pada risiko meningkatnya utang. Menurut Capital Economics, rasio utang terhadap GDP di Tiongkok telah meningkat dari 150% di tahun 2009 menjadi hampir 240% di bulan Maret 2016. Peningkatan utang ini tentu menjadi concern investor karena kekhawatiran terjadinya peristiwa krisis sub-prime mortgage di AS tahun 2008.

Sejarah mencatat perilkau investor Tiongkok menyebabkan terjadinya Financial Bubble di bursa Tiongkok (Shanghai dan Shenzen) tahun 2015 lalu. Saat itu, sepertiga nilai indeks saham Tiongkok menguap dikarenakan perilaku investor retail di Tiongko banyak yang tak rasional saat memberli saham di harga tingii dan membeli saham dengan pinjaman. Otoritas bursa Tiongkok pun terpaksa bereaksi dengan menerapkan pembatasan penjualan.

Dengan demikian, ada tiga hal yang perlu diperhatikan investor pasca Brexit. Pertama, kejadian masa depan sulit diprediksi. Krisis ekonomi global tahun 2008 menjadikan setiap negara dan lembaga keuangan berhati-hati dan berupaya menghindari munculnya krisis baru. Namun demikian, terlihat juga bahwa saat ini satu peristiwa dapat terjadi sedemikian cepat dan berdampak sangat besar pada pasar keuangan kedua di tahun ini yang langsung merontokkan bursa-bursa unia. Yang pertama adalah amblasnya bursa Tiongkok di awal tahun 2016 sampai memicu perhentian perdagangan dan menyeret jatuh bursa global.

Kedua, ketidakpastian global belum akan berakhir dalam waktu singkat. Sandu Jadeja, analis teknikat dari Core Spreads yang berhasil memprediksi kejatuhan indeks Dow Jones pada tahun 2015 meyatakan bahwa periode dari tahun 2011-2018 merupakan periode berbahaya dari siklus 84 tahun seperti periode tahun 1928-1934 ketika Great Depression terjadi.

Entah kebetulan atau tidak, saat ini bukan saja tanda-tanda pelemahan ekonomi yang terjadi, melainkan juga pergeseran konstalasi geopolitik. Akhir tahun ini, AS akan melaksanakan pemilu presiden, kemudian Prancis dan Jerman pada 2017. Hasil pemilu ini bisa jadi mengubah arah politik dan memperngaruhi ekonomi global.

Terakhir, investasi bukan ilmu pasti. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya adalah perilaku orang banyak. Nilai sekuritas kemungkinan dapat diperkirakan, tapi perilaku dan keputusan orang banyak sangat sulit diprediksi.

Bubble Financial yang terjadi Tiongkok 2015 dan hasil dari Brexit baru-baru ini adalah penegasan dari pernyataan diatas. Genius matematika Sir Isaac Newton pernah berkata, “I can calculate t he motion of heavenly bodies, but not the madness of people

Sumber: KONTAN, 29 Juni 2016

Penulis : Hoki Cahyadi Nugroho

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: