Menteri Perindustrian Keberatan Cukai Kemasan

JAKARTA. Keinginan Kementerian Keuangan memungut cukai pada kemasan kantong berbahan plastic tak hanya ditolak pengusaha saja. Pejabat pemerintah seperti menteri perindustrian juga keberatan dengan aturan tersebut.

Menteri Perindustrian Saleh Husin bilang, pengenaan cukai kemasan plastic akan berdampak luas ke industry. Selain itu, juga berdampak buruk bagi iklim investasi yang saat ini sedang dipacu.

Menurut Saleh, ada tiga dampak bula cukai kemasan plastic dikenakan. Pertama, konsumsi produk minuman berkuran dan memperlambat industry minuman dan industry plastic dan kemasan plastic. Sementara, 70% produk minuman kemasan dalam plastic bisa di daur ulang.

Kedua, daya saing industry minuman akan melemah, apalagi filakukan di saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Adanya cukai, membuat industry minuman nasional tak punya daya saing. “Ekspor ke Asean akan diisi pesaing, sementar konsumsi dalam negeri cenderung turun. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga,” kata Saleh.

Ketiga, cukai membuat harmoni kebijakan yang saat ini sedang disosialisasikan pemerintah. Saleh bilang, di sisi lain, pemerintah giat memudahkan investasi dengan insentif tax holiday dan tax allowance. Selain itu pemerintah saat ini sedang giat memperkuat struktur industry huku dan intermediate plastic dan industry minuman. Bahkan, sektor kemasan plastic mendapat fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP). Hal itu meningkatkan daya saing industry nasional. Keberatan cukai kemasan plastic dari Menteri Perindusreian memperkuar sikap penolakan cukai yag digalang asosiasi makanan dan minuman

Suroso Natakusuma, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) mengatakan, apa yang disampaikan Menteri Perindustrian tersebut merupakan suara dari pelaku industry. “Alasan cukai karena plastic mencemari lingkungan itu tidan benar,” kata Suroso.

Selain itu Suroso bilang, pengenaan cukau justru membuat setoran pajak lain bisa turun. Merujuk riset Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, setoran pajak industry berpotensi turun Rp 529 miliar pertahun.

Sementara itu, Martin Jummy, Presiden Direktur PT Akasha Wira International Tbk menyebut, pengenaan cukai keberatan industry dan konsumen. Merujuk data Kemprin, industry yang masih tumbuh saat industry lainnya tiarap. Pada kuartal I-2016, industry makanan dan minuman tumbuh 7,55%. Pencapaian tersebut mendongkark industry non migas tumbuh 4,46% di periode yang sama.

Sumber: KONTAN, 30 Juni 2016

Sumber: Juwita Aldiani, Pamela Sarnia

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: