Kredit Industri Perbankan Sulit Kembali ke Masa Jaya

Hasil gambar untuk kredit perbankanJAKARTA- Boleh jadi, ekonomi Indonesia belum akan tumbuh cepat dalam waktu dekat. Ini tercermin dari pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang masih seret dalam beberapa tahun mendatang.

Malah, masa keemasan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 20% sulit terulang lagi dalam waktu dekat. Rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan Indonesia yang terus beranjak naik membatasi ruang gerak perbankan dalam menyalurkan kredit.

Tjandra Lienandjaja, Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas mengatakan, rata-rata kredit perbankan tidak bisa tumbuh hingga 20% pada periode 2017-2019 lantaran DPR yang sudah tinggi, kecuali ada likuiditas berlebih di pasar.

Mengambil contoh tiga bank BUMN, Tjandra menyebutkan, rata-rata pertumbuhan kredit bank akan berkisar 13,5% per tahun hingga 2019 mendatang. Sementara, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan berkisar 12,25% per tahun.

Dengan asumsi pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumdhan DPK tersebut, rasio LDR akan terus menanjak. Sampai akhir tahun ini, LDR perbankan sebesar 89,7%. Namun tahun depan akan naik menjadi 90,5%, hingga menyentuh angka 93,5% di tahun 2019 mendatang. “Kredit bank tumbuh 15% itu sudah maksimal,,” terang Tjandra, akhir pekan lalu.

Segmen kredit yang masih akan menjadi penopang antara lain agribisnis, manufaktur dan kredit pemilikan rumah (KPR). Adapun segmen kredit yang berpotensi namun perlu diwaspadai antara lain sektor perkebunan kelapa sawit dan tambang batubara.

Erwin Riyanto, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengatakan, pelonggaran regulasi sudah dilakukan BI untuk mendongkrak kredit perbankan. Namun, perlambatan ekonomi membuat permintaan kredit tersendat. Dia berharap, dengan suku bunga kredit yang rendah dapat mendorong permintaan kredit.

Terakhir kali, pertumbuhan kredit mencapai lebih dari 20% terjadi pada tahun 2013 silam. Kala itu, kredit perbankan mampu tumbuh sampai 21,60%. Setelah itu, tren penyaluran kredit perbankan terus melambat hingga sekaran.

Sependapata, Tigor Siahaan, Direkktur Utama Bank CIMB Niaga mengatakan, masa-masa pertumbuhan kredit perbankan hingga 20% sampai 25% sudah selesai. Rasio likuiditas yang mepet menjadi kendalanya.

Hitungan Tigor, dalam beberapa tahun ke dapan perbankan Indonesia hanya mampu membukukan pertumbuhan kredit sekitar 10% hingga 12%.

Bob T. Ananta, Direktur Perencanaan dan Operasional Bank Negara Indonesia (BNI) menimpali, mungkin saja pertumbuhan kredit mencapai 20% sepert masa jaya lalu. Namun, itu butuh waktu beberapa tahun ke depan dan tergantung pula pertumbuhan eknomi Indonesia. “Korelasi untuk mencapai pertumbuhan itu dengan asumsi ada kenaikan pertumbuhan ekonomi,” kata Bob, kemarin.

Menurut Bob, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi harus digenjot. Harapannya, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia, makin tinggi pula kredit perbankan tumbuh. Saat ini, pertumbuhan kredit sekitar tiga kali lipat pertumbuhan ekonomi.

Penulis: Nina Dwiantika

Sumber: Harian Kontan, 26 Desember 2016

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: