Setoran Pajak Seret di 6 Bulan Pertama Tahun 2020

Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)

Kementerian Keuangan mencatat terjadi penurunan setoran pajak sepanjang enam bulan pertama di tahun 2020. Seretnya setoran pajak juga berdampak pada total pendapatan negara di semester I tahun ini.

Hingga semester I-2020, pendapatan negara tercatat Rp 811,2 triliun atau tumbuh minus 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 899,6 triliun. Total pendapatan negara itu, sebesar Rp 513,7 triliun berasal dari pajak. Angka realisasi penerimaan pajak tersebut tumbuh negatif 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 604,3 triliun.

Dirjen Pajak Kementerian Keuangan, Suryo Utomo membeberkan penyebab utama setoran pajak seret di enam bulan pertama atau semester I-2020. Menurutnya, pelemahan usaha dan perlambatan ekonomi pada kuartal II tahun ini menjadi salah satu penyebabnya.

Hal itu diungkapkannya saat memberikan sambutan pada acara upacara peringatan hari pajak tahun 2020, Selasa (14/7/2020).

“Nyatanya pelemahan usaha dan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II Tahun 2020 ini terjadi cukup dalam sehingga berdampak juga pada penerimaan pajak kita,” kata Suryo.

Dari total pendapatan negara, setoran dari pajak mencapai Rp 531,7 triliun ini setara 44,4% dari target Rp 1.198,8 triliun. Lebih lanjut Suryo menjelaskan, perpajakan mengemban dua fungsi utama yang sangat penting yaitu budgeter dan regulerend. Kedua fungsi ini harus dikelola dengan baik.

“Capaian penerimaan perpajakan sangat diperlukan untuk membiayai belanja-belanja pemerintah dan sekaligus menentukan seberapa dalam pembiayaan harus dipersiapkan. Di sisi yang lain, perpajakan ini juga harus dapat melindungi berbagai aspek ekonomi yang ada di Indonesia sehingga masyarakat maupun sektor usaha dapat terus tumbuh, berkembang, dan bersaing baik secara lokal maupun global,” ujarnya.

“Pemahaman inilah yang meski terus kita bangun sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia yang adil dan sejahtera,” tambahnya.

Suryo mengatakan pemerintah telah memberikan berbagai stimulus ekonomi yang diberikan melalui sektor perpajakan. Berbagai jenis fasilitas tersebut diharapkan mampu meringankan beban para pelaku ekonomi di saat kondisi yang tidak bersahabat ini.

“Selain mengawal penerimaan pajak, kita juga diharapkan mampu untuk memonitor implementasi kebijakan pemerintah tersebut. Mari kita pastikan bersama bahwa Wajib Pajak (WP) yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut menggunakannya sehingga tercapai tujuan dari kebijakan tersebut. Kita tentunya juga berharap bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat kembali tumbuh positif pada triwulan III dan selanjutnya,” ungkapnya.

Suryo juga bicara soal COVID-19 sebagai ancaman nyata bagi jiwa dan keselamatan pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Suryo bilang pandemi Corona yang kita hadapi beberapa bulan terakhir ini merupakan tantangan baru bagi Indonesia maupun seluruh negara.

“Saat ini, seluruh dunia dihadapkan pada berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat. Selain itu, COVID-19 ini juga telah menjadi ancaman yang nyata bagi jiwa dan keselamatan pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak,” kata Suryo.

Suryo menyebut, beberapa pegawai DJP telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa diakibatkan oleh adanya serangan COVID-19. Oleh karena itu dirinya menilai pandemi ini sebagai tantangan bagi DJP dalam mengamankan fungsi sebagai budgeter dan regulerend.

Lebih lanjut Suryo mengatakan, berbagai perubahan yang terjadi dengan cepat ini membawa dampak pada pengelolaan keuangan negara. Menurut dia, diperlukan langkah-langkah cepat dan taktis dalam menghadapi tantangan yang ada.

“Berbagai usaha dan upaya telah kita lakukan bersama mulai dengan melakukan perubahan atas APBN sampai dengan upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” jelasnya.

“Saya mengapresiasi seluruh kinerja saudara-saudara semua yang telah mendukung perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan pada masa-masa sulit ini. Dengan sinergi yang terus kita lakukan bersama, saya optimis bahwa Direktorat Jenderal Pajak akan selalu bisa diandalkan dalam mengelola penerimaan negara,” tambahnya.

Sumber: detik

http://www.pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: