Aset Kaum Tajir Naik 37%, Pajak Cuma 8%

Kantor pajak selalu menjadikan golongan orang kaya dan artis beken sebagai target utama menggenjot penerimaan negara. Nyatanya, strategi ini tak pernah berhasil. Sumbangan pajak kaum tajir selalu minim. AKHIR tahun ini jajaran pejabat Kementerian Keuangan (Kemkeu) dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kembali menyuarakan rencana pengumpulan pajak dari orang-orang kaya, termasuk pribadi dengan profesi bergaji tinggi seperti artis, dokter, dan pengacara.

tax-audit-1

DJP juga akan menjadikan sektor pertambangan sebagai sasaran utama tahun depan, guna mendongkrak penerimaan pajak. Rencana ini terkait dengan kegagalan DJP mendapatkan setoran pajak yang sesuai target tahun ini. Hingga 14 November 2014, realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp 812,11 triliun, atau 75,7% dari target Rp 1.072, 37 triliun. Sementara, target pajak tahun depan Rp 1.254 triliun.

Jumlah itu belum termasuk tambahan usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menginginkan tambahan target pajak tahun depan sebesar Rp 400 triliun.

Bagi Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, tak masalah mencapai target pajak tinggi tahun depan. Alasannya, ada potensi pajak yang besar, tapi belum tergali secara optimal. “Pajak pribadi orang kaya masih minim, dalam setahun, dari total pajak yang hampir Rp 1.000 triliun, kontribusinya hanya Rp 4 triliun,” ujar Bambang, pekan lalu. Orang kaya hanya setor pajak pribadi Rp 4 triliun dalam setahun.

Padahal, dari tahun ke tahun, aset orang kaya di Indonesia terus meningkat. Lihat saja data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per September 2014 yang mencatat jumlah tabungan dan deposito di atas Rp 1 miliar di bank umum mencapai Rp 2.590,99 triliun. Jumlah itu berasal 527.151 rekening. Bandingkan dengan data pada September 2012, simpanan di atas Rp 1 miliar mencapai Rp 1.895,67 triliun dari 382.922 rekening. Jadi, nomor rekening tumbuh 36,7%, dan nilai simpanan kaum tajir naik 36,6%.

Meski aset orang kaya naik pesat, penerimaan pajak dari PPh pribadi tetap rendah. Padahal strategi menggenjot pajak dari orang kaya dan perusahaan tambang sudah lama terdengar. Lihat saja, dengan mengacu data LPS tadi, dalam dua tahun terakhir aset orang kaya di bank umum tumbuh sekitar 36,68%. Namun, penerimaan PPh pasal 21 atau perorangan dalam dua tahun terakhir hanya tumbuh 7,89%.

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo yang untuk sementara menjabat Direktur Jenderal Pajak menyadari hal itu. Pemerintahan saat ini, katanya, ingin menorehkan prestasi penerimaan pajak. “Mulai sekarang, kami akan kerja cerdas, tegas, dan kerja keras membidik sektor-sektor yang selama ini belum optimal memberi pajak,” ujar Mardiasmo. Apalagi, mulai tahun depan, DJP kemungkinan mendapat kewenangan tambahan. Presiden Jokowi sudah merestui, DJP berhak mengelola sumber daya manusia sendiri. Jadi, DJP bisa lebih leluasa menambah pegawai, yang selama ini menjadi hambatan.

Pakar perpajakan dari Center Indonesia for Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo bilang, hanya ketegasan yang dibutuhkan DJP untuk menggenjot penerimaan pajak. Namun, hal ini tak mudah. Berkaca pada pengalaman selama ini, DJP letoi mengejar pengemplang pajak. DJP butuh kerjasama banyak pihak untuk mengejar para wajib pajak agar mau membayar pajak.

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: