Bremm…! Adu Balap di Pasar Motor Gede

0000403426

Produsen gencar menawarkan motor sporty bermesin besar. Nekat. Kata ini cocok untuk mewakili tekad para penjual motor bereksperimen dengan segmen motor berkapasitas mesin besar, atau yang popular disebut motor gede (moge). Terutama, pabrikan merek-merek motor Jepang yang mulai mendatangkan moge desain sporty berkapasitas mesin di atas 500cc.

Bayangkan, infrastruktur jalan di Indonesia belum cocok betul dengan moge balap. Selain itu, para peminat motor gede tipe balap masih sebatas pehobi. Lebih mengherankan lagi, produsen motor itu sebenarnya sudah punya pangsa pasar cukup besar di produk bebek dan motor otomatis alias skutik (lihat boks).

Coba tengok aksi PT Suzuki Indomobil Sales (Suzuki) dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (Yamaha). Baru saja, Suzuki memboyong produk-produkk moge balapnya ke Indonesia seperti seri V-Storm, Suzuki DL 650 AL3, DL 650 A, GSR 750, GSR 750 L4, serta Suzuki GX 1300 RAL4.

Begitu pula Yamaha yang mengimpor Yamaha YZF-R1 dan YZF-R6. Ini belum termasuk seri skutik besar tipe T-Max 550, serta seri street fighter berkubikasi jumbo, yaitu Yamaha V Max 1700 cc.

Nah, yang bakal baru mau masuk adalah merek Honda. PT Astra Honda Motor santer dikabarkan akan memboyong moge Honda CB 500 F, Honda CBR 600 RR, dan Honda CBR 1000 RR. Tentu, kedatangan mereka akan meramaikan pasar yang sebelumnya cuma didominasi oleh Kawasaki dan Ducati.

Untuk catatan, produk Kawasaki yang sudah lebih dulu beredar di Indonesia antara lain Kawasaki ER-6N, Kawasaki ZX-6R 636, Ninja 650, Versys 650, Z 800, dan ZX-14R. sementara Ducati, lebih dulu bercokol dengan moge-moge seri Monster dan Diavel.

Seakan ingin menunjukkan keseriusannya di segmen baru, Yamaha sudah bersiap menambah produknya di tahun ini dengan merilis WR-250 dan street fighter MT-09. Kedua motor gahar ini dibanderol di kisaran Rp 93 juta-Rp 500 juta.

Tak mau kalah dengan Yamaha, Suzuki siap memanaskan hati penggemar moge dengan dua varian baru tahun ini. Yohan Yahya, General Manager Marketing 2-Wheel PT Suzuki Indomobil Sales, bilang, dua varian itu berkapasitas 1.000 cc. “Salah satu model sport firing. Satu lagi street fighter,”ujar Yohan.

Muka lama

Tapi, para pemain lama tidak takut. PT Supermotto Indonesia sebagai pemegang merek resmi Ducati sudah punya strategi menghadapi produk-produk baru asal Jepang itu. Tahun ini, Ducati berniat menghadirkan seri Scrambler.

Agustus Sani Nugroho, Presiden Direktur Supermotto Indonesia optimis, Scrambler yang sudah dinanti loyalis Ducati bakal mampu mendongkrak penjualannya. Ada tiga varian Scrambler yang masuk Indonesia, yaitu original, full throttle, dan classic. “Selain itu, ada varian baru juga yang akan kami bawa. Tapi, masih rahasia,” terang Sani.

Tahun ini, sani menargetkan penjualan Ducati di kisaran 400 unit. Satu hal yang menjadi concern Sani adalah imbas pajak barang mewah. Alhasil, ”kami tak bisa fokus ke angka target sekarang karena imbas tarif pajak sangat terasa bagi Ducati di kuartal pertama tahun ini,” tegas Sani.

Sani mengeluh, imbas pajak terbesar ke harga motor. Harga motor Ducati kali ini tidak bisa di bawah Rp 350 juta lagi. “Kalo tidak stagnan, saya kira akan pertumbuhan penjualan Ducati akan lambat,” terang Sani.

Sementara Kawasaki, yang dari awal memang fokus di produk motor sporty tahun ini menargetkan penjualan sekitar 1.300 unit. Michael Chandra Tanadhi, Deputy Head Sales and Promotion Marketing Division Kawasaki Motor mengakui, belum akan meluncurkan produk baru.

Efek komunitas

Selain varian baru, dua kunci persaingan di antara para pemain moge ini adalah layanan dan komunitas. Karena menyasar konsumen super kaya, para produsen berlomba menawarkan program  purna jual yang tentu berbeda dengan segmen motor bebek atau skutik. Sebut saja dari mulai program layanan servis datang ke rumah konsumen hingga kegiatan balap di Kawasan Sentul.

Ducati dan Kawasaki memiliki program safety riding training. Kegiatan yang biasanya diikuti oleh para konsumen moge ini sebagai sarana pembunuhan hobi dan training kecil-kecilan untuk safety riding dengan motor sport milik mereka. “Ducati kadang suka bikin touring juga dengan klub,” tambah Sani. Sentul biasanya menjadi tempat yang digunakan para produsen untuk mengadakan aktivitas dengan konsumen.

Sedang Yamaha mengklaim, dua sampai tiga bulan sekali mengadakan aktivitas dengan komunitas moge Yamaha di sentul dan berbagai acara touring. Maklum saja, acara komunitas moge menjadi sarana pemasaran ampuh. Di samping penjualan dari mulut ke mulut, biasanya ada pembeli potensial yang diajak turut serta di komunitas tersebut. Di komunitas, biasanya konsumen moge juga lebih suka mencoba dulu sebelum membeli. “Biasanya konsumen moge adalah mereka yang sudah memiliki moge lain, namun penasaran dengan moge terbaru,” terang Masykur.

Di sudut lain, Kawasaki tak tanggung-tanggung menyediakan layanan ke konsumen mereka. Contoh saja, Kawasaki mengajak para konsumen moge data ke pabriknya di Jepang. Tahun ini, Kawasaki berencana membawa konsumen ke pabrik di Thailand. “Dengan layanan ke luar negeri seperti itu biasanya efek ke konsumen cukup ampuh,” terang Michael.

Sedang Yamaha memilih menerapkan strategi memperluas jaringan diler. Jika sebelumnya lebih fokus di diler Jakarta dan bali, tahun ini akan tambah di daerah Bandung dan Medan. Jadi, produk moge Yamaha sebenarnya tak disebar di semua diler. Namun, tetap saja penjualan dan pesanan dilayani di diler resmi Yamaha di seluruh Indonesia. “Nanti main dialer Jakarta dan Bali yang akan mendistribusikan moge pesanan,” terang Masykur.

Demikian pula Suzuki. Saat ini Suzuki punya enam diler khusus moge. Keenam diler tersebut berlokasi di Pulau Jawa saja. Suzuki memanfaatkan 500 bengkel resmi mereka untuk menangani moge Suzuki. “Jadi tinggal bawa saja ke bengkel terdekat, teknisinya sudah kami latih,” terang Yohan.

Yang jelas, Kawasaki punya rencana membuka 20 outlet Kawasaki baru di beberapa daerah di Indonesia. Sasarannya, ibukota kabupaten. Alasannya, agar lebih dekat dengan konsumen tingkat kabupaten. Total diler Kawasaki saat ini sekitar 260 diler di Indonesia.

Kalau Ducati, memiliki strategi beda lagi. Di diler yang sudah ada sekarang, seperti di Bali, Ducati menerima rental motor mereka. Kebanyakan para calon pembeli ingin mencoba dulu motor yang ada. Dan Ducati siap melayani itu. “Kami sediakan karena biasanya menjadi suka dan mau beli setelah dirasakan beberapa waktu,” tambah Sani.

Cuma, para pemain-pemarin moge yang baru data itu tetap lupa. Kata pengamat otomotif Soehari Sargo, para konsumen moge pada dasarnya mereka yang memiliki dompet tebal. Nah, jumlah konsumen itu di Indonesia masih sedikit. Belum lagi infrastruktur masih jelek. Maka, tak heran jika moge Cuma digunakan di akhir pekan oleh si pemilik. Karena itu, Soehari menyimpulkan, pasar moge akan lama sekali naiknya.

Soehari berharap, para pemain baru moge itu bukan cumma memboyong produk berbentuk CBU. Tapi, mau memanfaatkan berbagai insentif dari pemerintah untuk berinvestasi dengan membangun pabrik. “Seharusnya pengusaha moge yang ada memanfaatkan insentif buka pabrik moge juga di Indonesia, karena akan dapat insentif kan?” pungkas Soehari.

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: