Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015, pemerintah mematok penerimaan pajak sebesar Rp 1.294 triliun. Namun, hingga 31 Maret 2015, realisasi penerimaan pajak baru Rp 198,24 triliun. Padahal di periode yang sama tahun lau, penerimaan pajak mencapai Rp 207 triliun.
Kuartal I tahun ini menjadi rapor merah bagi Direktorat Jenderal Pajak dan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Di akhir tahun, selisih antara target dengan realisasi penerimaan (shortfall) pajak sepertinya tak terhindarkan.
Besarnya target penerimaan pajak dikritik oleh mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Darmin Nasution. Mantan gubernur Bank Indonesia itu menilai pemerintah terlalu jumawa dalam menargetkan penerimaan pajak. Kata Darmin, dengan upaya luar biasa apapun, shortfall tidak akan terhindarkan.
Darmin memperkirakan shortfall tahun ini bisa mencapai 17,8% atau setara dengan Rp 180 triliun.
Prediksi itu dengan asumsi, pertumbuhan ekonomi riil sebesar 5,8% ditambah inflasi 4,4%, maka pertumbuhan penerimaan pajak akan sebesar 10,2%. Jika ditambah upaya luar biasa, paling besar pertumbuhan pajak 12%.
Rencana penerapan kebijakan sunset policy pun dianggap tak akan membantu. “Untuk bisa menerapkan sunset policy butuh persiapan minimal satu tahun,” ujar Darmin, Kamis (9/4).
Keraguan juga disampaikan oleh Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ahmadi Nursupit. Ahmadi mengaku DPR sempat ragu dengan target dan asumsi pemerintah tersebut.
Namun, mengingat ini APBN-P pertama yang diajukan pemerintah baru, DPR meloloskan. Jika bukan diajukan oleh pemerintahan baru, Ahmadi tidak akan meloloskan target pajak ini.
World Bank Atau Bank Dunia juga sudah memprediksi realisasi penerimaan pajak Indonesia di 2015 bakal kembali meleset dari target. Sebelumnya, lembaga ekonomi yang bermarkas di Amerika Serikat ini menghitung, pos penerimaan perpajakan tahun ini hanya bisa meraup Rp 1.199 triliun. Padahal dalam APBN-P 2015, targetnya mencapai Rp 1.489 triliun. “Shortfall penerimaan perpajakan didorong oleh asumsi makro yang meleset yakni pertumbuhan dan harga minyak,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia Untuk Indonesia Ndiame Diop
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak

Tinggalkan komentar