TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan sudah tak bisa menjadikan komoditas menjadi tiang penyangga pendapatan negara. Musababnya turunnya harga komoditas dan minyak mentah memukul pendapatan negara cukup signifikan.
“Rp 150 triliun hilang karena penurunan harga minyak,” ujar Bambang di Hotel Bidakara, Rabu, 29 April 2015. Harga minyak juga diprediksi takkan bergerak banyak di kisaran US$ 60-US$ 80 per barel.
Untuk itu, menurut Bambang, meskipun sudah melepas beban subsidi BBM, penerimaan negara harus terpukul karena faktor penurunan harga tersebut. Bambang mengatakan akan mengkedepankan pendapatan negara melalui pajak dan non pajak.
Sembari mengoptimalkan sistem penerimaan pajak negara, pemerintah juga akan terus mengedepankan pembangunan infrastruktur dasar. “APBN 2016 dibuat dengan persiapan yang detil dan menjamin kelanjutan dari belanja APBN sebelumnya (2015).” .
Belanja negara yang berfokus pada belanja infrastruktur produktif masih menjadi prioritas. Begitu pula dengan pemberian subsidi solar, listrik, pupuk, dan bibit unggul.
Begitu pula dengan peningkatan transfer dana daerah, pembangunan sejuta rumah, penyertaan modal negara untuk BUMN infrastruktur, pangan, dan perhubungan yang akan terus dilanjutkan.
Bambang tak menampik jika kebijakan fiskal tersebut takkan menghidari defisit anggaran. “Negara berkembang wajar jika defisit, karena peluang pertumbuhannya masih besar,” kata dia. Pun, Bambang mengatakan menjaga defisit anggaran tak lebih dari 1,9 persen adalah salah satu kebijakan fiskal negara di tahun 2016.
Sumber: TEMPO
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar