Persoalan Dana

10Tidak seperti target pemerintah sebelumnya, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7% pada kuartal I-2015. Data ini memang masih lebih bagus ketimbang rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 3-4%. Namun, data ini menyadarkan sementara orang bahwa kelesuan ekonomi memang sedang terjadi. Satu hal yang tadinya masih disangkal-sangkal karena pemerintah tengah menyiapkan sejumlah proyek infrastruktur.

Toh pemerintah masih optimistis, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan bisa melampaui angka 5%. Lagi-lagi, proyek-proyek infrastruktur menjadi salah satu alasan untuk merealisasikan optimism tersebut. Masuk akal. Jika proyek-rpyek infrastruktur meluncur, penyerapan tenaga kerja mungkin bertambah. Dengan demikian, penghasilan atau daya beli masyarakat, yang saat ini tertekan, mungkin meningkat.

Namun, terus terang, ada keraguan apakah sederet program infrastruktur pemerintah akan berjalan mulus. Persoalan pokoknya adalah soal pendanaan.

Berdasarkan liputan KONTAN, sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang seharusnya mendapatkan jatah suntikan penyertaan modal negara (PNM) mengaku belum menerima dana yang dijanjikan. Di antaranya, PT Perumnas yang mendapat tugas membangun rumah murah, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang bertugas memperbanyak kapal angkut, dan PT ASDP Indonesia Ferry yang bertugas mewujudkan tol laut.

Untuk mewujudkan perintah pemerintah, mereka saat ini merogoh kocek masing-masing. Tak jelas mengapa dana PNM belum cair. Tapi, jika tak kunjung mengucur, tentu akan menimbulkan kekhawatiran, tugas mereka tak tuntas.

Kekhawatiran soal pendanaan proyek-proyek pemerintah juga muncul lantaran penerimaan pajak ternyata di bawah target. Bahkan, pada kuartal I-2015, penerimaan pajak turun 9,8% dari Rp 246,4 triliun pada kuartal I-2014 menjadi hanya Rp 222,4 triliun.

Lebih ketar ketir lagi karena sumber pendanaan lain, yakni penerbitan surat utang, mendapat respons yang buruk. Untuk pertama kalinya, pada 28 April lalu, penawaran yang masuk dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) tidak mencapai target indikatif pemerintah. Dari target Rp 10 triliun, peminat yang masuk hanya Rp 7,905 triliun. Itu pun, pemerintah cuma mengambil Rp 4,85 triliun.

Semoga, ini bukan pertanda bahwa ekonomi kita memasuki masa krisis.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: