Gejolak Krisis Mengancam Harga Batubara

30Perlambatan ekonomi memangkas pemintaan batubara

JAKARTA. Harga batubara masih bertahan di tengah keterpurukan harga komoditas global. Namun, lesunya permintaan bakal menggerogoti daya tahan komoditas energi ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (24/7) lalu, harga batubara kontrak untuk pengiriman Agustus 2015 di bursa ICE Futures Europe naik 0,25% menjadi US$ 59,65 per metrik ton. Sepekan terakhir, harga komoditas yang kerap disebut emas hitam ini naik 0,51%.

Analis dan Direktur Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim menilai, batubara relatif bisa bertahan ditengah jebloknya harga komoditas dunia. Sebab, rencana sejumlah negara menggunakan bahan bakar ramah lingkungan masih terbentur biaya tinggi.

Maklum, perekonomian global sedang seret. “Peralihan pemanfaatan energi ramah lingkungan juga tidak bisa cepat, setidaknya tiga tahun mendatang baru terasa perubahannya,” papar Ibrahim, Jumat (24/7).

Asal tahu saja, kampanye penggunaan energi bersih, seperti gas alam, di sejumlah negara memicu penurunan harga batubara. Apalagi, persaingan batubara dengan gas sudah cukup ketat, sebab harga gas lebih murah.

Meski saat ini masih bertenaga, namun gejolak perekonomian global mengancam prospek batubara. Perlambatan ekonomi global, terutama di China dan Eropa, bakal menggerogoti permintaan batubara. Lihat saja, ekspor batubara dari Indonesia yang jeblok 49% sepanjang semester pertama lalu. Ekspor Australia juga terpangkas 25% pada periode yang sama.

Menurut Ibrahim, salah satu pemicu penurunan ekspor Indonesia dan Australia karena berkurangnya permintaan dari China. Impor batubara Negere Tembok Besar turun 38% pada semester I-2015.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tri Wibowo mengatakan, pemerintah China berupaya menggenjot perekonomian domestik dengan memberdayakan hasil penambang lokal. “Pemerintah melindungi penambang domestik dengan menekan impor batubara,” jelasnya.

 

batubaraTren masih bearish

Wahyu memperkirakan, pekan ini harga batubara bakal dibayangi sentimen penguatan dollar AS. Mata uang Negeri Paman Sam semakin kokoh karena data ekonomi terbaru cukup solid, sehingga kian membuka peluang bagi Bank Sentral AS mengerek suku bunga pada tahun ini. Penguatan dollar AS akan menjegal laju harga komoditas termasuk batubara, karena diperdagangkan dalam mata uang yang sedang mahal.

Meskipun permintaan batubara di Indonesia diperkirakan meningkat karena proyek pembangunan pembangkit listrik, namun Wahyu menilai sentimen tersebut hanya bisa menopang harga sesaat. “Secara fundamental, harga batubara masih dalam tren bearish,” ucap dia.

Wahyu memprediksi, hingga tutup tahun ini, harga batubara akan diperdagangkan di bawah level US$ 60 per metrik ton.

Ibrahim memperkirakan, pekan ini batubara rawan tertekan. Jebloknya harga minyak mentah pasti akan ikut menyeret harga komoditas energi lainnya. Secara teknikal, harga masih bearish. Indikator moving average (MA) dan bollinger band bergerak 30% di atas bollinger bawah. Ini mengindikasikan penurunan. Garus MACD, stochastic dan RSI juga bergerak turun.

Pekan ini, Ibrahim memprediksi, harga batubara bergerak di kisaran US$ 58,20 – US$ 60 per metrik ton. Sementara, Wahyu memperkirakan, sepekan ini, harga sekitar US$ 57 – US$ 61 per metrik ton. “Hari ini, bisa menuju support US$ 58, dengan resistance di level US$ 60,” katanya.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan komentar