Mencermati Dampak Penurunan Inflasi

27Dalam kondisi normal, bulan yang terdapat perayaan Hari Raya Idul Fitri merupakan penyumpang tingkat inflasi tersebesar. Tercatat dari tahun 2008 hingga 2014, pertumbuhan inflasi dari bulan ke bulan (mtm) sekitar 0,7 %-1,0%. Begitu juga pada tahun 2015. Bila diperkirakan pertumbuhan inflasi juli 2015 (mtm) sekitar 0,7%-0,9%, maka tingkat inflasi juli 2015 diestimasi akan turun menjadi sekitar 7,01%-7,23% (yoy). Angka tersebut juga dapat menandakan bahwa tingkat inflasi pada bulan juni 2015 yang sebesar 7,26% (yoy) merupakan yang paling tinggi di tahun 2015.

Selama tidak ada kebijakan yang ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya, penurunan tingkat inflasi akan terus terjadi hingga akhir tahun bahkan diperkirakan tingkat inflasi akan berada di sekitar 3%-4%. Tingkat inflasi tersebut dapat dikatakan rendah setelah dua tahun berturut-turut tingkat inflasi di atas 8%, yaitu pada tahun 2013 (8,06%) dan 2014 (8,36%).

Beberapa faktor yang dapat menekan tingkat inflasi tahunan (yoy) di akhir tahun 2015, diantaranya: Pertama, mulai efektifnya distribusi barang komoditas pokok (volatile food) sehingga antara pasokan dan kebutuhan atas komoditas pokok terkontrol dengan baik.

Kedua, masih cenderung ketatnya kebijakan moneter bank sentral dengan menahan suku bunga acuan yang tinggi akibat masih besarnya ancaman pelarian modal (capital flight) di tengah ketidakpastian global.

Ketiga, melemahnya daya beli masyarakat akibat berkurangnya lapangan pekerjaan, seperti tingkat pegangguran di bulan Februari 2015 yang tercatat oleh badan pusat statistik (BPS) meningkat 300.000 orang bila dibandingkan dengan Februari 2014, sehingga total mencapai 7,45 juta orang.

Keempat, mulai menghilangnya efek kenaikan administered price, seperti efek kenaikan BBM di pertengahan tahun 2013 sudah menghilang pada pertengahan tahun 2014. Hal yang sama pada tahun 2015, efek kenaikan bbm pada akhir tahun 2014 diperkirakan menghilang pada bulan November atau desember 2015.

Bukan rendahnya tingkat inflasi yang diinginkan oleh para pelaku ekonomi di suatu negara, melainkan tingkat inflasi yang stabil dan terukur. Setidaknya hal tersebut dapat dilihat di negara maju saat ini pada umumnya tingkat inflasi rendah, bahkan dapat negatif seperti di jepang. Rendahnya tingkat inflasi bukanlah suatu yang diinginkan oleh otoritas moneter karena rendahnya tingkat inflasi dapat mengindikasikan perputaran roda perekonomian juga rendah.

29Dampak penurunan inflasi

Tren penurunan tingkat inflasi yang terjadi terus-menerus dapat memberikan dampak yang negatif bagi perekonomian dalam negeri. Dampak tersebut dapat dilihat dari sisi konsumen dan produsen.

Dari sisi konsumen, tren penurunan inflasi dapat memberikan insentif untuk menunda konsumsi karena ada kecenderungan untuk menunggu harga-harga turun lebih jauh. Di sisi lain, ketika nilai suku bunga tetap tinggi namun tingkat inflasi menurun tajam dapat membuat tingkat suku bunga riil (real interest rate) meningkat sehingga konsumen cenderung meningkatkan simpanannya dan mengurangi konsumsinya.

Kecenderungan menahan konsumsi dan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang akan semakin besar ketika konsumen menilai kondisi pemulihan ekonomi belum ada kepastian ke depan. Oleh karena itu, penurunan tingkat infllasi pada umumnya tidak selalu mendorong pengingkatan konsumsi.

Saat ini, kondisi konsumen menahan konsumsinya telah tecermin pada survei Konsumen Bank Indonesia bulan juni 2015. Survei tersebut menunjukkan rata-rata pendapatan konsumen untuk konsumsi menurun 0,6% dari bulan sebelumnya menjadi 67,1%. Sebaliknya, porsi tabungan terhadap pendapatan naik sebesar 0,4% menjadi 19,7%.

Dari sisi produsen, tren penurunan harga dapat menurunkan insentif usaha. Seperti diketahui, pada umumnya produsen lebih menyukai terjadinya kenaikan harga daripada penurunan harga. Apabila terjadi kenaikan harga yang terukur, kondisi ini juga mendorong peningkatan omzet. Di sisi lain, penurunan harga barang, terlebih pada barang-barang yang telah dicadangkan, akan membuat penurunan omzet dan pendapatan yang pada akhirnya menurunkan laba.

Penurunan daya beli konsumen turut juga menekan penjualan barang yang mana hal tersebut sudah mulai terjadi. Survei penjualan eceran Bank Indonesia mengindikasikan bahwa secara tahunan, penjualan eceran pada mei 2015 tumbuh melambat. Pada survei yang sama menunjukkan indeks penjualan riil (ipr) mei 2015 sebesar 179,7, tumbuh 19,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan april 2015 sebesar 23,1% (yoy).

Kondisi melemahnnya penjualan eceran pada akhir tahun masih ada kemungkinan terjadi kembali. Hal tersebut terindikasi dari penurunan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penurunan tingkat inflasi yang tidak dibarengi dengan penyesuaian tingkat suku bunga, tingkat suku bunga riil meningkat, dapat menurunkan insentif konsumsi dan produksi domestik. Di sisi lain, dampak tingkat suku bunga riil tinggi adalah meningkatnya beban utang konsumen dan produsen. Konsumen dan produsen dihadapkan beban utang yang lebih tinggi, karena nilai suku bunga tidak turun, namun di sisi lain harga barang yang dijual justru mengalami penurunan.

Meningkatnya beban utang konsumen dan produsen pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas kredit perbankan. Semakin tinggi beban utang yang ditanggung akan membuat semakin rendah juga kemampuan bayar beban utang sehingga rasio non performing loan (NPL) perbankan akan cenderung meningkat. Apabila kondisi di atas tidak diantisipasi, hal tersebut akan membuat pertumbuhan ekonomi semakin menurun.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: