Rupiah Melemah, Harga Dagangan Bisa Naik Lagi

25JAKARTA. Efek rupiah yang sepanjang tahun ini masih saja terkapar di atas Rp 13.000 lebih per dollar Amerika Serikat (AS), membuat khawatir para peritel. Salah satunya adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Menurut Hans Prawira, Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, bila kondisi ini terus berlanjut, ia khawatir para pemasok produk yang menjajakan barang ke peritel bakal mengerek harga. “Tapi selama kurs rupiah masih bertahan hingga Rp 13.500 per dollar AS dan tidak terlalu naik, kami masih bisa bertahan,” katanya, Selasa (28/7).

Manajemen Sumber Alfaria sendiri sejatinya punya strategi menyiasati kenaikan harga dari para pemasok. Maklum, antara stok harga baru dari pemasok dan stok harga barang yang ada di gudang jelas berbeda. Caranya adalah mengambil harga tengah antara harga lama (yang lebih murah) dan harga baru (yang lebih mahal).

Namun, jika kenaikan harga dari pemasok tak lagi terhindarkan, maka dengan terpaksa Sumber Alfaria bakal mengerek harga. Yakni berkisar 3% sampai 4%. Meski begitu, peritel ini bakal memompa harga secara bertahap. “Soalnya, permintaan (daya beli) masyarakat sedang melemah, sehingga kamu tidak bisa langsung menaikan harga secara sekaligus,” katanya.

Tergantung pemasok

Kondisi ini diperkuat Wiwiek Yusuf, Direktur PT Indomarco Prismatama, pengelola minimarket Indomaret. Menurutnya, peritel termasuk Indomaret mendapatkan barang dari para pemasok atau prinsipal produk. Malah terkadang antara principal produk dan pemasok satu institusi.

Alhasil, Indomarco hanya bersifat sebagai penjual barang semata. “Jadi, kami bukan price maker, tidak bisa menentukan harga. Soal harga, itu ada ditangan pemasok,” jelas Wiwiek, kepada KONTAN, Rabu (29/7).

Meski rupiah terus melemah terhadap dolar AS, tapi selama pemasok belum menaikan harga, Indomarco juga tidak bisa menaikan harga jual. Pihaknya juga tidak memiliki kekuatan untuk meminta pemasok menahan harga.

Kalaupun harga naik, Indomarco tidak bakal mengungkit harga sekaligus. Tapi secara bertahap. “Soalnya, pemasok sudah punya stok barang yang cukup sekitar dua bulan,” ucap dia yang belum menentukan apakah Indomarco akan segera mengerek harga jual atau tidak.

Sedangkan menurut pandangan Matthew Wibowo, analis dari Mandiri Sekuritas, dalam kondisi ini, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) pasti tertekan.

Pasalnya sekitar 60% yang dijajakann peritel di bawah bendera MAPI adalah impor. Perusahaan ini juga masih dihadapi oleh tarif impor baru meski sifatnya terbatas. “MAPI masih bisa subsidi silang sehingga dapat menjaga margin. Soalnya, MAPI memiliki portofolio yang luas,” katanya. Hanya saja, KONTAN belum bisa meminta tanggapan dari, Sekretaris Perusahaan MAP Fetty Kwartati soal dampak melemahnya kurs ini.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: