Agar Negeri Tempe Tak Lagi Impor Kedelai

indexASEAN ingin mengurangi ketergantungan pada kedelai impor

Ketika orang lain sibuk menyiapkan diri menyambut Idul Fitri kemarin, para pakar yang tergabung di Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) justru sibuk membuat petisi. Tak main-main, mereka menuntut agar tempe dinobatkan sebagai warisan budaya dunia.

Dalam petisi yang dibuat di situs change.org, Pergizi Pangan meminta UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pendidikan, sains dan kebudayaan, untuk memasukkan tempe ke dalam daftar warisan budaya dunia atau Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Dalam petisinya, Pergizi Pangan mengungkapkan, bukti sejarah menunjukkan, tempe sebagai produk fermentasi dengan bahan dasar kedelai pertama kali dibuat masyarakat Jawa Tengah. Tempe pun sudah lazim dikonsumsi sejak 1700-an.

Terinspirasi dari pengakuan UNESCO terhadap batik yang dimasukkan ke daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity, Pergizi meminta penganan asli Indonesia yang selama ini dikenal sebagai pangan masyarakat kelas sosial ekonomi rendah itu, diakui sebagai warisan budaya Indonesia.

Buat orang Indonesia yang biasa makan tempe, ini permintaan wajar. Kudapan ini memang menyediakan jawaban akan kebutuhan terhadap lauk yang lezat, memiliki nilai gizi yang tinggi, sekaligus harganya terjangkau. Jangan heran, begitu harga tempe, dan juga tahu, melonjak, masyarakat langsung menjerit panik.

Makanya, tempe dan tahu menjadi barang kebutuhan pokok, dan kedelai menjadi bahan pangan strategis. Meski demikian, kalau melihat kondisi kedelai, agak sulit membayangkan kedelai sesungguhnya adalah bahan pangan strategis. Maklum, produksi dan harga tahu dan tempe sering ajrut-ajrutan akibat harga kedelai melangit.

Menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini jelas persoalan penting. Sebab, ASEAN memasukkan kedelai sebagai salah bahan pangan penting untuk membangun keamanan pangan kawasan setelah berlakunya MEA. ASEAN Food Security Information bahkan meminta perhatian khusus dari setiap negara untuk meningkatkan produksi kedelai. Pasalnya, hampir semua negara ASEAN sangat bergantung pada kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan.

Saat ini, satu-satunya negara Asia Tenggaa yang neraca kedelainya surplus hanya Kamboja. Padahal, kalau dilihat dari jumlah, produksi kedelai negara kita sebenarnya yang terbesar di ASEAN. Cuma, produksi kita tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Negara ASEAN lain juga mengalami defisit dengan konsumsi lokal jauh lebih besar daripada produksi. Totla produksi kedelai ASEAN hanya mencapai 21,5% dari total kebutuhan seluruh Asia Tenggara. Karena kedelai masuk komoditas pangan penting bagi rakyat ASEAN, upaya meningkatkan produksinya menjadi penting.

Buat Indonesia, jelas lebih penting lagi kareena kita tak memasukkan kedelai sebagai komoditas yang masuk dalam daftar highly sensitive list MEA. Tanpa upaya serius untuk mencapai swasembada, produksi kedelai semakin tergerus dan makin tergantung pada impor.

Menurut Khudori, Anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat, masalah yang membelit komoditas kedelai lahir akibat kombinasi tiga hal yakni penurunan hasil, penurunan harga dan serbuan kedelai impor. Penurunan hasil karena daya saing kedelai anjlok dibandingkan komoditas lain.

Petani lebih suka bercocok tanam jagung lantaran kedelai tidak menguntungkan. Berkurangnya minat petani menanam kedelai sebenarnya sudah terjadi sejak 1992. Tapi, pasar kedelai domestik benar-benar hancur setelah Indonesia menjadi pasien Dana Moneter Internasional (IMF) tahun 1997-1998.

Karena membutuhkan bantuan, Indonesia harus menerima syarat IMF untuk meliberalisasi pasar pangan termasuk kedelai. Tak hanya subsidi yang diberangus, benteng penghalang non tarif pun dilucuti. Banjir kedelai impor pun mulai terjadi.

 

indexPenurunan Hasil

Pada saat yang sama, perhatian pada kedelai mengendur. Fokus kebijakan pangan bias ke beras. Akibatnya, kedelai pun terabaikan. Jika pada tahun 1992 silam luas panen kedelai negeri kita masih mencapai 1,67 juta hektare area (ha), tahun lalu lahan kedelai tinggal 620.310 ha.

Tahun 1992 produksi kedelai mencapai 1,87 juta ton, sedang tahun 2014 produksi kedelai hanya 921.330 ton. “Ini salah satunya akibat kebijakan liberalisasi pasar pangan,” kata Khudori. Harga kedelai yang rendah di pasaran membuat petani lebih memilih menanam jagung.

Jika dikalkulasi, produksi menurun 3,05% per tahun, dan luas panen menurun 4,05% per tahun. Bahkan, dalam 19 tahun terakhir, luas panen menurun 36,7%. Konsekuensinya, produksi kedelai pun merosot. Pada saat bersamaan, permintaan kedelai terus meningkat sebesar 10% per tahun.

Ketiadaan jaminan harga membuat kehancuran modal sosial petani kedelai mencapai titik sempurna. Perlahan pasar kita menjadi tergantung pada impor. Dan ketergantungannya semakin akut, dengan 90% kedelai impor didatangkan dari Amerika Serikat (AS).

Ini jelas menimbulkan kerentanan dari aspek harga dan pasokan yang serius. Menurut Johanda Fadil, Sekretaris Jenderal Himpunan Perajin Tahu Indonesia (Hipertindo), bilang, tren kenaikan harga kedelai tidak bisa dihindari setiap tahun. Rata-rata kenaikan harga kedelai di pasar internasional bisa mencapai Rp 500 per kg hingga Rp 1.000 per kg setiap tahun.

Solusinya, Indonesia harus berswasembada kedelai. Pemerintah Presiden Joko Widodo dari awal sudah mematok target ambisius: swasembada beras, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun serta swasembada gula dan daging dalam lima tahun. Pertanyaannya, tentu saja, bagaimana cara dan strategi mencapai target tersebut?

Sebab, swasembada kedelai berulangkali dicanangkan. Namun, realisasinya jauh panggang dari api. Dari target swasembada di tahun 2017 untuk tiga komoditas, kedelai yang bakal paling sulit dicapai.

Solusinya, pemerintah harus merakit kebijakan komprehensif. Khudori mengusulkan, di level usaha tani harus ada kebijakan yang memungkinkan petani kembali mau menanam kedelai. Pemerintah harus memberikan subsidi dan kemudahan akses modal, serta penetapan jaminan harga dasar sebagai jaring pelindung kerugian.

Pemerintah juga harus menggalakkan riset di on farm dan pengolahan. Tanpa riset, produktivitas sulit dilipatgandakan. Produktivitas kedelai Indonesia yang 1,3 ton/ha, kurang dari setengah tingkat produktivitas AS, Kanada, Brasil, Argentina, dan Italia. “Kini sudah ada varietas unggul seperti Anjasmoro, Ijen, Mahameru,” kata dia.

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah menekan memorandum of understanding (MoU) dengan Universitas Gajah Mada (UGM). Kerjasama ini difokuskan untuk peningkatan produksi kedelai. UGM, kata Amran, sudah megembangkan varietas kedelai yang produksinya mencapai 3,5 ton/ha, jauh di atas rata-rata produktivitas kedelai nasional. Varietas ini yang akan dikembangkan.

Untuk membantu petani menanam kedelai, pemerintah juga merancang subsidi benih tanaman pangan. Tahun ini, pemerintah menganggarkan subsidi sebesar Rp 939,4 miliar. Subsidi akan dialokasikan untuk komoditas yakni, padi hibrida dan padi inbrida, serta kedelai. Kedelai sebagian subsidi senilai Rp 173 miliar dengan volume sebesar 15.000 ton untuk luas area 300.000 ha. Pemerintah akan memberikan subsidi 75% sampai 90% dari harga benih saat ini. Untuk kedelai, subsidi yang diberikan Rp 11.535 per kg dari harga Rp 15.380 per kg.

Kementan juga membidik daerah Timur Indonesia sebagai sentra produksi kedelai. Perluasan lahan ini menjadi keharusan karena padi, jagung, tebu dan kedelai bersaing di lahan yang sama. Untuk kedelai, pemerintah akan membuka perkebunan kedelai seluas 1.000 hektare (ha) di Kabupaten Halmahera Selatan.

Selama ini Jawa Tmur menjadi pusat produksi kedelai di Indonesia. Padahal, daerah di Maluku, khususnya Halmahera Selatan, sangat cocok ditanami kedelai. Dalam hitungan Kementan, dengan luas lahan 200 ha, dan produksi sebesar 1,2 ton per ha, maka kedelai yang dihasilkan mencapai 240 ton untuk satu kali panen atau sekitar 480 ton per tahun.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: