Coba Mendulang Untung dari Setrum

7Pengusaha batubara harus mengatur strategi untuk mengakali harga emas hitam yang masih belum juga beranjak naik, Rabu lalu (29/7), harga kontrak bulanan batubara Newcastle untuk pengiriman Agustus berada di US$ 58,45 per ton. Padahal, pekan sebelumnya harga batubara masih berada di atas US$ 59 per ton.

Rendahnya harga batubara ini diperparah dengan turunnya permintaan akibat perlambatan ekonomi global. Alhasil, volume penjualan batubara pun ikut merosot.

Berdasarkan laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), volume ekspor batubara Indonesia kuartal satu lalu turun 6,9% dibanding tahun sebelumnya. Sekadar info, porsi ekspor batubara pada total ekspor non migas Indonesia di kuartal satu lalu sekitar 13,7%.

Penurunan ekspor batubara terbesar tercatat dalam pengiriman ke China. Penurunan ekspor emas hitam ke negeri tirai bambu ini turun sekitar 36,4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selain karena perlambatan ekonomi, permintaan batubara dari China turun karena negara tersebut berniat mengurangi penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Karena itu, produsen batubara di Indonesia pun harus memutar otak agar kondisi mereka tetap aman, selagi menghadapi mengatasi penurunan harga dan permintaan tersebut. Sejumlah perusahaan batubara memilih melakukan ekstensifikasi bisnis dengan masuk ke Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ada lebih dari lima perusahaan batubara yang menyampaikan kesediaannya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di beberapa wilayah.

Para produsen batubara ini berharap bisa mendapat nilai tambah dengan menjual daya listrik yang dihasilkan pembangkit kepada PLN, ketimbang menjual batubara tersebut dalam bentuk mentah.

Banyak kendala

Meski begitu, para emiten tambang yang bermaksud melebarkan bisnis ini juga bakal menghadapi beberapa kesulitan. Misalnya mereka harus menyediakan modal yang tidak sedikit. Belum lagi permasalahan izin. Alih-alih memperoleh cara untuk memanfaatkan pasokan yang berlebih, emiten malah bisa menghadapi kendala dalam proses pembangunan PLTU itu sendiri.

Karena itu, secara umum, para analis menyarankan saat ini investor sebaiknya menghindari saham-saham batubara. Lebih lagi, “Tidak ada jaminan permintaan batubara akan pulih dalam waktu dekat,” jelas David Nathanael Sutyanto, analis First Asia Capital.

David juga menyebut langkah emiten tambang batubara masuk ke bisnis pembangkit listrik masih belum teruji. “Potensi pendapatan dari bisnis pembangkit ini kan, belum kelihatan,” kata dia.

Berikut ulasan analis atas emiten produsen batubara.

KNUTSFORD, UNITED KINGDOM - NOVEMBER 24:  Coal waits to be delivered from the yard of traditional coalman Ernie Lockett to homes for winter heating in Northwich on November 24, 2008 in Cheshire, England. Ernie, aged 64, has been a coalman since he was 15 and works alone on his Cheshire delivery round. Coal has seen a resurgence in use as other fuels, such as oil have seen a price increase and the fashion for solid fuel stoves has risen.  (Photo by Christopher Furlong/Getty Images)

PTBA

Hampir semua perusahaan batubara dihantui harga yang belum beranjak naik, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga tak bisa mengelak dari hal itu. Pada medio pertama 2015, PTBA menjual 9,03 juta ton batubara, hanya naik 2% ketimbang penjualan di periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 8,83 juta ton.

Sekretaris Perusahaan PTBA Joko Pramono mengatakan, realisasi penjualan batubara sampai saat ini masih sejalan dengan target. Hingga akhir 2015, PTBA menargetkan penjualan 24 juta ton batubara atau naik 33% dari volume penjualan tahun lalu. “Di tengah tekanan harga jual, perseroan tetap melakukan pengembangan pasar di beberapa negara,” ujar Joko.

PTBA juga masih bisa mencatatkan kenaikan pendapatan, walaupun tipis. Selama semester satu 2015 lalu, pendapatan mereka tercatat Rp 6,51 triliun, atau naik sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,43 triliun.

Namun PTBA tak mau hanya berdiam diri menunggu harga batubara membaik. Belakangan, mereka makin gencar mengembangkan bisnis pembangkit listriknya. “Kami sudah mulai pembangunan PLTU semenjak 2006 yaitu PLTU Banjarsari. Hanya saja setelah itu ada krisis ekonomi, jadi terhambat. Sehingga baru Mei kemarin kammi bisa mengoperasikan PLTU 2×110 MW itu,” jelas Joko.

Kepemilikan PTBA di pembangkit listrik tersebut didapatkan melalui konsorsium PT. Bukit Pembangkit Innovatif. Selain itu, perusahaan pelat merah ini juga merupakan pemasok tunggal bahan bakar, dengan pasokan 1,4 juta ton per tahun.

PTBA juga tengah menggarap PLTU Banko Tengah dengan kapasitas 2×620 MW. Pembangunn konstruksi dijadwalkan dimulai pada semester dua ini dan siap beroperasi komersial pada 2019 mendatang. Joko bilang, kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik ini adalah 5,4 juta ton per tahun.

Manajemen PTBA belum bisa menghitung kontribusi bisnis pembangkit listrik ke pendapatan. “Bisnis ini baru beroperasi semester satu lalu, sehingga belum berdampak signifikan,” kata Joko. Ia memperkirakan kontribusi pembangkit listrik akan mulai terasa pada tahun 2019 mendatang. Karena kebutuhan bakan bakar pembangkit besar, maka bakal ada peningkatan penjualan batubara.

Analis Ciptadana Sekuritas Andre Varian juga melihat bisnis pembangkit listrik ini akan mendorong volume penjualan PTBA. “Apalagi kalau harga yang diberikan PLN bagus,” kata Andre.

Meski mencetak kenaikan pendapatan, laba bersih Bukit Asam masih tertekan. Joko menyebut, di kuartal dua sejatinya Bukit Asam bisa mencetak laba bersih sekitar Rp 450 miliar, naik dari laba bersih kuartal satu. Meski begitu, total laba bersih semester satu Cuma Rp 795,17 miliar, turun dari Rp 1,16 triliun tahun sebelumnya.

Toh, analis menilai kinerja PTBA masih cukup baik. Andre merekomendasiikan beli saham PTBA dengan target harga saham Rp 7.700 per saham.

Analis Sucorinvest Central Gani Andy Wibowo Gunawan juga merekomendasikan beli PTBA. Ia bahkan mematok target harga di Rp 11.150 per saham. Kamis lalu (30/7), harga PTBA masih berada di Rp 6.200 per saham.

6ADRO

PT Adro Energy Tbk rupanya juga sedang bersemangat melakukan ekspansi. Perusahaan yang melantai di bursa dengan kode ADRO ini membidik banyak proyek pembangkit listrik. Adaro membuka peluang untuk mengikuti tender proyek PLTU Jawa 5 yang berkapasitas 2×1.500 MW. Proyek ini akan berlokasi di Banten.

Selain itu, Adaro juga mulai mengerjakan proyek PLTU Batang berkapasitas 2×1000 MW di Jawa Tengah.

Di proyek pembangkit listrik ini, Adaro berperan sebagai operator independent power producer (IPP). Tentulah, Adaro juga menjadi pemasok batubara di pembangkit tersebut.

Kabarnya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah menetapkan Adaro sebagai salah satu perusahaan yang lolos pra kualifikasi tender proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 9 berkapasitas 2×600 MW dan PLTU Mulut Tambang Sumsel 10 berkapasitas 1×600 MW.

Selain menggenjot proyek pembangkit listrik di Pulau Jawa, Adaro juga membidik proyek PLTU di Tabalong, Kalimantan Selatan. Pembangkit listrik tersebut akan memiliki kapasitas 2×100 MW. Nilai proyek ini mencapai US$ 450 juta hingga US$ 560 juta, yang diharapkan bisa tuntas tahun ini.

Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thorir menyatakan, perusahaannya memang berencana mengoperasikan pembangkit dalam lima tahun, baik sendiri maupun melalui konsorsium. “Kalau Adaro sendiri bisa 3.000 MW, tambah dengan konsorsium 5.000 MW. Total kapasitasnya 8.000 MW,” ungkap dia.

Andy memprediksi dampak dari diversifikasi bisnis ini bisa mendongkrak pendapatan Adaro. “Mereka bisa menjual batubara langsung,” kata Andy. Namun, pembangunan pembangkit listrik butuh waktu hingga dua tahun, dan dampaknya baru bisa dirasakan lima tahun semenjak pembangunannya.

Sebagai pemula di bisnis pembangkit listrik, Andre melihat bahwa Adaro berpotensi menghadapi kendala saat merintis bisnis ini, antara lain dari pengadaan modal serta dari sisi pembebasan lahan. “Biasanya hal yang dihadapi adalah dari sisi pengadaan modal. Kalaupun dapat modal biasanya pinjaman luar negeri dan berbasis dollar AS. Padahal kondisi ekonomi Indonesia sedang seperti ini,” kata Andre Varian.

Jika menengok laporan keuangan kuartal satu lalu, pendapatan perseroan ini mengalami penurunan. Kuartal I 2015, pendapatan Adaro tercatat sebesar US$ 710,95 juta, sedangkan di tahun sebelumnya mencapai US$ 844,7 juta.

Laba bersih juga mengalami penurunan. Pada kuartal satu 2015 laba bersih hanya tercatat US$ 57,47 juta. Padahal tahun 2014 mencapai US$ 132,91 juta.

Andre belum bisa memberi rekomendasi untuk saham Adaro. Ia masih menunggu hasil kinerja keuangan semester satu.

Sementara Andy merekomendasikan beli ADRO dengan target harga Rp 750 per saham. Pada Kamis lalu, saham ADRO ditutup di Rp 585 per saham.

MYOH

Perusahaan batubara lainnya yang juga sedang merintis PLTU adalah PT Samindo Resources Tbk (MYOH). Perusahaan ini berharap bisa memperoleh lebih besar lagi pendapatan dengan masuk ke bisnis baru.

Maklum saja, pendapatan mereka selama kuartal I 2015 kurang menggembirakan. MYOH hanya mencatatkan pendapatan US$ 55,99 juta atau turun 11,52% dibandingkan dengan periode yang sama 2014 yang tercatat US$ 63,28 juta.

Laba MYOH juga turun tipis triwulan I lalu. Pada Januari hingga Maret 2015, laba perusahaan tercatat US$ 11,08 juta, sedangkan di tahun sebelumnya tercatat US$ 11,64 juta.

Nah, rencananya Samindo bakal masuk bisnis kelistrikan yang memiliki potensi besar di masa datang. Sekretaris Perusahaan Samindo Hananto Wibowo mengatakan, hingga kini perusahaannya sedang melakukan riset mendalam. “Masih dihitung dan dilihat hambatan yang akan dialami seperti apa,” katanya. Namun, pada dasarnya Hananto percaya bahwa batubara memang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Indonesia.

Rencananya, Samindo akan membangun PLTU dengan kapasitas di bawah 100 MW. Jika rencana tersebut diwujudkan, maka Samindo akan membangun dengan dana sendiri. Namun, jika harus membangun PLTU dengan kapasitas lebih dari 100 MW, maka mereka akan mencari partner.

Kepala Riset NH Korindo Reza Priyambada mengatakan bahwa upaya Samindo untuk membangun pembangkit listrik tergolong bagus. “Samindo tidak bisa hanya mengandalkan bisnis batubaranya saja jika inging bertahan. Bagus kalau perusahaan ini masuk ke bisnis pembangkit listrik,” kata Reza.

Tentu saja, Samindo harus punya target konsumen yang pasti terlebih dahulu. Selain itu, permodalan perusahaan harus kuat. Pasalnya investasi untuk bisnis ini termasuk besar.

Dengan mempertimbangkan fundamental perseroan ini, Reza merekomendasikan tahan untuk saham MYOH. Ia mematok target harga untuk saham ini di Rp 520 per saham. Pada penutupan Kamis (30/7) lalu, harga saham Samindo sudah mencapai Rp 505 per saham.

Tampaknya bisnis batubara masih butuh waktu lama untuk kembali jaya.

 

Sumber: Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com

 



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: