JAKARTA. Di tengah murahnya harga batubara, sejumlah produsen besar berencana memangkas produksi. Namun upaya ini belum berhasil mengerek harga si hitam yang sudah terpuruk sejak beberapa tahun terakhir.
Produsen besar di Afrika Selatan seperti Lonmin Plc, Anglo American Plc, dan Scaw Metals Group berencana mengurangi produksi dan memangkas 10.000 tenaga kerja. Namun, upaya tersebut ditentang Presiden Afrika Selatan Jacon Zuma, lantaran bertentangan dengan target penambahan lapangan kerja.
Perdebatan soal pemangkasan produksi batubara di Afrika Selatan berdampak pada pergerakan harga. Mengutip Bloomberg, Jumat (7/8), harga batubara pengiriman Agustus 2015 di Bursa ICE Commodity Exchange turun 0,75% dari hari sebelumnya menjadi US$ 59,90 per metrik ton dibanding hari sebelumnya.
Kendati begitu, harga naik 1,78% dalam sepekan. Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures memaparkan, produksi batubara memang perlu dipangkas karena permintaan turun. Maklum, jika harga terus menurun, banyak perusahaan batubara yang merugi hingga bangkrut. “Hal tersebut akan menekan ekonomi sehingga semakin menekan harga komoditas,” paparnya.
Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menambahkan, tak hanya produsen besar Afrika Selatan yang terancam dengan penurunan harga batubara. “Tambang batubara Sumitomo Jepang dan Vale Brasil di Australia yang bernilai produksi US$ 600 juta sekarang dijual dengan harga di bawah AS$ 1 dollar,” kata dia.
Namun harga batubara masih sulit bangkit. Wahyu memperkirakan, harga bisa semakin buruk jika dollar Amerika Serikat (AS) menguat di tengah spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Di sisi lain, permintaan batubara dari China berkurang akibat perlambatan ekonomi.
Deddy juga menyebut permintaan batubara China yang merosot menjadi penyebab jatuhnya harga. “Dalam tujuh bulan terakhir, impor batubara hanya 121 juta ton, turun 34,1%,” kata Deddy. Ia menduga harga batubara bisa menembus di bawah US$ 55 per metrik ton di akhir tahun ini. Harga memang berpotensi rebound pada musim dingin di Eropa dan AS, tapi hanya kenaikan sementara.
Isu lingkungan
Batubara kian terpuruk akibat isu lingkungan, mengingat penggunaan komoditas ini dapat mencemari lingkungan. Harga batubara juga mengekor harga minyak mentah dunia yang terus melorot.
Wahyu memaparkan, isu lingkungan menekan batubara sejak 2011. Sementara pelemahan harga minyak terjadi sejak 2013. Sekedar mengingatkan, harga batubara pada tahun 2011 sempat mencapai US$ 140 per metrik ton.
Secara teknikal Deddy memaparkan, harga berada di atas moving average (MA) 50. MACD berada di area positif 0,25. RSI berada di area 58, sementara stochastic berada di area 60. Dalam jangka pendek, indikator teknikal memberi sinyal beli. “Itu suatu hal yang wajar karena baru Jumat lalu koreksi,” tambah Deddy.
Pada Selasa (11/8), Deddy menebak harga batubara bergerak di US$ 59,00-US$ 60,00. Sepekan ke depan, batubara turun ke US$ 57,80-US$ 60,10. Sedangkan Wahyu memprediksi harga batubara sepekan ke depan bearish di US$ 56- US$ 63 per metrik ton.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar