Pada tahun ini, pendapatan dan laba bersih emiten farmasi bisa tergerus hingga 7%
JAKARTA. Otot rupiah diprediksi masih lemas hingga akhir tahun ini. Kondisi tersebut menyebabkan emiten farmasi pesimistis terhadap pencapaian target kinerja.
Salah satu emiten farmasi, PT Indofarma Tbk (INAF), tak yakin terhadap proyeksi keuntungan tahun 2015. “Laba turun sedikit dari prediksi,” kata Yasser Arafat, Sekretaris Perusahaan INAF, kepada KONTAN, Kamis (17/9) lalu.
Semula, manajemen INAF menargetkan laba bersih tahun ini Rp 33 miliar. Lantaran perekonomian tak menentu, INAF menurunkan proyeksi laba menjadi Rp 25 miliar. Yasser memastikan, INAF tak mengubah Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), melainkan hanya menurunkan estimasi dasar.
INAF merasa, beban cenderung meningkat, terutama nilai tukar rupiah terus melemah. Meski begitu, fluktuasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dinilai tak akan mempengaruhi penjualan. INAF tetap optimistis, target penjualan tahun, yakni Rp 1,7 triliun akan terpenuhi.
Tapi, karena margin menipis INAF berharap, ada kenaikan harga jual. Yasser bilang, INAF telah mengusulkan kenaikan harga jual obat generik antara 20% – 30%. Kenaikan harga ini tinggal menunggu keputusan Kementerian Kesehatan.
Usulan kenaikan harga itu lebih tinggi ketimbang keinginan awal. Semula INAF mengusulkan kenaikan harga jual 10% 15%. Persentase itu memperhitungkan kurs rupiah di posisi Rp 13.500 per dollar AS. Dengan rupiah sudah menembus Rp 14.000, INAF mengerek usulan kenaikan harga jual obat generik.
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga merasakan efek pelemahan rupiah. Direktur Keuangan KLBF Vidjongtius menilai, koreksi rupiah dapat menurunkan rasio margin laba KLBF sebesar 1% – 2%. Sebelumnya, dia pernah menyebut, setiap pelemahan rupiah sebesar 10% membuat biaya produksi kesehatan KLBF naik 3,5%.
Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menilai, kinerja emiten farmasi akan tertekan hingga akhir 2015. “Biaya bahan baku naik karena mereka banyak impor,” kata dia.
Kiswoyo memperkirakan, pendapatan industri farmasi akan terkikis 3% – 5%. Lantaran kenaikan beban bahan baku, laba bisa turun antara 5% – 7% di tahun ini. Dia menilai, emiten tak bisa menggerek harga jual terlalu tinggi. Dengan melemahnya daya beli masyarakat, penjualan emiten farmasi turut terancam.
Sumber: KONTAN
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar