METODE TRANSAKSI TUNAI

tax1Setelah membahas secara umum mengenai metode-metode pemeriksaan pajak, selanjutnya kita akan membahas metode-metode tersebut secara lebih mendetail. Seperti yang telah dibahas sebelumnya,    metode tidak langsung dalam pemeriksaan adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan melakukan pengujian atas kebenaran angka-angka dalam SPT, yang dilakukan secara tidak langsung melalui suatu pendekatan penghitungan tertentu mengenai penghasilan dan biaya. Hasil penghitungan metode ini merupakan petunjuk untuk mengambil kesimpulan tentang ketidakbenaran angka-angka dalam SPT sehingga masih diperlukan pembuktian yang valid dan absah untuk membuktikan ketidakbenaran tersebut.

Salah satu metode tidak langsung yang akan kita bahas pada artikel kali ini adalah metode transaksi tunai. Metode ini merupakan salah satu metode pemeriksaan tidak langsung yang digunakan oleh pemeriksa dalam menguji kepatuhan Wajib Pajak. Metode transaksi tunai menghitung seluruh penerimaan dan pengeluaran untuk menentukan Penghasilan Kena Pajak. Dalam pencatatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak, semua penghasilan dicatat di sisi debit dan pengeluaran dicatat di sisi kredit, termasuk penghasilan-penghasilan yang bukan merupakan objek pajak dan pengeluaran-pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Menurut SE-65/PJ/2013, contoh perkiraan yang harus diperhatikan dalam metode transaksi tunai adalah sebagai berikut.

DEBIT KREDIT

a. Kas/bank pada awal tahun

b. Penerimaan bruto (SPT) termasuk upah bruto*) (sebelum dipotong PPh Pasal 21)

c. Sewa yang diterima (bruto)*) dan penghasilan-penghasilan lain

d. Bunga yang diterima dan dividen (bruto)*)

e. Penerimaan pinjaman

a.  Biaya-biaya usaha (tidak termasuk biaya penyusutan dan/atau amortisasi)

b. Biaya sewa (tidak termasuk sewa dibayar di muka)

c.  Biaya bunga (tidak termasuk bunga dibayar di muka)

d. Biaya-biaya keperluan pribadi

e.  Pembelian aktiva

f.  Pelunasan pinjaman

g. Kas/bank pada akhir tahun

*) Untuk dipastikan dalam hal Wajib Pajak mencatat dalam jumlah neto

Apabila jumlah pada sisi pengeluaran melebihi jumlah pada sisi penghasilan, selisihnya merupakan penghasilan bruto Wajib Pajak yang perlu dipastikan apakah penghasilan tersebut telah dilaporkan atau tidak. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat pengeluaran yang terlalu besar, akan tetapi keadaan ini wajar terjadi pada perusahaan yang baru berdiri. Namun apabila jumlah pada sisi penghasilan melebihi jumlah pada sisi pengeluaran, diperlukan keyakinan yang lebih mendalam karena ada kemungkinan Wajib Pajak tidak melaporkan seluruh pengeluarannya.

Dalam satu tahun pajak yang bersangkutan, pengeluaran dan penerimaan tunai Wajib Pajak sendiri biasanya dapat diketahui melalui:

  1. data SPT;
  2. data bukti pemotongan/pemungutan PPh pihak lain;
  3. data rekening bank dan buku kas; dan/atau
  4. wawancara dengan Wajib Pajak.

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Pemeriksaan Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 reply

  1. termakasih infonya, sangat bermanfaat ,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: