Ketimpangan Ekonomi RI Makin Tinggi

23JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi di Tanah Air selama 10 tahun terakhir nyatanya hanya dinikmati oleh sebagian kecil rakyat Indonesia. Laporan Bank Dunia (World Bank) menunjukkan, sebagian besar masyarakat Indonesia hidup miskin dan tertinggal.

Setelah pulih dari krisis keunagan tahun 1997-1998, produk domestic bruto (PDB) riil per kapita Indonesia tumbuh rata-rata 5,4% per tahun selama rentang waktu 2000-2014. Pertumbuhan tersebut membantu banyak orang keluar dari kemiskinan, sehingga angka kemiskinan berkurang dari 24% saat terjadi krisis menjadi 11% pada 2014. Pertumbuhan ekonomi juga telah membantu menciptakan kelas menengah yang lebih kuat.

Laporan Bank Dunia juga menunjukkan, pada periode itu terdapat 18% penduduk Indonesia masuk ke golongan kaya atau sebanyak 45 juta orang. Mereka mapan secara ekonomi dan menikmati kualitas hidup yang lebih tinggi. Segmen ini berkembang paling pesat dengan peningkatan 10% per tahun sejak 2002.

Namun, di sisi lain, ada peningkatan ketimpangan ekonomi di Indonesia. Jika pada tahun 2002, 10% warga terkaya Indonesia mengonsumsi sama banyaknya dengan total konsumsi 42% warga termiskin, pada tahun 2014, 10% warga kaya itu mengonsumsi sama banyaknya dengan 54% warga termiskin.

Ketimpangan juga ditunjukkan dengan kenaikan rasio gini. Pada 2000, rasio gini Indonesia sebesar 30, meningkat menjadi 41 pada 2014. Angka tersebut bahkan merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat. Kenaikannya juga lebih cepat dibandingkan dengan sebagian besar negara lain termasuk China dan India.”Rasio gini 40 sama seperti Uganda, Pantai Gading, dan lebih buruk dari India, “kata Kepala Perwakilan Bank Dunai di Indonesia, Rodrigo Chaves, Selasa (8/12).

Menurut Rodrigo, Indonesia berisiko mengalami pertumbuhan yang lebih lambat serta konflik social apabila terlalu banyak masyarakat Indonesia masih tertinggal atau miskin.

Senior Economist Bank Dunia Vivi Alatas menyebut, ada empat pendorong utama ketimpangan ekonomi di Indonesia. Pertama, ketimpangan peluang. Anak-anak miskin tidak memiliki kesempatan awal yang adil sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk sukses di masa depan.

Kedua, pekerjaan yang tidak merata. Pasar tenaga kerja dengan keterampilan tinggi upahnya meningkat, namun pekerja yang tidak memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas dan upah rendah. Ketiga, tingginya konsentrasi kekayaan karena ada segelintir orang yang meraup keuntungan lewat kepemilikan aset keuangan dari hasil korupsi.

Keempat, ketahanan ekonomi yang rendah. Gejolak ekonomi, kesehatan, social, dan politik serta bencana alam mengikis kemampuan rumah tangga menghasilkan pendapatan dan menabung serta berinvestasi pada kesehatan dan pendidikan.

World Bank melihat, lebarnya ketimpangan akanberkontribusi kepada pelambatan ekonomi ke depan. Dengan besarnya masyarakat berpenghasilan rendah, tingkat konsumsi juga rendah.

Bank Dunia merekomendasikan empat upaya untuk mengatasi ketimpangan. Yaitu, memperbaiki pelayanan public didaerah, menciptakan lapangan kerja dan peluang serta melatih keterampilan tenaga kerja. Lalu memastikan perlindungan masyarakat dan menggunakan anggaran mengurangi ketimpangan.

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo mengklaim pemerintah telah berupaya mengatasi situasi ini dengan bantuan social dan insentif industry padat karya dan kredit Usaha Rakyat.

 

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: