Dengan Alasan Jaga Stok, Impor Pangan Digenjot

16

Jakarta. Dengan alasan tak mau kecolongan lagi dalam menyediakan pasokan pangan yang cukup, awal tahun ini pemerintah telah bersiap mengimpor sejumlah komoditas pangan. Bahkan, pemerintah telah menetapkan kuota impor jagung, daging sapi dan gula Kristal putih. Impor ini dilakukan agar harga pangan bagi masyarakat tak naik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, pasokan beberapa komoditas pangan di tahun ini terancam kurang. Sebab, total konsumsi beberapa bahan pangan telah melebihi pasokan.

Daging sapi misalnya, data pemerintah menyebutkan, total konsumsi daging pada 2016 mencapai 675.000 ton. Sementara, produksi daging nasional tahun ini hanya sekitar 416.000 ton. Alhasil, pemerintah harus mengimpor untuk memenuhi pasokan. “Perkiraannya impor daging sapi 239.000 ton,” kata Darmin, Kamis (31/12).

Tahun 2016 ini pemerintah berencana mengimpor 600.000 ekor sapi bakalan dan sekitar 50.000 ton – 60.000 ton daging sapi. Tapi, pemerintah baru memutuskan kuota impor sapi kuartal I-2016 sebanyak 200.000 ekor dan 150.000 ekor di kuartal II-2016.

Pemerintah juga akan mengimpor jagung dan gula Kristal putih. Menurut Darmin, pemerintah telah menetapkan kuota impor jagung 600.000 ton untuk kuartal I-2016. “Kami tidak ingin masalah yang terjadi di kuartal IV-2015 di mana ada keinginan menahan impor jagung, tapi akibatnya pasokan kurang dan harga malah naik. Itu justru berdampak pada kenaikan harga telur dan daging ayam, jelasnya.

Sedangkan untuk gula konsumsi, rencananya pemerintah akan mengimpor 200.000 ton di tahun ini

Waktu Harus Tepat

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor Hermanto Siregar bilang, kebijakan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan memang perlu karena Indonesia belum swasembada. Tapi, pemerintah perlu mengatur waktu masuknya impor pangan agar tak bersamaan dengan musim panen yang justru membuat harga produk lokal anjlok. “Dalam jangka menengah, pemerintah harus meningkatkan produksi nasional, seperti meningkatkan rendemen tebu agar efisien,” katanya.

Tapi, Ekonom Univesitas Indonesia Berly Martawardaya meragukan efektifitas penerapan kuota impor pangan untuk meredam kenaikan harga komoditas pangan. Sebab, sistem kuota ini tergantung dengan ketepatan perhitungan antara perkiraan produksi dan konsumsi. Jika konsumsi lebih tinggi dari pasokan, harga tetap akan naik

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: