
KEKHAWATIRAN perlambatan ekonomi China menjadi momok menakutkan bagi industri manufaktur di Indonesia. Merujuk survey Bloomberg, pertumbuhan ekonomi China tahun ini diperkirakan turun menjadi 6,5% ketimbang tahun-tahun sebelumnya ada di atas 7%.
Ketika ekonomi China melambat, daya beli di Negeri Tirai Bambu tersebut akan turun. Jika ini terjadi, pelaku industri manufaktur di China akan mencari peluang pasar baru, yaitu ekspor ke luar China, salah satunya adalah Indonesia.
Inilah yang menjadi ancama bagi industri manufaktur di Indonesia. Apalagi, Indonesia telah memiliki kerjasama perdagangan bebas dengan China lewat Asean- China Free Trade Area (ACFTA). Dengan kerjasama ini, produk industry dari China bisa melenggang masuk ke Indonesia.
Salah satu sektor industri yang rawan dengan gempuran produk China adalah keramik. Untuk diketahui, sejak zaman baheula, keramik dari China terkenal lebih berkualitas ketimbang produk keramik negara lain. “Impor keramik dari China kami perkirakan bakal melonjak,” kata Hendrata Atmoko Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Keramik dan Aneka Industri (Asaki) kepada KONTAN, Selasa (5/1).
Untuk diketahui, produk keramik China dijual lebih murah karena kapasitas produksi disana lebih besar, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien. Karena harga murah inilah, produk keramik China leluasa ekspor ke banyak negara.
Sampai akhir tahun 2015, Asaki mengindikasikan jumlah impor keramik dari China sudah mencapai dua kali lipat dari kapasitas produksi keramik Indonesia yang mencapai 18 juta meter persegi (m2) per tahun.
Agar impor keramik tak membesar, Hendrata berharap pemerintah memperketat impor dengan membatasi pintu masuk keramik dari China, hanya lewat pelabuhan Medan, Makassar dan Jakarta. “Selama ini, impor keramik bisa dilakukan di semua pelabuhan,” katanya.
Untuk diketahui, industry keramik saat ini baru bisa bernafas lega karena pemerintah memberlakukan tarif listrik murah di malam hari, penurunan bahan bakar minyak (BBM) dan penurunan harga gas. “Industri baru mau bangkit, cuma ada ancaman baru yang menghantui,” kata Hendrata.
Adapun tahun lalu, industri keramik Indonesia melaporkan penurunan penjualan. Sebagian pelaku industri telah mengurangi produksi, bahkan sebagian lagi ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kekhawatiran akan serbuan produk keramik dari China ini juga menjadi kegelisahan Vincentius Corporate Secretary PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk. “Direktur kami baru akan melakukan pertemuan dengan asosiasi keramik untuk membahas hal ini,” kat Vincentius kepada KONTAN, Selasa (5/1).
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar