
Menteri Pertanian menyebut : ada enam perusahaan beras skala besar yang bersekongkol melakukan kartel beras
JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) serius menelisik pasokan beras yang mengguyur pasar belakangan ini. Betapa tidak, saat musim paceklik yang biasa terjadi di Februari 2016 dengan ditandai menipisnya pasokan beras di pasar, fakta yang terjadi justru sebaliknya.
Beras mengguyur di pasar saat harga tinggi. Ini mencuatkan dugaan adanya permainan yang dilakukan sejumlah perusahaan penghasil beras di Indonesia dalam mengatur pasokan beras.
“Ada dugaan kuat adanya permainan mafia dibalik kelangkaan dan mahalnya harga beras,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kepada tiga media, termasuk KONTAN, kemarin.
Para mafia ini sengaja mengguyur beras demi meraih keuntungan harga yang sedang melambung.
Amran menduga, ada enam perusahaan beras skala besar yang bersekongkol melakukan kartel beras. “Mereka sengaja menyembunyikan pasokan beras hasil panen, saat masyarakat mau mati kekurangan makanan, baru dikeluarkan pasokannya,” tandas Mentan, Senin (22/2).
Amran mengatakan, keenam pemain besar di bisnis beras itu tengah diselidiki oleh Komisi Pengawas Pesaingan Usaha (KPPU). Namun, Mentan tidak ingin kasus ini berhenti sampai di KPPU. Ia menilai, perbuatan perusahaan beras tersebut sudah masuk kategori kejahatan.
Menurut Amran, kementeriannya sudah berusaha keras mendorong kenaikan produksi beras. Namun, para pengusaha beras ini justru menimbun pasokan untuk mencari untung di luar batas kewajaran. Maka itu, Amran juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan kepolisian serta kejaksaan ikut mengusut masalah ini.
Sayangnya, Mentan enggan menyebutkan perusahaan beras yang diduga sepakat mengerem pasokan beras saat musim El Nino berlalu. Namun, ia bilang, pemain utama di bisnis beras tak banyak. Mereka itu pula yang diduga sengaja menahan pasokan untuk mencari keuntungan. Akibatnya, masyarakat kekurangan beras dan harus membeli beras dengan harga tinggi.
Amran mengatakan, data empiris Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemtan soal pangan yang sempat diragukan terbantahkan dengan tingginya pasokan beras di musim paceklik ini. Karena itu, ia berjanji akan memburu para pelaku usaha yang berperilaku seperti mafia ini untuk diadili.
Harga beras turun
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Kemtan Suwandi menambahkan, KPPU dan KPK telah turun tangan mengawasi dan menyelidiki dugaan kartel ini.
Dugaan ini mencuat lantaran baru berakhir musim paceklik, namun di tujuh sentra pasar beras, terjadi pemasukan beras secara besar-besaran. “Sehingga stok beras di pasar melimpah,” tuturnya.
Suwandi bilang, harga beras minggu pertama Februari Rp 13.344 per kg dan di minggu kedua turun menjadi Rp 7.500-10.000 per kg.
Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) pada 9 Februari 2016 sebanyak 52.383 ton, naik dua kali dibanding periode sama Februari 2015 yang sebanyak 29.458 ton.
Demikian juga stok beras naik 100% di enam pasar sentra beras lainnya. Yakni, di Pasar Tanah Tinggi Tangerang, Pasar Johar Karawang, Caringin Bandung, Dargo Semarang, Beringharjo Yogyakarta dan Pasar Lamongan Surabaya.
Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan, pihaknya terus melanjutkan penyelidikan dugaan kartel beras. KPPU telah menemukan sejumlah indikasi kuat terkait dugaan permainan di balik harga beras yang tinggi dan pasokan yang tiba-tiba berkurang. ”Kami masih menyelidiki,” ujarnya.
Sumber: Kontan
http://www.pemeriksaanpajak.com
pajak@pemeriksaanpajak.com
Kategori:Berita Pajak
Tinggalkan komentar