Minim Stimulus dari Beleid Anggaran Baru

JAKARTA – Pemerintah akan merombak total wajah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2016. Rancangan beleid APBNP 2016 menyiratkan ekonomi Indonesia kembali memasuki masa rawan bin riskan.

Secara umum, rancangan beleid revisi anggaran ini menyisakan sejumlah catatan. Misalnya, pemerintah ampak ambisius mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Itu sebabnya, target pertumbuhan ekonmi pada tahun ini dalam RAPBNP 2016 tidak diubah.

Namun di sisi lain, target tersebut tak diimbangi dengan ketersediaan dana yang cukup. Bahkan pemerintah akan memangkas anggaran belanja sebesar Rp 50 trliun. Toh, “Penghematan ini tidak menganggu proyek infrastruktur,” kata Basuki Hadimuljono, Menteri Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat, kemarin.

Pemangkasan anggaran itu mengimbangi seretnya pendapatan Negara. Faktor utamanya ialah pelemahan harga komoditas, utamanya harga minyak mentah. Akibatnya, potensi penurunan pajak penghasil (PPh) minyak dan gas bumi (migas) turun Rp 17 triliun, penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) sector migas juga merosot Rp 50,6 triliun. Saat bersamaan, PNPB non miga juga turun Rp 25 triliun.

Oleh karena itu, pemerinth juga menurunkan target penerimaan Negara Rp 92,6 triliun dari APBN 2016 menjadi Rp 2.045 triliun. Kalkulasi Kementerian Keuangan, deficit anggaran naik dari 2,3% menjadi sekitar 2,5% dari produk domestic bruto (PDB).

Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro menyatakan, total kebutuhan dana baru untuk menambal kenaikan deficit mencapai Rp 40 triliun. Ada dua sumber yang digadang, yakni, dari kelebihan kas dan utang baru. Targetnya, dari kelebihan kas tahun lalu Rp 19 triliun. Sementara, “Utang baru untuk menutupi deficit anggaran sekitar Rp 21 triliun,” kata Bambang.

Pemerintah juga berupaya menambah pendapatan Negara lewat pengampunan pajak guna membiayai anggaran, termasuk belanja infrastruktut. “Salah satu yang paling penting adalah penerapan tax amnesty,” kata Bambang.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui postur anggaran tebaru 2016 berisiko di sisi penerimaan. “Target penerimaan pajak memang perlu diturunkan, tapi Anda bisa hitung sendiri,” kata Darmin, kepada KONTAN, kemarin.

Mohammad Faisal, ekonom CORE Indonesia pesimistis target pertumbuhan ekonomi 5,3% dapat tercapai. Apalagi penerimaan Negara sebagai modal pembangunan masih cekak. “Dengan melihat perkembangan inflasi, perdagangan ekspor dan impor, belum ada sinyal yang kuat untuk mencapai pertumbuhan 5,3%,” kata dia.

Sumber: KONTAN

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: