Usaha Pembibitan Ayam Terancam Bangkrut

Carut-marutnya tata niaga komoditas ayam menimbulkan kerugian material bagi konsumen maupun pelaku usaha di sector ini.

Mirisnya, persoalan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun, tapi hingga sekarang belum terpecahkan. Masyarakat harus menanggung harga ayam yang mahal akibat mendadak langka di pasaran. Ribuan petani perunggasan di tanah air bangkrut seiring fluktuasi harga yang terus berulang bak roller coaster. Perusahaan besar pun teriak karena menanggung rugi ketika day old chicks (DOC) atau bibit ayam umur sehari mengalami over supply.

Kenapa bisa terjadi? Pangkalnya, pasokan DOC membengkak akibat jumlah parent stock (PS) atau induk ayam yang berlebihan. Agar harga stabil, pasokan DOC ditekan dengan cara mengurangi jumlah induk ayam lewat pemusnahan missal secara serempak. Ini yang membuat perusahaan pembibitan ayam merugi.

Pada Agustus 2015,sebanyak 6 juta bibit ayam dari 13 perusahaan besar terintegrasi harus dimusnahkan seusai perintah Kementerian Pertanian. Pasalnya, produksi ayam surplus 18 juta ekor per minggu, sedangkan kebutuhan hanya 42 juta ekor per minggu saat produksi mencapai 60 juta ekor.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Krissantono menghitung, potensi kerugian dari pemusnahan 6 juta indukan ayam tersebut mencapai Rp 700 miliar. “Sampai sekarang baru tiga juta parent stock yang dimusnahkan,” sebutnya.

Kalau bicara kerugian, memang perusahaan besar yang paling merasakannya. Cuma, perusahaan sekelas PT Charoen Pokphand, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Malindo dan lainnya, masih bisa bertahan karena mereka bisa bertahan karena mereka punya lini usaha lain. Beda halnya dengan peternak kecil yang bisa langsung gulur tikar ketika harga ayam anjlok.

Krissantono bilang, persoalan semakin pelik ketika pemusnahan missal bibit ayam ini dianggap Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai praktik kartel. “Tidak dimusnahkan bisa kena sanksi Kemtan, dimusnahkan dituding kartel karena dasar hukumnya lemah. Ini membingungkan,” keluhnya.

Menanggung rugi

Lepas dari isu kartel yang dialamatkan ke 12 perusahaan ayam besar terintegrasi, pemusnahan parent stock jadi persoalan serius yang membelit perusahaan pembibitan saat ini.

Koesbyanto Setyadharma, Direktur Japfa Comfeed Indonesia, menjelaska, perusahaannya mengalami kerugian hingga Rp 300 miliar pada 2014. Tahun lalu, jumlah kerugian berkurang jadi Rp 100 miliar. Kerugian tersebut disebabkan harga DOC di bawah rata-rata biaya pokok produksi yang mengakibatkan suplai berlebih ayam hidup di pasaran (live bird). “Namun kerugian dari unit pembibitan ayam bisa ditutupi oleh unit bisnis pakan ternak,” ungkap Koesbyanto.

Merugi lantaran pemusnahan bibit ayam juga menimpa PT Sierad Produce Tbk. Meski tidak menyebut angka pasti, Direktur Utama PT Sierad Produce Eko Putro Sandjojo memberikan ilustrasinya. Sepanjang 2015, Sierad memproduksi 100 juta DOC. Untuk seekor DOC, perusahaan harus mengeluarkan biaya Rp 4.000-Rp 4.300. Sedangkan harga jual rata-rata DOC sepanjang tahun lalu di bawah RP 3.000 per ekor. “Cukup besar. Bisa dihitung kerugian dari jumlah produksi dikali kerugian per ekor,” papar Eko.

Berbanding terbalik dengan Japfa, bisnis pembibitan ayam Sierad tahun lalu lebih jelek jika dibandingkan sebelumnya. Mereka juga rugi dari sector hilir. Pasalnya, Sierad harus mencadangkan asset rasio setelah mitra peternak mereka mengalami  gagal bayar pada saat jatuh tempo. “Mereka juga mengalami rugi besar,” dalihnya.

Agar tidak terulang lagi, Sierad telah mengantisipasi penurunan kinerja pembibitan ayam lewat penjualan asset. Pada 2014, Sierad menjual asset tanah seluas 237,28 hektare senilai Rp 430 miliar kepada Charoen. Aset tanah tersebut berada di Kecamatan Curugbitung, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak.

Belakangan Gunung Sewu Group, kelompok usaha yang dikendalikan keluarga Angkosubroto, mengambil-alih saham Sierad. Great Giant, anak usaha Gunung Sewu, telah membeli saham Sierad secara bertahap, sehingga kini kepemilikannya mencapai 50,51%.

Menurut Krissantono, perusahaan lainnya yang bergerak dalam bidang breeding farm yang mengalami kesulitan dan merugi adalah PT Reza Perkasa, PT Satwa Borneo Jaya, dan Sido Agung Agro Prima. Ia bilang, tidak semua perusahaan yang tergabung di GPPU adalah perusahaan besar, sehingga bisa jadi terdampak akibat masalah di lini pembibitan.

Sumber:  Tabloid Kontan

http://www.pemeriksaanpajak.com

pajak@pemeriksaanpajak.com



Kategori:Berita Pajak

Tag:, , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: